• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Kamis, 20 Juni 2024

Fiqih

Hukum Tawaf dan Sa'i Naik Sekuter

Hukum Tawaf dan Sa'i Naik Sekuter
Jamaah haji Indonesia naik sekuter. (Foto: Istimewa)
Jamaah haji Indonesia naik sekuter. (Foto: Istimewa)

Uang memang berpotensi memudahkan orang untuk memenuhi kebutuhannya. 


Demikian pula saat berhaji, Pemerintah Saudi memberikan layanan memudahkan di Mathof (tempat tawaf ) dan di Mas'a (tempat sa'i) berupa kendaraan sekuter.


Bagi jamaah haji yang mempunyai uang lebih sangat mungkin menggunakan layanan ini agar tidak terlalu capek.


Lalu bagaimana perspektif fiqih mengenai perihal orang tawaf-sa'i tanpa uzur apapun menggunakan layanan sekuter, boleh atau tidak? 


Almuhadzab mengatakan boleh tanpa makruh. 


فإن طاف راكبا بلا عذر جاز بلا كراهة لكنه خلاف الاولى


Artinya, "Apabila ada orang melaksanakan tawaf berkendara tanpa adanya uzur, maka boleh tanpa makruh, hanya saja menyalahi keutamaan". 


Senada dengan Almuhadzab adalah Almajmu' yang menyoroti kasus sa'i berikut:


ذكرنا أن مذهبنا أنه لو سعى راكبا جاز ولا يقال مكروه


Artinya, "Telah aku sampaikan bahwa sesungguhnya madzhab kita (Syafi'i) berpendapat bahwa apabila ada orang melaksanakan sa'i dengan berkendara, maka boleh dan tidak dikatakan makruh". 


Meski demikian, menurut hemat Alfaqir, bagi orang yang tidak ada uzur sebaiknya melaksanakan tawaf-Sa'i dengan berjalan kaki karena hal ini yang sering dilakukan oleh nabi, meski terkadang nabi juga berkendara. 


Karenanya, Alhawi Alkabir menegaskan:


طواف الماشي أولى وافضل من طواف الراكب


Artinya, " Tawafnya orang yang berjalan kaki itu lebih utama daripada tawafnya orang yang berkendara". 


Enjoy berfiqih bukan menghilangkan kehadiran hati dalam beribadah. Wallahu a'lam bishshawab.



*Ditulis oleh KH M Sholeh, tokoh NU Jombang, aktif mengajar di beberapa pondok pesantren di Jombang.


Fiqih Terbaru