• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 5 Juli 2022

Nasional

JELANG MUKTAMAR KE-34 NU

Empat Kriteria Pemimpin NU menurut Gus Nadir

Empat Kriteria Pemimpin NU menurut Gus Nadir
Empat Kriteria Pemimpin NU menurut Gus Nadir. (Foto: Istimewa)
Empat Kriteria Pemimpin NU menurut Gus Nadir. (Foto: Istimewa)
Jakarta, NU Online Jombang,
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-Selandia Baru, Prof Nadirsyah Hosen menyampaikan ada kriteria ideal sosok pemimpin Nahdatul Ulama (NU) yang diambil dari 4 huruf yakni PBNU.
 
"Ada empat kriteria yang bakal pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar mendatang," kata Nadirsyah Hosen, dikutip media sosialnya, Selasa (19/10/2021).
 
Pertama, pandai membaca perubahan sosial. Menurut Gus Nadir saat ini landscape dakwah Islam juga sudah berubah. Artinya pemimpin NU harus bisa menjawab dengan kebutuhan zaman yang sekarang sudah mulai digandrungi oleh generasi milenial.
 
Kedua, bangkitkan kembali peradaban Islam. Gus Nadir mengatakan bahwa bola dunia dari lambang NU mencirikan sejak awal para pendiri NU tidak hanya menempatkan NU dalam kajian lokal saja, tetapi lebih dari itu, NU hadir untuk ruang yang lebih luas yaitu mencakup seluruh dunia.
 
"Akan tetapi peradaban Islam yang dibangun kembali oleh NU, itu bukan berarti menggusur peradaban barat sekarang. Bukan berarti menghancurkan peradaban yang ada, kemudian membangun kembali dari puing-puing kehancuran itu," jelas Gus Nadir sapaan akrabnya.
 
Lebih lanjut, peradaban Islam itu untuk merangkul dan bekerja sama dengan peradaban lainya. Peradaban dunia yang sekarang ada itu merupakan asimilasi dan akumulasi dari berbagai peradaban pada masa lampau yang semuanya saling memiliki kontribusi. 
 
"Dan kita tidak bisa mengklaim bahwa hanya kitalah satu-satunya yang berhak mewarisi dunia ini," singkatnya.
 
Ketiga, nurut apa kata masyayikh. Gus Nadir mengingatkan bahwa para masyayikh NU ketika memutuskan sesuatu bukan hanya dengan memahami teks dan konteks, akan tetapi juga dengan menggunakan pendekatan spiritual.
 
"Ini menjadi salah satu kekuatan NU dalam rangka membaca perubahan sosial, membangkitkan kembali peradaban Islam, serta berkontribusi terhadap peradaban dunia, yaitu kita juga mengikuti apa kata masyayikh," ucap dosen Monash Law School itu.
 
Keempat, berjuang untuk Indonesia. Sehebat apapun program-program yang direncanakan, semuanya harus diletakkan di dalam rumah kita bersama yaitu untuk Indonesia tercinta.
 
"Intinya siapapun yang bakal pemimpin Nahdlatul Ulama bisa pertama pandai membaca perubahan sosial, kedua bangkitkan kembali peradaban Islam, ketiga Nurut apa kata masyayikh, keempat untuk Indonesia tercinta," pungkasnya.
 
Kontributor: M Choirurrojikin
Editor: Ahmad


Nasional Terbaru