• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 5 Juli 2022

Daerah

Setiap Lulusan SMA DU 2 Unggulan BPPT Mengantongi Minimal 1 Sertifikat Ujian Internasional (Bagian II)

Setiap Lulusan SMA DU 2 Unggulan BPPT Mengantongi Minimal 1 Sertifikat Ujian Internasional (Bagian II)
Siswa SMA DU 2 Unggulan BPPT CIS (Foto : NU Online/Arif Fachrudin Achmad)
Siswa SMA DU 2 Unggulan BPPT CIS (Foto : NU Online/Arif Fachrudin Achmad)

NU Online Jombang,

Di awal berdirinya, SMA DU 2 Unggulan BPPT yang kini juga berstandar Internasional Cambridge memiliki visi yang selaras dengan visi misi pondok pesantren Darul Ulum. Lulusannya harus unggul tidak hanya dalam IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi juga IMTAQ (iman dan taqwa).

 

Didik Sadianto, kepala SMA DU 2 Unggulan BPPT mengatakan, selain menggunakan kurikulum nasional, sekolah ini juga mengadopsi kurikulum Cambridge serta kurikulum pesantren. 

 

"Kami memberikan anak-anak wawasan global tetapi juga membekali anak-anak dengan IMTAQ. Sehingga keduanya berjalan beriringan," jelasnya.

 

Lulusan SMA DU 2 Unggulan BPPT Dibekali Sertifikat Internasional

 

Menurutnya, ketika lulus, siswa SMA DU 2 Unggulan BPPT tidak hanya mendapatkan ijazah kelulusan melainkan juga akan memiliki minimal 1 sertifikat ujian internasional. 

 

Saat ini, lanjut dia, sekolah bekerjasama dengan Universitas Cambridge untuk menyelenggarakan ujian internasional. Selain itu, pihaknya juga melakukan kerja sama International Centre for French Studies (CIEP) untuk menyelenggarakan DELF ( Diplôme d’Etude en Langue Française) untuk mendapatkan ijazah kemampuan bahasa Prancis. Serta, International Competitions and Assessments for Schools (ICAS) dari Australia. Untuk mengaji kemampuan siswa di bidang akademik.  

 

"Untuk ICAS, ujiannya seputar Digital Technologies, English, Mathematics, Science, Spelling and Writing. Ketiga sertifikasi internasional itu bisa dipilih salah satu oleh siswa. Ini menjadi pembeda dari sekolah lain. Bahwa anak-anak dibekali dengan sertifikasi internasional ketika lulus," paparnya.

 

Pria yang akrab disapa Didik ini menambahkan, kerja sama dengan Cambridge University dimulai sejak 2006. Saat itu, Sekolah didorong untuk berdaya saing internasional. Harus ada kerja sama dengan negara maju. 

 

"Kami kemudian diarahkan ke Cambridge. Kami mengirim cv ke sana kemudian dikunjungi lalu melakukan berbagai hal untuk memenuhi persyaratan. Sehingga, tahun 2007 ditetapkan menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Kemudian di tahun 2011 RSBI ditiadakan. Banyak sekolah yang kerja sama dengan pihak internasional berhenti karena keputusan tersebut. Tapi atas support dan doa para kiai Darul Ulum, demi pengembangan mutu, kami tetap melanjutkan kerjasama. Bahkan saat ini kami juga menambah kerjasama dengan ICAS dan DELF," terangnya.

 

Baca juga : Upaya Tebuireng Mendobrak Zaman, Cetak Santri yang Ahli Membuka Rahasia Alam Semesta (Bagian III)

 

Didik menjelaskan, sekolah tidak hanya melakukan sertifikasi internasional, melainkan juga melakukan adaptasi kurikulum internasional Cambridge University

 

"Di sana (Cambridge University) ada standar kompetensi. Di kurikulum nasional juga ada kompetensi. Nah yang match, kita diadaptasikan dengan kurikulum internasional. Yang nggak ada, kita adopsikan," jelasnya.

 

Sumber referensi belajar siswa, kata dia, berbeda dengan sekolah yang lain. Sebab, sesuai kompetensi kurikulum internasional, modul pembelajarannya dibuat sendiri. Harapannya, ketika siswa mengikuti ujian internasional tidak akan kebingungan. 

 

Menurut Didik, sertifikasi internasional akan dilakukan dua kali dalam satu tahun, yakni di bulan Oktober-November serta Mei dan Juni. 

 

"Maksimal ketika masuk semester genap di kelas XI, anak-anak sudah menempuh ujian internasional. Karena kelas XII kan sudah fokus persiapan perguruan tinggi," ujarnya.

