Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Fiqih Opini Keislaman Khutbah Mitra

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mukani, Nominator Anugerah Penulis IGI

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mukani, Nominator Anugerah Penulis IGI
Mukani, nominator Anugerah Penulis Ikatan Guru Indonesia (IGI) (Foto : NU Online/Tangkapan Layar)
Mukani, nominator Anugerah Penulis Ikatan Guru Indonesia (IGI) (Foto : NU Online/Tangkapan Layar)

NU Online Jombang,

Menjadi nominator Anugerah Penulis Ikatan Guru Indonesia (IGI) merupakan hal baru bagi Mukani, pria kelahiran Nganjuk, 14 Maret 1981. Tapi dunia menulis bukanlah hal baru baginya. Mukani sudah menggeluti dunia penulis sejak ia masih kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. 

 

Karena baru pertama kali mengikuti kompetisi Anugerah Penulis IGI, Mukani bahkan hanya memiliki waktu singkat dalam mempersiapkan persyaratan yang dibutuhkan.

 

Deadline kompetisi adalah esok hari. Tepat 1 menit sebelum tengah malam, kompetisi akan ditutup. Sementara, Mukani baru mengetahui ada kompetisi itu sehari sebelumnya.

 

"Saya tahu infonya mendadak. Deadlinenya jam 23.59 besok malam, saya baru tahu maghrib hari ini," ungkapnya.

 

Dalam kompetisi tersebut ada 3 indikator penilaian. Selain portofolio, dewan juri juga akan menilai esai dan video pendek. 

 

Dalam portofolio, pria yang juga merupakan guru SMAN 1 Jombang ini harus mengirimkan judul karya-karyanya di link pendaftaran. Sementara esainya berisikan tentang mengapa dirinya layak menjadi nominator dengan beberapa ketentuan yang ditetapkan oleh panitia.

 

Selain itu, karena era digital sedang menguasai seluruh aspek, peserta kompetisi, termasuk Mukani harus membuat video pendek berdurasi 3-5 menit yang harus diunggah di media sosial YouTube

 

Video tersebut berisi tentang aktivitas Mukani sebagai pegiat literasi di komunitas masing-masing dan memuat profil karya yang sudah disebutkan di dalam portofolionya. 

 

"Alhamdulilah, kemarin saya mendapat sekitar 700 like di YouTube untuk video pendek. Porsi penilaian untuk like video singkat di media sosial adalah 30 persen. Selebihnya, untuk esai dan portofolio," terangnya. 

 

Tak disangka, persiapan yang serba cepat itu membuatnya masuk ke 15 besar. Padahal, Mukani tadinya hendak mundur dari perlombaan. Namun, dorongan orang terdekat membuatnya mantap melanjutkan.

 

Penganugerahan ini harusnya dilakukan 6 November lalu secara online. Namun ternyata ada perubahan jadwal. Penganugerahan ini akan dilakukan di salah satu kota antara Jakarta atau Bandung tanggal 26 November mendatang.  

 

Pada perlombaan ini, Mukani memiliki 2 gagasan untuk komunitasnya yang merupakan guru.

 

Yang pertama adalah berkenalan dengan penerbit mayor atau mayor publish dan mendapat imbalan dengan sistem royalti. 

 

Penerbit mayor adalah penerbit skala besar. Dengan menggunakan penerbitan ini penulis hanya mengirimkan naskahnya saja sehingga lebih memudahkan. Sementara layout, desain, editor, produksi, dan marketing sudah menjadi tanggung jawab penerbit tersebut.

 

"Enaknya mayor publish itu kita jadi bisa lekas mendapat inspirasi baru," ungkap Mukani.

 

Gagasan keduanya adalah membumikan artikel jurnal untuk para guru. Sebab, berdasarkan permasalahan para guru yang menghadapi sistem baru untuk naik jenjang karir ke golongan 4A harus memiliki artikel jurnal.

 

Persoalan kedua yang dihadapi para guru adalah, mereka memiliki banyak hasil penelitian seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hasil penelitian itu bisa dikonversi dalam sebuah artikel jurnal.

 

Untuk bisa diakui, artikel jurnal harus memiliki International Standard Serial Number (ISSN), kegunaan ISSN ini hampir sama dengan kegunaan ISBN dari buku. Yang berbeda, ISSN ditujukan untuk artikel yang dipublikasikan secara internasional.

 

"Artikel Jurnal itu biasanya teman-teman tertipu dengan ISSN palsu," ujar Mukani.

 

Mukani nanti mati, tapi karyanya akan abadi

 

Pria yang juga merupakan guru MA Salafiyah Syafi'iyah (MASS) Seblak ini memulai perjalanan menulisnya dengan menulis resensi buku yang berjudul 'Dialog dengan atheis' di tabloid kampus.

 

Saat itu ia masih mahasiswa semester 5 yang butuh tambahan uang untuk bisa bertahan hidup. Dari aktivitas menulisnya di tabloid kampus, Mukani menerima honor sebesar Rp 20000 untuk 1 tulisan. Di tahun 2002, uang itu sangat besar baginya.

