• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Daerah

Fase Mendidik Anak yang Baik bagi Orang Tua

Fase Mendidik Anak yang Baik bagi Orang Tua
Ilustrasi mendidik anak. (Foto: freepik.com)
Ilustrasi mendidik anak. (Foto: freepik.com)

NU Jombang Online, 
Mudir Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur KH Ahmad Mustain Syafii menjelaskan fase dalam mendidik anak. Hal ini perlu dijelaskan, karena banyak orang tua yang salah dalam mendidik anak.

 

Penjelasan ini disampaikannya saat mengisi kajian Islam di Masjid Agung Jombang. Fase tersebut sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam beberapa haditsnya.

 

“Saat anak kita berumur 0-7 tahun maka pendidikan yang cocok yaitu bermain. Karena saat itu memang fase bermain. Namun tetap harus dididik dan dipantau oleh orang dewasa. Seperti nabi menyuruh mengajari anak salat pada usia 7 tahun,” jelasnya, Jumat (29/3).

 

Pakar tafsir Al-Quran ini menambahkan, pada fase kedua yaitu saat anak berumur 7-14 tahun. Pada fase ini pendidikan yang cocok adalah pengajaran akhlak dan tata krama. Bahkan bila perlu disertai pemaksaan.

 

“Nabi pesan, jika anak sudah berusia 10 tahun dan anak tidak salat maka disuruh mukul. Usia ini diajarkan tata krama terhadap sang Khaliq, kepada orang tua dan manusia,” tambahnya.

 

Kiai Mustain mengatakan, pada fase berikutnya yaitu umur 14-21 tahun cara mendidik anak yaitu dengan pendekatan dialogis. Anak diajak curhat dan bercerita tentang masalah pribadinya. Disini kehadiran orang tua sangat dibutuhkan.

 

Di usia ini, anak-anak butuh perhatian, butuh diakui dan didengarkan pendapatnya. Bila orang tua tidak tanggap maka anak akan lari dan pergi mencari pelampiasan ke orang lain. Apalagi saat usia ini, anak mulai tertarik ke lawan jenis.

 

“14 tahun keatas anak adalah teman ortu. Jadi pendekatannya dialogis. Kita perlu ingat pesan Khalil Gibran. Anakmu bukan anakmu. Kamu bisa membuatkan rumah untuk raganya. Tapi tidak untuk jiwanya,” ungkap Kiai Mustain.

 

Dikatakannya, terkadang dalam mendidik anak orang tua seringkali menganggap jika putera-puterinya masih anak-anak. Sehingga diperlakukan kayak anak-anak.

 

“Ketika nuturi anak lewat lidah itu rawan menyakiti perasaan, kadang anak merasa bukan anak kecil lagi. Maka doa menjadi senjata utama,” ujarnya.

 

Allah mencontohkan orang tua yang mendoakan anak-anaknya. Seperti dalam  Al-Quran surat Ali Imron ayat 36, ada contoh doa Maryam untuk bayinya. Doa Nabi Ibrahim untuk anak turunnya juga banyak di Alquran. Misalnya Surat Ibrahim ayat 40-41. Sehingga banyak anak turun Nabi Ibrahim yang jadi nabi.

 

“Tradisi nabi-nabi adalah mendoakan anak-anaknya,” tandas Kiai Mustain. (Syarif Abdurrahman/Syamsul Arifin) 


Editor:

Daerah Terbaru