• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Jumat, 23 Februari 2024

Daerah

Pelayanan RSNU Jombang Humanis dan Profesional

Pelayanan RSNU Jombang Humanis dan Profesional
Direktur RSNU Jombang, dr Ade Armada Sutedja saat ditemui NU Online Jombang. (Foto: Dok NU Online Jombang)
Direktur RSNU Jombang, dr Ade Armada Sutedja saat ditemui NU Online Jombang. (Foto: Dok NU Online Jombang)

NU Online Jombang, 
Dalam memberikan pelayanan medis kepada pasien, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Kabupaten Jombang menekankan dua hal. Yakni, aspek humanis dan profesionalisme. Dua aspek ini menurut Direktur RSNU Jombang, dr Ade Armada Sutedja sesuai ajaran dalam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.


"Pelayanan di sini harus humanis dan profesional. Itu yang saya tekankan pada teman-teman," katanya kepada NU Online Jombang saat ditemui di ruangannya, Jumat (10/3/2023). 


Ia menjelaskan, dua hal itu menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan saling melengkapi di RSNU Jombang. Meski begitu, humanis harus didahulukan. Lalu didorong dengan aspek profesionalisme dokter atau perawat. Karena memperlakukan pasien dengan sebaik mungkin adalah hal yang paling utama. 


"Humanis dulu baru profesional, karena yang ditangani itu orang. Sedangkan profesional itu harus tetap ada. Tetapi, ingat kita juga punya nilai dan ajaran Aswaja ala an-Nahdliyah itu," ungkap pria yang akrab dengan panggilan dr Ade ini.


Lebih jauh, dr Ade menjelaskan bahwa humanis berkaitan dengan banyak hal. Yang paling tampak adalah sisi komunikasi dan interaksi antara dokter atau perawat dengan pasiennya. Bahkan menurutnya, pola komunikasi tenaga medis sangat dominan mempengaruhi keberhasilan sebuah rumah sakit dalam melayani pasien.


"Dari sisi komunikasi antara perawat atau dokter dengan pasien harus berlangsung baik. Saya tekankan itu di sini. Karena komunikasi itu 80 persen pengaruhnya. Nah, kalau yang 80 persen itu bermasalah, berisiko munculnya sengketa," jelas dr Ade.


Dalam kacamata dr Ade, sejumlah rumah sakit sudah barang tentu  dilengkapi dengan sumber daya tenaga medis yang kompeten di bidangnya masing-masing. Tetapi soal hubungan komunikasi yang baik antara dokter dengan pasiennya tidak semua rumah sakit bisa menerapkannya.


"Sengketa medik itu terjadi bukan karena dokternya nggak pintar atau perawatnya tidak pintar. Bukan! Tapi karena komunikasi dan sikap ya. Dalam berbicara, tindak tanduk. Kalau profesional itu kan ada namanya, kompetensi, itu sama sudah. Mau dokter A, dokter B, dan seterusnya. Tapi kembali pada sisi humanisnya," ujarnya.


Ia menyampaikan bahwa kebanyakan dari masyarakat memilih rumah sakit bukan semata karena kompetensi dokternya, tapi juga lantaran, dokter dan komponen yang lainnya di rumah sakit itu dinilai humanis dan betul-betul memperlakukan pasien dengan sebaik mungkin.


"Pasien saat berkomunikasi tenaga kesehatan yang menanganinya terkadang  tidak banyak bicara (tidak bertegur sapa), kadang ada yang  melengos, atau berkata kata kurang baik, sehingga jadi nggak enak komunikasinya dengan pasien, menyebabkan hubungan pasien dan tenaga kesehatan terganggu. Kalau ada laporan seperti itu akan kami klarifikasi, bila memang benar demikian, kami akan berikan teguran atau sanksi apabila diperlukan, sesuai aturan yang ada di RSNU," tegasnya.​​​​


Daerah Terbaru