• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Minggu, 14 Agustus 2022

Daerah

Mbah Sholeh Jelaskan Tugas Berat Ulama di Balik Nama 'NU'

Mbah Sholeh Jelaskan Tugas Berat Ulama di Balik Nama 'NU'
Wakil Syuriyah PCNU Jombang, Kiai M Sholeh saat di Turba Konsolidasi Jamiyah Menuju Satu Abad NU. (Foto: Dok NU Online Jombang)
Wakil Syuriyah PCNU Jombang, Kiai M Sholeh saat di Turba Konsolidasi Jamiyah Menuju Satu Abad NU. (Foto: Dok NU Online Jombang)
NU Online Jombang, 
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Kiai M Sholeh menjelaskan, karakter ulama tidak tunggal, juga tidak dapat dianggap semua ulama memiliki kepribadian yang baik. Ulama bermacam-macam.
 
"Ada ulama yang berakhlak ulama, ada juga ulama bedenggek yang bisanya merusak, kalau dia sampai belok di NU maka dia akan merusak NU," jelasnya saat menyampaikan arahannya di Turba Konsolidasi Jamiyah Menuju Satu Abad NU oleh PCNU di Masjid Rahmatul Ihsan, Desa Dapurkejambon, Jombang, Sabtu (30/10/2021).
 
Di sinilah kecerdasan KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, pencetus nama NU menyertakan al pada kata Nahdlatu Al Ulama. Karena menurut kiai yang kerap disapa Mbah Sholeh ini, al menunjukkan bahwa ulama yang ada di NU adalah ulama yang benar-benar mempunyai sifat dan karakter ulama, yaitu berakhlak mulia, bukan ulama bedenggek.
 
Imam Al-Ghazali mengkategorikan ulama menjadi dua. Pertama, ulama akhirat. Kedua ulama dunia. Ulama akhirat di NU menurut Mbah Sholeh memiliki ciri bahwa dia akan selalu fokus mengurus NU. Sedangkan ulama dunia atau yang biasa disebut ulama su' adalah kebalikannya. Ulama ini yang dikatakan Mbah Sholeh sebagai ulama bedenggek yang dapat merusak NU, lebih-lebih ulama itu sendiri.
 
Mbah Sholeh menegaskan, KH Mas Alwi bin Abdul Aziz memberi nama Nahdlatul Ulama dengan pertimbangan-pertimbangan bahasa dan arti yang matang. Sempat, sebelum akhirnya diputuskan nama Nahdlatul Ulama, ada nama lain yang mengemuka, yakni Jamiyah Ulama. Nama ini tidak disetujui karena alasan mendasar bahwa ulama harus bergerak. 
 
"Jamiyah kan artinya berkumpul, untuk apa kalau hanya sekadar berkumpul, apalagi di dalamnya ada ulama yang tidak bergerak dan ada ulama yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak memikirkan masyarakatnya. namun alhamdulillah Kiai Alwi tetap mempertegas gagasannya untuk menamai organisasi ini dengan kebangkitan ulama (Nahdlatul Ulama)," tambahnya.
 
Kehadiran ulama adalah sebagai sandaran umat. Ulama harus mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Pada persoalan hukum agama misalnya, NU sudah mentradisikan kegiatan bahtsul masail melalui Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) untuk memutuskannya. Tradisi tersebut menurut Mbah Sholeh sudah dilestarikan oleh ulama-ulama terdahulu.
 
"Bahkan, Resolusi Jihad lahir dari bahtsul masail, dalam memutuskan persoalan apapun dalam NU selalu melakukan kajian hukum dengan bahsul masail yang mana hal ini sudah menjadi tradisi para ulama sejak zaman dahulu," tegasnya.
 
Mengingat pentingnya bahtsul masail, Mbah Sholeh meminta semua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di Jombang membentuk LBMNU untuk menjawab persoalan hukum yang terjadi di lingkungan MWCNU masing-masing.
 
Keluhan yang diterimanya dalam hal ini adalah minimnya kader ulama. Sehinga pembentukan LBMNU di tingkat MWCNU sulit terwujud. Sampai hari ini belum semuanya MWCNU di Jombang berdiri.
 
Problem tersebut menurut Mbah Sholeh bukan menjadi faktor penghambat satu-satunya. Ia menegaskan, di Jombang banyak kader muda lulusan pesantren besar. Hanya saja mereka kadang tidak diberi panggung. Karena itu, tugas MWCNU adalah memberi kesempatan kepada mereka untuk aktif di LBMNU.
 
"Maka dari itu, tugas ranting dan MWCNU harus mengelola kader dari Lirboyo, Denanyar, Tambakberas, dan lain-lain. Tempatkan mereka dan harus berani memunculkan tokoh tokoh ulama muda atau para kiai muda yang akan menjadi estafet penerus perjuangan sesepuh," terangnya.
 
Kontributor: Karimatul Maslahah
Editor: Ahmad 


Daerah Terbaru