• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Senin, 15 April 2024

Daerah

KH Ma'ruf Amin Tegaskan Pentingnya Ijtihad daripada Nash dalam Syariat

KH Ma'ruf Amin Tegaskan Pentingnya Ijtihad daripada Nash dalam Syariat
KH Ma'ruf Amin saat menghadiri wisuda IX IAIBAFA Jombang, Rabu (15/03/2023). Foto: IAIBAFA Jombang
KH Ma'ruf Amin saat menghadiri wisuda IX IAIBAFA Jombang, Rabu (15/03/2023). Foto: IAIBAFA Jombang

NU Online Jombang,

Manusia tidak hanya cukup menguasai nash, tapi juga harus melakukan ijtihad. Karena di era sekarang, banyak hal-hal yang baru yang belum pernah ada. Bagaimana seorang manusia menjawab persoalan baru itu kalau tidak punya ilmu? 

 

Hal ini disampaikan oleh KH Ma'ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia saat menghadiri Wisuda IX Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang di IAIBAFA pada Rabu, (15/03/2023). 

 

"Harus punya ilmu untuk menjawabnya. Dan tidak mungkin sendiri, harus bersama-sama. Namanya ijtihad jama'i (rombongan). Kalau tidak dijawab, maka terjadi faudho, akan terjadi kekosongan," katanya. 

 

Ia menegaskan, syariat itu tidak hanya nash, tapi juga ijtihad. Bahkan kata Imam Haramain, kebanyakan syariat itu berawal dari ijtihad. Karena nash itu terbatas, hadist juga tidak pernah bertambah. Sedangkan persoalan-persoalan tidak pernah berhenti dan terus berkembang. 

 

"Bahkan selain masalah jadidah (baru), ada masalah lama yang mengalami perubahan. Terutama di bidang ekonomi, transaksi-transaksi yang baru, yang dulu tidak ada. Itu kemudian harus dijawab oleh kita. Masalah-masalah kebangsaan, masalah-masalah global, hubungan antar muslim dan non muslim. Itu semua harus dijawab. Oleh karena itu harus punya ilmu," ujarnya. 

 

Kata Imam Haramain, lanjutnya, nash itu cuma sepersepuluh daripada sepuluh syariat. Nash itu 10 persen dari syariat. Jadi, 90 persen itu hasil ijtihad para ulama. Makanya sekarang banyak kitab-kitab karangan Ulama yang bahkan sampai 10 jilid. 

 

Kitab-kitab itu, lanjut dia, menjawab persoalan-persoalan yang terjadi ketika itu. Imam Haramain mengatakan demikian itu 1000 tahun yang lalu. Kalau sekarang ke 1000 tahun lalu, maka nash akan menjadi semakin sedikit dibanding hasil ijtihad.

 

"Oleh karena itu, saya bilang S1 tidak cukup. S2 belum cukup, S3 belum cukup juga, harus terus. Karena memang sekarang keilmuan tidak sehebat orang dulu. Jadi tidak mungkin ada seorang yang benar-benar mujtahid (orang yang berijtihad.Red)," ungkapnya. 

 

Ia melanjutkan, orang-orang yang mengaku mujtahid, sebenarnya belum sempurna. Ijtihad harus dilakukan bersama-sama. Prof Said Ramadhan pernah mengatakan mereka itu bukan seorang mujtahid, tapi hanya mengutip pendapat-pendapat para ahli-ahli fiqih.

 

"Jadi yang bergelar profesor itu banyaknya tukang kutip. Tapi kita harus menjawab persoalan itu. Maka kita harus mendalami ilmu terus-menerus," ucapnya. 

 

Alumni Pesantren Tebuireng Jombang ini menegaskan, wisudawan harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang luas. Karena kehebatan para Ulama belum ada yang bisa menandingi. 

 

Ia memberi contoh Kiai Jamal, Kiai Jamal harus ada penggantinya. Allah tidak mengambil ilmu dari hati manusia, tapi Allah mengangkat ilmu itu dengan mengambil Ulama. 

 

"Kalau tidak ada seorang alim pun yang menguasai ilmu, orang akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Kalau seseorang memberikan fatwa tanpa ilmu, dia sesat dan menyesatkan," pungkasnya.


Daerah Terbaru