Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Fiqih Opini Keislaman Khutbah Mitra

PR Besar Aspendif Membumikan Kitab Kuning di Masyarakat

PR Besar Aspendif Membumikan Kitab Kuning di Masyarakat
Simposium "Penguatan Pemahaman Moderasi Beragama Melalui Literasi Kitab Kuning bagi Asatidz Pendidikan Diniyah Formal Tahun 2021" dan Silatnas IV (Foto : NU Online/ Sohibul Huzair Ellathoillah)
Simposium "Penguatan Pemahaman Moderasi Beragama Melalui Literasi Kitab Kuning bagi Asatidz Pendidikan Diniyah Formal Tahun 2021" dan Silatnas IV (Foto : NU Online/ Sohibul Huzair Ellathoillah)

NU Online Jombang,

Kitab kuning memiliki banyak pesan, nilai, dan ajaran yang bisa menjadi bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Akan sangat berguna jika literasi kitab kuning dapat menyebar di masyarakat.

 

Hal ini dibahas serius dalam Simposium Penguatan Pemahaman Moderasi Beragama Melalui Literasi Kitab Kuning bagi Asatidz Pendidikan Diniyah Formal Tahun 2021 dan Silatnas IV yang dilaksanakan mulai tanggal 8 hingga 10 November 2021 oleh Asosiasi Pendidikan Diniyah Formal (Aspendif)

 

Menurut KH Fathullah Turmudzi, Ketua Aspendif, kitab kuning akan susah dipahami secara tekstual oleh masyarakat awam. Tetapi jika menggunakan bahasa yang mudah dipahami, maka pendekatan literasi dengan bahasa yang lekat di masyarakat tentu lebih memudahkan.

 

“Kajian kitab kuning tidak harus disampaikan dalam bentuk teks seperti biasa kita baca kitab kuning. Bentuk literasi yang disampaikan ke masyarakat, konteksnya adalah nilai-nilai yang yang terdapat dalam kitab kuning disampaikan dengan bahasa sederhana yang dimengerti oleh masyarakat," jelasnya.

 

Ia menambahkan, kajian-kajian kitab kuning merupakan penunjang dari program utama Aspendif yakni, takhassus tafaqquh fiddin atau mengkhususkan pada pendalaman ilmu agama.

 

“Program Aspendif yang utama adalah takhassus tafaqquh fiddin dalam konteks penguatan Al-ulumul as-syar'iyyah, al-ulumul adab, pembelajaran dan pengajaran. Ini adalah ikhtiar kami yang bermuara menghasilkan ahli fiqih," paparnya.

 

Pihaknya ingin memberikan pemahaman baru tentang bagaimana pesan moderasi menurut perspektif pondok pesantren. Khususnya, untuk pesantren yang menyelenggarakan Pendidikan Diniyah Formal.

 

"Kami ingin nilai-nilai moderasi ini bisa disajikan dalam bentuk narasi dan tulisan yang baik," pungkasnya.

 

Untuk diketahui, kegiatan ini bertempat di Pondok Pesantren Al Fitroh, Surabaya. Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta dari seluruh Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Aceh, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan selatan, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

 

Kontributor : Sohibul Huzair Ellathoillah

Editor : Fitriana

Terkait

Warta Lainnya

terpopuler

rekomendasi