• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Jumat, 23 Februari 2024

Daerah

Gus Kikin: Umat Islam Harus Perkuat Pemahaman Syariat Tanpa Tinggalkan Adab

Gus Kikin: Umat Islam Harus Perkuat Pemahaman Syariat Tanpa Tinggalkan Adab
Kiai Kikin
Kiai Kikin

NU Online Jombang,

Saat ini begitu banyak sumber keilmuan yang membuat bingung masyarakat kebanyakan dalam mencari informasi yang benar. Karena itu, sangat penting bagi generasi penerus dan masyarakat luas untuk memperkuat ilmu pengetahuan yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW.

 

Hal ini disampaikan oleh KH Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh pondok pesantren (ponpes) Tebuireng, Jombang pada acara Halaqah Fikih Peradaban dalam rangka memperingati Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Gedung KH Yusuf Hasyim lantai 3 Pondok Pesantren Tebuireng, Sabtu (17/19/2022).

 

"Ilmu-ilmu yang diwariskan oleh salafussholeh yang mana sanadnya bersambung kepada Rasulullah Muhammad SAW harus terus kita wariskan pada generasi penerus. Ini sangat menentukan perjalanan umat Islam. Selain itu juga sangat menentukan perjalanan bangsa ini, bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam katanya," katanya. 

 

Kiai yang akrab disapa dengan Gus Kikin ini melanjutkan, perjalanan bangsa ini tidak lepas dari kontribusi pendiri Pondok Pesantren Tebuireng. Yaitu Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dan para muassis Pondok Pesantren Tebuireng.

 

Beliau banyak meninggalkan tulisan-tulisan yang berisikan ilmu pengetahuan. Tulisan-tulisan tersebut berisikan kebutuhan-kebutuhan dalam mengaplikasikan ilmu-ilmu yang begitu banyak. Salah satunya, pada tahun 1925 KH Hasyim Asy'ari menulis kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim.

 

"Di dalam kitab tersebut, ada salah satu bagian yang menyampaikan tentang ilmu syariat tanpa adab dianggap tidak berguna. Sebagian ulama berpendapat bahwa ketika seseorang beriman apabila paham ilmu-ilmu syariat tetapi tanpa adab, maka dianggap tidak sempurna," ujarnya. 

 

Kitab tersebut, kata Gus Kikin, adalah salah satu kitab yang menjadi rujukan di ponpes Tebuireng ini. 

 

"Kita harus membangun adab. Karena hanya di pondok pesantren, kegiatan belajar mengajar dari ta'lim, tarbiyah kemudian ta'dib bisa dilaksanakan," tambahnya.

 

Dengan ta'dib, kita mendidik adab yang bisa dipakai sebagai ilmu untuk membangun peradaban serta karakter-karakter yang sangat dibutuhkan dalam perjalanan sejarah Pondok Pesantren Tebuireng.

 

"Di zaman penjajahan, persatuan umat Islam bisa terbentuk. Pengetahuan ini juga didapatkan dari salah satu buku yang ditulis oleh Hadratussyekh. Di buku tersebut dijelaskan pada tahun 1937 Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) didirikan untuk menaungi 13 organisasi Islam yang ada di Indonesia. Dan organisasi Islam yang masuk di dalamnya mewakili semua umat Islam yang ada di Indonesia di tahun 1937," tuturnya. 

 

Gus Kikin berpesan, umat islam harus memperkuat pemahaman-pemahaman mengenai syariat, keimanan, dan keterkaitan kita dalam menjadikan segala hal menjadi perekat untuk bangsa ini agar tetap bersatu.

 

"Bangsa ini harus tetap mampu untuk membangun ukhuwah dan persatuan untuk kemajuan. Ini akan menjadi kekuatan bangsa di masa yang akan datang. Semoga acara ini menghasilkan pemikiran-pemikiran yang bisa dipakai untuk landasan kita dalam berfikir dan berkegiatan. Sehingga menjadikan negara ini baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur," pungkasnya.


Daerah Terbaru