 

Menyiapkan Bibit Unggul 

 

Sejak awal, pihak sekolah sudah menerapkan seleksi dan pemetaan pada siswa. Agar minat, bakat dan kemampuan siswa dapat diketahui sejak awal. 

 

"Dari kurikulum, kami ada sub divisi bina prestasi. Kalau di sekolah lain biasanya bidang ini masuk ke kurikulum kesiswaaan. Namun, kami ada sendiri agar lebih fokus mengembangkan kemampuan siswa," ujar Didik.

 

Di divisi tersebut, lanjut dia, pihaknya membentuk kelas olimpiade untuk menyiapkan siswa mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN). Selain itu, juga menyiapkan siswa yang memiliki kemampuan di bidang keagamaan dan bidang riset dan penelitian. 

 

"Di pengembangan IPTEK, kami memiliki kelas robotik. Sementara di bidang keagamaan, sudah 3 tahun terakhir kami memiliki ekstra tahfidzul Qur'an," lanjutnya.

 

Tidak Hanya Bisa Cepat Lulus, Program Akselerasi SMA DU 2 Unggulan BPPT Juga Mengabdi pada Masyarakat

 

Berbeda dengan sekolah lain, sudah 2 generasi, pola belajar sekolah menggunakan sistem kredit semester (SKS). Sistem ini memungkinkan untuk melayani siswa berdasarkan pola kecepatan belajarnya.

 

"Siswa yang pola belajarnya cepat dapat masuk di sistem SKS 3 tahun plus. Sementara, siswa yang pola belajarnya cepat dan punya kemampuan menghafal Al-Qur'an akan mengikuti SKS 3 tahun plus Hafidz Qur'an. Sementara siswa dengan kemampuan cukup atau sedang bisa masuk ke kelas heterogen reguler," tambahnya.

 

Meski memiliki program akselerasi, namun SMA DU 2 Unggulan BPTT berbeda dengan sekolah lain dalam mengemas pendidikan akselerasi. Siswa dengan program SKS 3 tahun plus dan SKS 3 tahun plus Tahfidz akan menyelesaikan proses belajar dalam waktu 2 tahun 3 bulan. Sisanya, siswa akan dibekali tambahan sertifikat teknologi informatika dari Balai Latihan Kerja DU dan sertifikat keagamaan. 

 

"Jadi, setelah proses belajar di sekolah selesai, siswa akan dibekali soft skill kemudian ada proses pengabdian masyarakat sebelum mereka lulus. Kalau di perguruan tinggi kita mengenal dengan sebutan KKN (kuliah kerja nyata). Dimungkinkan juga siswa yang berbakat, bisa mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika atau negara yang lain selama 1 tahun. Hal itu dimungkinkan jika pandemi sudah reda. Kami memiliki SK resmi dari provinsi untuk menyelenggarakan program layanan belajar tersebut," jelasnya.

 

Didik mengatakan, untuk bisa masuk ke program SKS 3 tahun plus atau SKS 3 tahun plus tahfidz, di awal semester ada masa orientasi. Baik di pondok maupun di sekolah.

Siswa harus mengikuti tes matrikulasi yang menguji bakat ekstranya, kemampuan bahasa asingnya, tes akademik, kemampuan baca tulis Al Qur'an nya, bakat mengikuti olimpiadenya. 

 

"Dari tes tersebut, kami petakan siswa menurut kemampuannya. Nanti mereka akan berproses 1 semester. Dari situ akan muncul raport semester 1. Siswa yang predikat mapelnya 80 persen A bisa menjadi calon ke kelas cepat. Sementara predikat B dan C bisa langsung masuk ke kelas reguler," katanya.

 

Namun, meskipun sudah memiliki predikat mapel A, kata Didik, tes tidak berhenti sampai disitu. Masuk ke kelas cepat merupakan hak dan pilihan siswa itu sendiri. 

 

Misalnya, siswa memiliki kemampuan untuk masuk di kelas akselerasi namun tetap memilih kelas reguler, hal itu juga diperkenankan. Sementara yang berminat bisa daftar.

 

"Mereka yang mendaftar akan diberikan wawasan bagaimana kelas cepat ini akan berjalan. Cepat ini bukan hanya cepat soal pelajaran akademik saja melainkan juga cepat belajar keagamaan sesuai dengan kurikulum pesantren. Seperti nilai fiqihnya, baca kitabnya dan semua yang terkait kurikulum pesantren juga harus A. Karena itu dibutuhkan kesiapan mental. Sehingga, untuk bisa masuk ke kelas cepat, kami juga akan melakukan tes psikologi untuk mengetahui kematangan mental dan daya juangnya menerima sistem pembelajaran yang cepat," paparnya.