 

Sebagai anak buruh tani, Mukani cukup ulet berusaha. Ia begitu ingin mengubah mindset masyarakat daerahnya. Meski hanya merupakan anak buruh tani, ia memiliki mimpi besar untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Terbukti dengan kerja keras, ia mampu lulus Pascasarjana dengan beasiswa.

 

"Dulu itu saya ya jualan baju, tas, buku, air, bahkan pete. Apapun yang bisa dijual saya jual. Karena saya itu kan nggak punya uang. Saya juga tinggal di mushala. Jadi, uang segitu sangat berarti bagi saya," ungkapnya.

 

Mukani remaja, setelah lulus dari SMPN 1 Nganjuk, diboyong oleh wali kelas yang akhirnya menjadi orang tua angkatnya karena orang tuanya sudah tak mampu membiayai sekolah.

 

Ia dibawa ke pondok Seblak, Tebuireng. Ia sekolah sekaligus mondok di pondok almarhum KH Lukman Hakim yang merupakan keponakan Gus Dur.

 

Lulus dari sana, ia pun melanjutkan pendidikannya ke UINSA dibantu dengan Almarhum KH. Lukman Hakim, bapak angkat dan tentunya kedua orang tuanya.

 

Pengalaman pahit 

 

Dua tahun setelah mencecap rupiah dari menulis di tabloid kampus dan beberapa media, 2004 saat ia sedang menempuh pendidikan Pascasarjana, Mukani juga merasakan pahitnya pengalaman. 

 

Ia pernah mengirimkan naskah buku terjemahan dari bahasa Inggris ke sebuah penerbit toko buku. Namun, malang tak dapat ditolak, naskah tersebut terbit dengan nama orang lain.

 

pria yang semasa kuliah juga aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini tidak patah arang. Ia justru makin bersemangat dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya. 

 

"Ya itu pengalaman pahit saya ketika kuliah S2, tapi dari peristiwa itu bisa kita ambil hikmahnya," imbuhnya.

 

Memperluas ide

 

Bagi Mukani, kompetensi menulis tidak akan pernah tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Ia meyakini bahwa tidak ada teknologi apapun yang dapat menggantikan manusia menulis.

 

Ia merasa beruntung, keterpaksaannya menulis kala itu membuatnya telah melewati fase-fase pahitnya dalam dunia penulis.

 

"Sepintar-pintarnya robot saja tidak bisa menulis, yang bisa menulis ya hanya manusia," ungkap pria kelahiran Nganjuk itu.

 

Tidak semua orang dapat menangkap ide atau gagasan baru yang disampaikan melalui lisan. Dengan ide-ide baru yang ditulis di media massa, ide-ide tersebut akan meluas dan orang lain akan memahaminya.

 

"Perkara pembaca setuju atau tidak, mereka bisa mengkritik dengan tulisan juga. Makanya ada dialektika pemikiran," ujarnya.

 

Hingga saat ini, Mukani telah menulis dan menerbitkan 21 buku, 9 buku yang ia edit, seperti thesis dan disertasi. Lalu ada 38 artikel jurnal, 20 diantaranya diterbitkan di https://sinta.ristekbrin.go.id/.

 

Dilansir dari situs resminya, SINTA (Science and Technology Index) berisi soal pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) antara lain kinerja peneliti, jurnal, institusi IPTEK, dan penulis jurnal.

 

Selain mengukur kinerja IPTEK, SINTA juga menjadi alat pengindeks internasional sebagai arsip jurnal, buku, artikel, dan karya ilmiah lainnya. 

 

SINTA memiliki fitur lengkap seperti Citation (indeks dalam setahun untuk Google Scholar dan Scopus), Networking (mengetahui siapa saja yang pernah bekerja sama), dan Research Output (jurnal, artikel, buku yang telah dipublikasikan), dan Score (melihat indeks di Scopus, Google Scholar, dan Inasti).

 

SINTA sendiri baru diluncurkan pada 30 Desember 2017 oleh Kemenristek. SINTA berfungsi sebagai wadah hasil penelitian untuk dipublikasikan secara online. 

 

"Bisa dicek di website resminya. Tidak bisa dibohongi, karena itu sistem," kata Mukani.

 

Mendirikan Griya Pustaka

 

Untuk memperluas spektrum penulis, Mukani mendirikan Griya Pustaka Kayangan Jombang sejak 2018. Griya Pustaka Kayangan Jombang ini dibuka untuk umum. Mereka yang datang bisa berkonsultasi mengenai kepenulisan. 

 

"Biar saya tidak sendirian, saya buat Griya Pustaka Kayangan itu. Yang sudah berjalan hingga saat ini di grgriya pustaka adalah pendistribusian buku, membimbing penulis dengan kepenulisan online dan editing naskah," jelas pria yang juga merupakan pengurus cabang Jombang Persatuan guru NU ini.

 

Ketika ditanya apa mimpi yang belum ia wujudkan, ia menjawab dengan sederhana. Mukani ingin menulis artikel jurnal yang dapat dimuat di website jurnal internasional seperti Scopus.

 

 

Kontributor : Siti Ratna Sari

Editor : Fitriana

 

Warta Lainnya

terpopuler

rekomendasi