• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Opini

Kesempurnaan Hati Baginda Rasul Muhammad SAW

Kesempurnaan Hati Baginda Rasul Muhammad SAW
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock.com)
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock.com)

Hati manusia itu ada yang bersih, jernih, bening dan mengkilap bercahaya. Ada juga hati manusia itu yang kotor, gelap, hitam dan berkarat. Hal ini sebagaima hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dalam kitabnya “Syu’ab al Iman” dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:
     ((إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ، كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ)) قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا جِلاَؤُهَا؟ قَالَ: ((كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلاَوَةُ الْقُرْآنِ)).
     
“Sesungguhnya hati ini bisa teyengen (berkarat) sebagaimana besi berkarat ketika terkena air”. Dikatakan (ditanyakan oleh sahabat) kepadanya: “Wahai Rasulillah, apa kiranya yang bisa membersihkan hati yang berkarat itu? Beliau menjawab: 
“Memperbanyak mengingat kematian dan membaca al Quran”. 
     
Hati yang paling bersih, hati yang paling jernih, hati yang paling bening dan hati yang paling mengkilap bercahaya penuh dengan rasa kasih sayang adalah hati baginda Rasulillah Saw. Hati yang amat sempurna ini adalah hati yang menjadi sumber kekuatan dalam bertaqwa kepada Allah Swt. Hati yang selalu sadar dan terjaga karena sorotan cahaya iman dan al-Qur’an. Karenanya, sebaik-baik hati manusia, tidak lain adalah hati baginda Rasulillah Saw. 
     
Imam Ahmad bin Hambal, dalam kitabnya “Al Musnad” meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: 
     (إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا، فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ )
     
“Sesungguhnya Allah telah melihat hati seluruh hamba-Nya, maka Allah temukan hati Muhammad Saw adalah sebaik-baik hati hamba-Nya, lalu ia dijadikan hamba pilihan-Nya serta diutus menyampaikan Risalah-Nya. Setelah itu, Allah melihat hati hamba-hamba-Nya yang lain, maka ditemukan hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati hamba-Nya, lalu para sahabat itu dijadikan sebagai pembantu-pembantunya, berjuang membela agama-Nya. Oleh karenanya, apa saja yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, maka hal itu baik pula disisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh kaum Muslimin, maka hal itu buruk pula di sisi Allah”. 
     
Kebersihan, kejernihan, kebeningan dan kesucian hati baginda Rasulillah Saw yang demikian ini tidak bisa dilepaskan dari tiga peristiwa penting yang beliau alami, yaitu pembedahan dada (Syaqqu as Shadri) beliau oleh malaikat Jibril As. 
     
Diantara tiga pembedahan tersebut yaitu pada saat beliau masih dalam asuhan ibu susuannya, Halimah as Sa’diyah, sebagamana dijelaskan oleh Abu al Qasim Ahmad as Suhaili dalam kitabnya “Ar Raudl”:
     فَبَيْنَا أَنَا مَعَ أَخٍ لِي خَلْفَ بُيُوتِنَا نَرْعَى بَهْمًا لَنَا إذْ أَتَانِي رَجُلاَنِ عَلَيْهِمَا ثِيَابٌ بِيضٌ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءَةٍ ثَلْجًا، ثُمّ أَخَذَانِي فَشَقّا بَطْنِي، وَاسْتَخْرَجَا قَلْبِي، فَشَقّاهُ فَاسْتَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً سَوْدَاءَ فَطَرَحَاهَا، ثُمّ غَسَلاَ قَلْبِي وَبَطْنِي بِذَلِكَ الثّلْجِ حَتّى أَنْقَيَاهُ.
     
“Kemudian, pada suatu saat aku menggembala anak kambing dibelakang rumah bersama saudara (sesusu) ku, tiba-tiba ada dua lelaki berbaju putih mendatangiku dengan membawa baskom (yang terbuat dari) emas yang penuh berisi tsalj (air dingin ysng mrmbeku), kemudian keduanya memegangi (diriku), lalu membedah perutku dan mengeluarkan hatiku. Kemudian hati (yang telah dikeluarkan itu) mereka bedah, lalu segumpal darah hitam yang ada didalamnya mereka keluarkan, lalu mereka buang. Kemudian, hati dan perutku mereka cuci dengan tsalj tersebut hingga bersih”.

Ahmad al Qasthallani al Mishri, dalam kitabnya “Al Mawahib al Ladunniyyah” berkata sebagai berikut: “Bahwa semua riwayat tentang peristiwa pembedahan dada Rasulillah Saw dan dikeluarkannya hati beliau dan peristiwa-peristiwa lain yang ajaib, wajib kita terima tanpa mengalihkan arti yang sebenarnya (hakiki) dari padanya, karena dipandang dari sudut kekuasaan Allah Swt tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah Swt”. 
    
Rasulullah Saw telah dikaruniai Allah Swt hati yang tidak keras, hati yang lemah lembut dan hati yang penuh dengan kasih sayang, sebagaimana firman Allah Swt:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
     
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [QS. al Imram: 159]
     
Beliau juga dikaruniai hati yang bersih, hati yang bening, hati yang bercahaya,. Karenanya, beliau selalu terjaga, beliau selalu dalam kesadaran penuh berbakti menghadap kepada Allah Swt. Sedikitpun tidak pernah lalai meskipun dalam keadaan tidur. Kedua mata beliau bisa saja tidur, namun tidak demikian dengan hatinya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dalam kitab “Shahih” nya, dari Aisyah Ra, ia berkata (bertanya):
يَا رَسُولَ اللهِ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟، فَقَالَ: "يَا عَائِشَةُ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي".
     
“Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir?”. Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedangkan hatiku tetap terjaga (tidak tidur)”. Wallahu a’lam bisshawab.

KH Abdul Nashir Fattah, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang.
 


Editor:

Opini Terbaru