• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 6 Juli 2022

Daerah

Tradisi Megengan jelang Ramadhan, Begini Pandangan Katib PCNU Jombang

Tradisi Megengan jelang Ramadhan, Begini Pandangan Katib PCNU Jombang
Ada Tradisi Megengan jelang Ramadhan, Begini Pandangan Katib PCNU Jombang. (Foto: Istimewa)
Ada Tradisi Megengan jelang Ramadhan, Begini Pandangan Katib PCNU Jombang. (Foto: Istimewa)

NU Online Jombang,
Sebelum memasuki bulan suci Ramadhan masyarakat di Jawa memiliki tradisi khas, yakni dikenal dengan istilah Megengan. Wikipedia menyebut bahwa istilah itu berasal dari kata 'megeng', artinya menahan. Kaitannya dengan Ramadhan adalah sebagai pengingat bahwa sebentar lagi umat Islam harus bisa menahan dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan minum dan lain sebagainya.


Dalam praktiknya megengan biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama, membaca dzikir tahlil, dan makan bersama. Selain itu, sebagian masyarakat mewujudkannya dengan cara berziarah kubur serta sedekah massal di mushala dan masjid setempat. Semuanya tak lain hanya untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.


Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap tradisi megengan tersebut?


Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Ahmad Samsul Rijal mengungkapkan, memahami tradisi jangan hanya melihat bentuk, nama dan jenisnya yang tidak dikenal di masa Nabi SAW atau para sahabat dan tabiin.


"Bila kita hanya melihatnya dari bentuk dan namanya, maka kita bisa sesat pikir serta gagal sikap dalam memahami dan mengikuti kebiasaan yang terbentuk dan menyatu dalam kehidupan masyarakat kita khususnya di Jawa dan Nusantara," ungkap pria yang akrab disapa Kiai Rijal itu, Kamis (31/3/2022).


Kiai Rijal menjelaskan, di Jawa Tengah, dan sekitar Keraton Yogyakarta pada bulan Sya'ban dan menjelang Ramadhan tiba, masyarakatnya biasa melakukan kegiatan dalam bentuk Majelis Birrul Walidain, nyadran, dan megengan.


"Bentuk kegiatan mereka dalam majelis itu, antara lain khatmil Qur'an, shalawatan, dzikir tahlil, istighatsah, ziarah kubur orang tua dan alim ulama, serta mauidzah hasanah yang diikuti dengan tasyakuran dengan makan bersama. Saat pulang mereka membawa berkat atau berbagi makanan dengan tetangga dan sanak famili," jelasnya.


Menurutnya, melihat isi, kebaikan niat dan jenis kegiatannya, bila dipikir secara akal sehat dan memahami sandaran hukum masing-masing, maka bisa dilihat kebaikan-kebaikan dalam kegiatan tersebut.
 

"Dengan kesunnahan yang ada dalam tradisi tersebut biasa disebut nyadran dan megengan. Kesunnahan dalam membaca Al-Qur'an, kesunnahan dalam dzikir dan tahlil, kesunnahan dalam sedekah makanan, serta kesunnahan dalam menjaga kebaikan dan kesatuan dalam bermasyarakat," tuturnya.


"Lantas apakah kita masih ragu dengan kebaikan yang ada dalam tradisi-tradisi yang tidak dikenal nama dan istilahnya di masa salafus shalih?" imbuhnya menegaskan sembari bertanya.


Daerah Terbaru