• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Opini

Melihat Kiprah Salah Seorang Kiai Kampung di Tulungagung

Melihat Kiprah Salah Seorang Kiai Kampung di Tulungagung
KH. Abdul Kholiq. (Foto: NU Jombang Online/Margaretha)
KH. Abdul Kholiq. (Foto: NU Jombang Online/Margaretha)

KH. Abdul Kholiq ialah seorang pengasuh Pondok Pesantren Mbah Dul, tepatnya di Kota Tulungagung Jawa Timur. Beliau mengaku bahwa basic pesantrennya ialah thoriqoh yakni Thoriqoh Naqsabandiyyah Kholidiyyah. Sejarah singkat Pondok Pesantren Mbah Dul ini didirikan oleh beliau yang bernama KH. Muntahar aslinya ialah orang Kudus. KH. Muntahar baiat di samping baiat langsung dari Jabal Qubays (Makkah) juga baiat di Mbah Yai Mbarar “Kyai Yahya”.

Pada perjalanan beliau, putranya dan penerus beliau sementara tidak bisa langsung berlanjut namun dilanjutkan oleh cucunya yang saat itu masih di Pesantren Termas. Sepulangnya dari pesantren, beliau nama kecil cucunya yakni Sumadi dengan aslinya KH. Abdul Hadi melanjutkan untuk lembaga pendidikan. Dulu bentuk pendidikannya kalong (nduduk) yakni muridnya masih pulang-pergi namun sebagian juga ada yang bermalam.

Menjelang KH. Muntahar wafat, KH. Abdul Hadi mampu meneruskan thariqohnya. Rintisan pesantren dimulai sebelum kemerdekaan dan sekarang dilanjutkan oleh putra dan cucu dari KH. Abdul Hadi dipegang oleh KH. Abdul Kholiq dan Gus Ilham. Untuk menghidupkan masyarakat sekaligus kampung yang beliau tempati maka ada beberapa kiprah berupa kegiatan yang diupayakan. Wujud pelestariannya beliau lakukan dengan membentuk pengajian setiap malam Sabtu kliwon antar masjid dan mushala. 

Selain waktu tersebut ada juga pengajian malam Jumat khusus laki-laki serta Kamis sore untuk jamaah putri. Di Kampung ini ada lembaga perguruan tinggi dan semakin bermunculan pondok-pondok. Beberapa wujud pelestarian pun mendapati kendala, misalkan kendala dari pengajian yang terkadang bertubrukkan jadwal dengan masyarakat yang punya hajad. Maka upaya yang Beliau lakukan ialah memindah (tidak harus di malam itu), tapi dari berpindah-pindah itu respons masyarakat cukup baik. Masyarakat dirasa responsive dan memberi support.

Adapun cara yang beliau lakukan agar bisa dekat dengan masyarakat dan masyarakat dapat menerima dawuh-dawuhnya ialah memenuhi undangan. Seringkali masyarakat mengundang beliau sebab ada hajat, maka semaksimal mungkin beliau datang siapapun yang mengundang. Selain itu, setiap ada jenazah diusahakan untuk takziah juga menjenguk orang yang sakit. Untuk kegiatan ada peringatan maulid Nabi “muludan” bentuk terjalinnya komunikasi dan masyarakat ikut partisipasi. Muludan dilaksanakan setiap tahun sekali tepatnya di Masjid Nurul Huda dekat ndalem Abah Kholiq. Rangkaian acara mauludan yang mungkin diminati masyarakat atau remaja adalah sambutan atau dawuh-dawuh tokoh agama. Ada juga kegiatan di mana Abah membagi-bagikan uang, selain itu juga terdapat beberapa makanan dan kebutuhan rumah tangga yang digantungkan memenuhi serambi masjid. Selain masyarakat Kampung ada juga beberapa mahasiswa dan para santri yang ikut meramaikan Maulid ini.

Selain untuk masyarakat ada juga nasihat yang beliau sampaikan untuk remaja (generasi penerus), di antaranya:

Kepekaan generasi harus betul-betul diupayakan, peka dalam arti bagaimana merespons tantangan zaman yang terus berkembang. Tidak boleh pasif harus pandai menggunakan media sosial (medsos) dipergunakan dengan jalur sepositif mungkin sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diperkenankan oleh syar’i.

Remaja bagaimanapun berpandai-pandailah menggunakan media sosial (medsos) ini untuk studi banding dalam rangka menyambut datangnya waktu yang terus berkembang.

Sebagai generasi penerus harus memiliki ruh sebab dunia ini bukan ghoyah tapi wasilah bagaimana kita lebih untuk menyongsong di sana bukan di sni. Kadang anak terjebak di sini saja enak bahkan dengan mudah mengatakan kuburan rumah masa depan. Padahal kuburan masih langkah awal besok masih ada pembangkitan, oro-oro mahsyar (proses akhirat masih panjang. Manusia kelak dibangkitkan dan dimintai tanggung jawab, makanya jangan hanya memikirkan yang di sini (tertipu), dikira garam malah upil (terjebak).

Beliau juga memberi nasihat agar Indonesia menjadi negara “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghofurun. Menghadapi situasi yang seperti ini jangan terlalu mengandalkan lahir saja. Dalam Qur’an surah Al-Mukminun ayat 23 artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah SWT, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak betaqwa (kepada-Nya)?”. Bgaimanapun setelah terbentur benturan kita harus kembali kepada Allah subhanahu wa taala, Allah akan memberi solusi atau jalan keluar. Usaha lahir seperti maskeran, cuci tangan, social distancing dan sebagainya, Covid-19 ini mahluknya Allah subhanahu wa taala. Jadi mengeluhnya juga kepada Allah SWT kalau hanya makhluk adilnya bisa dipermainkan. Pribadi-pribadi bani adam bagaimana memposisikan sebagai seorang hamba bisa pas apa belum. Bagaimana seorang hamba bisa konsisten kalau sujud sudah benar apa belum vertikal-horisontalnya atau hablum minallah wa hablum minannas

Jika benar-benar hamba Allah maka praktik kita dalam hidup, yakinlah setiap kita shalat “pekerjaan yang dimulai dari takbirotul ihrom sampai salam”. Kebesaran Allah pada lafaz Allahhu Akbar betul-betul di atas kebesaran manusia baik raja, presiden, kiai dan lain sebagainya. Kita positive thinking jangan negative thinking setelah mawas diri dan introspeksi diri, menempatkan diri agar tidak zalim. Allah SWT berjanji tidak berbuat aniyaya pada hamba-Nya, bahwa yang adil betul adalah Allah sebab adilnya manusia bisa dibelok-belokkan. Allah SWT menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya, disyukuri sebab penempatannya sesuai dengan posisi masing-masing. Bahkan perempuan dapat menstruasi (halangan) dan laki-laki tidak sudah merupakan “wujud” sebab dari sisi ibadah saja laki-laki dan perempuan sudah berbeda padahal ini baru dilihat dari satu sisi. Justru dengan perbedaan jika Allah menghendaki akan memberi petunjuk.

Allahhu a’lam.

Penulis: Margaretha, juara 4 lomba Menulis Feature PC LTNNU Jombang 


Editor:

Opini Terbaru