• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Jumat, 19 April 2024

Daerah

HARLAH KE 101 NU

Pj Ketua PWNU Jatim Gus Kikin Sebut Harlah Ke-101 NU adalah Anugerah Luar Biasa

Pj Ketua PWNU Jatim Gus Kikin Sebut Harlah Ke-101 NU adalah Anugerah Luar Biasa
Pj Ketua PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: Achmad Subakti)
Pj Ketua PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: Achmad Subakti)

NU Online Jombang,

Pj Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz menyebut peringatan Hari Lahir (Harlah) yang ke-101 Nahdlatul Ulama (NU) merupakan anugerah yang luar biasa bagi sebuah organisasi. 

 

Hal ini ia sampaikan dalam peringatan Harlah ke-101 NU yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang di Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Jumat (02/02/2024). 

 

"Ini merupakan usia yang luar biasa bagi sebuah organisasi. Jarang organisasi yang berkembang, memberi manfaat dan guyup rukun selama 1 abad lebih. Ini adalah NU," kata Gus Kikin, sapaan akrabnya. 

 

Gus Kikin lantas menceritakan, sebelum NU didirikan, sudah ada umat Islam yang beraliran ahlussunah wal jamaah di Indonesia. Para ulama, pengasuh pesantren, kiai dan ustadz sejak zaman walisongo sudah melestarikan kebudayaan yang ada. 

 

Sehingga, suatu ketika ada penjajah datang dan menjajah sampai 350 tahun, ini bukanlah waktu yang sebentar. Namun, umat Islam di Indonesia tidak ada ada kerusakan dari segi tradisi, budaya dan peradabannya. 

 

"Apa artinya? Bahwa pendampingan ulama dan kiai kepada masyarakat tidak merusak akidah, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Kita harus bersyukur, sehingga kita bisa teguh keimanan kepada Allah swt," ucapnya. 

 

Jadi, lanjut dia, bangsa Indonesia di bawah pembinaan dan bimbingan para kiai menjadi bangsa yang menjaga keimanan kepada Allah. Umat Islam dengan modal kehidupan yang kiainya sejak zaman dulu mendampingi umat, ini merupakan anugerah oleh Allah swt. 

 

"Apalagi kemudian 1926 lahir NU yang menjadikan Indonesia semakin kuat, rukun, guyup sampai sekarang. Masyarakat NU juga menjaga umat Islam agar bangsa Indonesia menyatu," ujarnya. 

 

Menjelang kemerdekaan, peran pesantren dan ulama juga tidak kecil dalam memberikan sumbangsih membangun Indonesia. Akhirnya, Indonesia dijadikan sebagai negara yang berbentuk kesatuan, yang berbentuk bangsa. Itu atas inisiatif para ulama. 

 

"NU melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh para ulama sejak zaman walisongo. Mudah-mudahan dengan adanya NU, Indonesia semakin solid, guyup, rahmat Allah dicurahkan ke bangsa ini," pungkasnya. 


Editor:

Daerah Terbaru