• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Selasa, 27 Februari 2024

Daerah

Guru Ini Sukses Lahirkan Banyak Kaligrafer Tingkat Internasional

Guru Ini Sukses Lahirkan Banyak Kaligrafer Tingkat Internasional

NU Jombang Online, 
Berawal dari kecintaannya pada kaligrafi yang begitu besar, kini guru bahasa arab Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jombang, Jawa Timur berhasil memiliki Sekolah Kaligrafi Al-Quran (Sakal) yang telah melahirkan kaligrafer kelas Internasional. MAN 4 Jombang sendiri berada di lingkungan Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.

Guru tersebut bernama Atho’ilah, pemilik sekaligus pendiri Sakal. Setiap hari, hidupnya dihabiskan dengan mengajar di MAN 4 sejak 2003. Lalu membimbing para santri kaligrafi yang mukim di rumahnya dan menjadi juri lomba kaligrafi di berbagai kota di Indonesia. Di rumah milik Atho’ilah terdapat puluhan karya kaligrafinya berjejer di tembok.

Tampak juga beberapa santri Sakal yang sedang asyik belajar kaligrafi. Para santri tersebut tinggal secara gratis di rumah sederhana milik Atho’ilah. Mereka datang dari berbagai provinsi di Indonesia dan bahkan ada juga dari luar negeri seperti Malaysia dan Thailand.

Setiap hari, Atho’ berangkat ke MAN 4 Jombang untuk mengajar bahasa arab. Jarak rumahnya ke madrasah tidak lah jauh. Ia sengaja membuat rumah disekitar madrasah agar bisa mengamal kan ilmunya dengan mudah di Pesantren Mamba’ul Ma’arif dan MAN 4 Jombang.

Usai mengajar, ia kembali ke rumah merawat beberapa burung kesayangan dan sejurus kemudian kembali menulis kaligrafi. Kadang juga mengoreksi karya kaligrafi milik santrinya.

“Sakal dulunya bernama Aksara (Asosiasi Kaligrafer Sunan Ampel Raya),” katanya, Kamis (4/7). 

Aksara berdiri pada bulan Mei sekitar tahun 2001 di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif tepatnya di Asrama Sunan Ampel. Aksara merupakan sanggar kecil kaligrafi yang didirikan oleh tiga pribadi yang berbeda. Mereka adalah Athoillah, Rosikhin dan Sumarsono. Mereka mempunyai tujuan yang mulia yakni ingin melestarikan seni kaligrafi melalui Aksara.

Saat itu Sakal bisa dikatakan belum ideal sebagai sanggar kaligraf. Hal ini karena tempat yang masih belum jelas, kurikulum pelajarannya juga masih mencari bentuk yang relevan,konsep KBMnya pun masih belum begitu terstruktur. Namun saat itu, Aksara sudah berhasil melahirkan kaligrafer muda yang cukup potensial.

“Hampir setiap ada perlombaan kaligrafi, kader kita selalu aktif. Baik sebagai peserta maupun sebagai panitia. Baik ditingkat lokal maupun di MTQ tingkat Jawa Timur dan international,” ujarnya.

Berjalan waktu, Aksara mulai menata kurikulum dan tidak hanya berorientasi pada hasil. Karena hakikatnya bukan juara atau hasil terbaik yang ingin dicapai, akan tetapi proses belajar kaligrafilah yang diharapkan mampu membentuk pribadi-pribadi muslim yang berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsanya.

“Maka muncullah sebuah ide untuk mendirikan wadah yang lebih baik dan terstruktur dengan baik. Hingga akhirnya lahirlah Sekolah Kaligrafi Al–Qur’an (Sakal),” ujar alumni IKIP Malang ini.

Atho berharap Sakal bisa menjadi cikal bakal sebuah pendidikan Kaligrafi di Indonesia. Kehadiran Sakal diharapkan tidak hanya untuk melestarikan seni kaligrafi, akan tetapi juga turut berperan penting sebagai stimulator yang memacu meningkatkan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi dalam seni kaligrafi. 

Sakal berubah dari Aksara pada tahun 2008 dan baru diresmikan pada tahun 2009 berada dibawah naungan asrama SunanAmpel Pesantten Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang. 

Kini Sakal sudah menjadi lembaga pendidikan murni. Karena sudah mempunyai kurikulum tersendiri dan konsep KBM yang terstruktur. Setiap kurikulumnya diisi dengan materi-materi pelajaran yang mendukung dalam menulis kaligrafi dengan benar, baik dan indah. Seperti pembelajaran imlak, bahasa arab, sejarah kaligrafi, kaidah–kaidah kaligrafi. 

“Baru-baru ini santri kita berhasil mengukir prestasi international dengan menjuarai 2 kategori di Turki, juara 2 kategori diwani jali dan juara 1 kategori diwani,” bebernya.

Melahirkan Kaligrafer Hebat 

Salah satu murid dari Athoilah yaitu Zainul Mujib, pemuda kelahiran 1995 asal Lamongan. Ia punya prestasi yang membanggakan di tingkat nasional dan internasional. Beberapa kegiatan kaligrafi internasional berhasil ia ikuti dan menang. Seperti pada 2014, 2015, dan 2016 secara berturut-turut berhasil lolos menjadi peserta pameran seni rupa Islam di Aljazair.

Untuk mengikuti pameran ini bukan perkara mudah, ia harus bersaing ketat dengan begitu banyak peserta dari berbagai negara seperti Turki, Cina, Malaysia, Iran, Mesir dan masih banyak lagi negara lain. Karya tersebut akan diseleksi oleh dewan juri secara teliti. Bagi kaligrafer yang lolos maka akan dipanggil ke Aljazair untuk mengikuti rangkaian kegiatan pameran dan serta fasilitas gratis.

"Acara di Aljazair itu persaingannya sangat luar biasa. Saya awalnya hanya ingin menunjukkan bahwa insan madrasah juga bisa bersaing di dunia internasional,” kenang Mujib.

Gurunya Atho’ilah telah membawa nama Mujib melambung melewati batas angan-angannya selama ini. Hal sebelumnya tak pernah dibayangkan kini terwujud. Mujib menekuni kaligrafi sejak di bangku aliyah hingga saat ini. Kini ia menempuh studi magister di Pasca Sarjana Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng.

"Tahun 2017 kemarin saya berhasil menjadi juara dua lomba iluminasi tingkat nasional di Kudus, Jawa Tengah. Dan pada tahun 2014, 2016, dan 2018 saya menjadi juara pertama Musabaqoh Khath Al-Qur’an dalam MTQ tingkat Kabupaten Jombang,” ungkapnya. 

Ia dengan gurunya Atho'ilah bahu membahu mendampingi calon ahli kaligrafi andal. Para santri diajarkan secara telaten tata cara menulis Arab yang bagus dan bersanad. Kegiatan pembelajaran di Sakal dilakukan setiap sore hari dan semua orang bisa ikut bergabung. 

Selain mengajar di Sakal, ia juga aktif mengisi seminar dan mendampingi pembelajaran kaligrafi di Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, Universitas Islam Negeri Malang, Pesantren Alfitrah Surabaya dan Pesantren An-Nasriah Bahrul Ulum, Jombang.

"Saya tidak memaksakan peserta didik saya harus juara dalam berbagai perlombaan. Tapi karena mereka tekun, kemarin ada beberapa yang juara di lomba kaligrafi tingkat ASEAN di Singapura. Mereka sudah mulai berprestasi di Internasional juga, alhamdulilah," tandas Mujib. (Syarif Abdurrahman/Syamsul Arifin) 


Editor:

Daerah Terbaru