• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Minggu, 25 September 2022

Daerah

KH Salmanudin Yazid : Saya Sepakat Jika Menag Yaqut Minta Maaf Secara Pribadi

KH Salmanudin Yazid : Saya Sepakat Jika Menag Yaqut Minta Maaf Secara Pribadi
Gus Salman (Foto : NU Online)
Gus Salman (Foto : NU Online)

NU Online Jombang,

Beredarnya cuplikan video Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Yaqut Choilil Qoumas tentang pernyataannya yang diduga membandingkan suara adzan dengan gonggongan anjing menghebohkan publik. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, KH Salmanudin Yazid Al Hafidz sepakat jika Yaqut meminta maaf dan menjelaskan maksud perkataan tersebut.

 

Dihubungi melalui WhatsApp, pria yang lebih akrab disapa Gus Salman ini meyakini, Yaqut tidak ada niatan membandingkan suara adzan dengan gonggongan anjing. Mungkin, yang dimaksud adalah kesamaan tingkat kebisingan suara toa dengan suara gonggongan anjing.

 

"Saya sepakat kalau Menag Yaqut minta maaf dan menjelaskan kembali maksud sebenarnya. Walaupun sudah dijelaskan bawahannya. Statement itu kurang bisa diterima jika Menag Yaqut tidak menjelaskan sendiri secara langsung," jelasnya. 

 

Menurut Gus Salman, pernyataan Yaqut mungkin tidak akan menimbulkan masalah jika yang mengucapkan masyarakat biasa.

 

"Tetapi karena diucapkan seorang Menteri Agama maka timbul kegaduhan yang di dalamnya banyak kepentingan-kepentingan," imbuh Gus Salman.

 

Gus Salman mengatakan di Kabupaten Jombang sendiri, tidak ada laporan terkait penggunaan pengeras suara atau toa. Menurut Gus Salman, hal tersebut diserahkan kepada kearifan lokal masing-masing daerah.

 

Untuk diketahui, dalam video tersebut, Yaqut mengatakan penggunaan pengeras suara (toa) di Masjid harus diatur agar tercipta hubungan yang lebih harmonis dalam kehidupan antar umat beragama. Dia pun mengibaratkan suara adzan yang menggunakan toa itu dengan gonggongan anjing yang mengganggu hidup bertetangga.

 

"Kita bayangkan, saya Muslim saya hidup di lingkungan non muslim, kemudian rumah ibadah mereka membunyikan toa sehari lima kali dengan keras secara bersamaan, itu rasanya bagaimana?" kata Yaqut dalam cuplikan videonya.

 

Yaqut menyatakan tidak melarang rumah ibadah umat Islam menggunakan pengeras suara atau toa. Namun penggunaannya, kata Yaqut, harus diatur agar tidak mengganggu kehidupan umat beragama non muslim.


Daerah Terbaru