 

Belajar Membuat Event Tingkat Nasional, Mengasah Soft Skill Siswa

Setiap tahun, pihak sekolah mengadakan event besar, Science and Social Olympiads (SSO). Penyelenggaranya adalah siswa sendiri.

 

"Siswa menginplementasikan kreativitas dan pengetahuan mereka dalam acara tersebut. Mulai dari mencari sponsor, membuat perizinan ke dinas terkait, membuat pagelaran, sampai membuat materi promosi ke SMP-SMP di seluruh Indonesia. Semua siswa yang mengerjakan. Itu menjadi salah satu keunggulan kami," ujarnya.

 

Serangkaian Tes Masuk Dilakukan Untuk Menjaring Siswa

 

Didik menjelaskan, teknis masuk penerimaan siswa tersentral di Pondok Pesantren. Dua belas unit lembaga pendidikan di Darul Ulum mengikuti tes tersebut. Namun, ada tes khusus di SMA Unggulan DU 2 BPPT. Pertama, siswa dilihat dari nilai raportnya. Semua mata pelajaran nilai minimal rata-ratanya adalah 8. Kemudian ada tes psikologi, tpa dan bahasa Inggris serta wawancara kepesantrenan.

 

Anak-anak yang memiliki sertifikat perlombaan bisa disertakan. Hal tersebut akan menjadi pertimbangan kami dalam melakukan penjaringan dan pemetaan siswa.

 

Fasilitas Sekolah Penunjang Belajar Siswa

​​​​​​Keterangan Foto : Perpustakaan SMA DU 2 Unggulan BPPT Terakreditasi A

 

Dari segi fasilitas belajar siswa, Didik mengatakan, pihak sekolah sudah memiliki laboratorium MIPA, laboratorium komputer, laboratorium multimedia, laboratoriu bahasa, ruang serbaguna yang bisa digunakan untuk olahraga indoor, perpustakaan terbaik nomer 2 se Jatim serta kelas yang memanjakan siswa. 

 

Setiap kelas, kata Didik, dilengkapi dengan AC, karpet, televisi, proyektor dan laptop. Selain itu, terdapat juga lahan untuk budidaya tanaman hidroponik, lele dan sebagainya.

 

"Kami juga memiliki ruang untuk ekstra kurikuler, ruang konseling, ruang OSIS. Dan kini kami tengah mengembangan UKS agar lebih memadai untuk siswa kami yang saat ini berjumlah 980 siswa," jelasnya.

 

Seulas Sejarah SMA DU 2 Unggulan BPPT

Sejumlah gebrakan di ranah pendidikan dibuat oleh Kiai As'ad Umar dengan menggabungkan keilmuan pesantren dengan ilmu umum yang di masa itu belum terlalu banyak dipilih pesantren lain.

 

"Kiai As'ad memiliki mimpi besar. Lulusan pesantren juga harus bisa mengisi seluruh sektor, nggak cuma jadi Modin," ujar KH Zaimudin Wijaya As'ad, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum.

 

SMA unggulan Darul Ulum yang memang diinisiasi KH As'ad Umar tesebut memang didirikan agar santri yang kala itu hanya belajar agama saja dapat lebih disiplin dan fokus juga mengejar ilmu pengetahuan.

 

"Biasanya kalau mondok itu sekolahnya tidak disiplin. Sekolah masuknya jam 7, kadang jam ke dua baru masuk. Jadi ketika itu, terpikir untuk membuat sekolah yang disiplin. Kiai As'ad sampai belajar ke SMA Taruna Magelang untuk mengetahui konsep sekolah yang disiplin dan bagus secara akademik," jelasnya.

 

Akhirnya, metode disiplin tersebut diterapkan di SMA DU 2. Awalnya dianggap aneh, nyeleneh dan tidak biasa. Namun ketika 90 persen lulusan kita diterima di perguruan tinggi negeri, ini mengubah paradigma pesantren sekaligus pandangan masyarakat.

 

"Sekolah kami sejak awal memang digandeng oleh BPPT. Waktu itu, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI, BJ Habibi. Jadi guru-gurunya langsung dibimbing dan diberikan pelatihan oleh BPPT, kemudian seleksi siswa awal masuk sekolah, semua dari BPPT ketika itu," jelasnya.

 

Lulusan angkatan awal SMA DU 2 Unggulan BPPT sebagian juga diambil oleh BJ Habibi untuk melanjutkan di Insan Cendekia, Serpong, Tangerang.

 

Bersambung.

 

Pewarta : Nur Fitriana


Editor:

Daerah Terbaru