Home Warta Nasional Fiqih Daerah Bahtsul Masail Opini Keislaman Amaliyah NU Khutbah Humor Ekonomi Lainnya Buku/Resensi Video Nyantri MWC Ranting NU Pengurus

Perjuangan Hajjah Mas'amah, Ketua Muslimat NU Pertama di Mojowarno

Perjuangan Hajjah Mas'amah, Ketua Muslimat NU Pertama di Mojowarno
Foto Mbah Amah di Ruang tamu (Foto: Annisa/Redaksi NUJO)
Foto Mbah Amah di Ruang tamu (Foto: Annisa/Redaksi NUJO)

NU Online Jombang,
Jika berbicara tentang bagaimana Muslimat Nahdlatul Ulama berperan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan yang sesuai dengan ahlussunnah wal Jama'ah, maka kita bisa melihat banyak perempuan hebat yang bekerja keras membesarkan Muslimat terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

Hajjah Mas'amah adalah salah satunya. Perempuan yang kini sudah tidak lagi muda ini telah menorehkan sejarah panjang perjuangan perempuan dalam Muslimat NU, khususnya di kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Awal Perjalanan

Sebagai seorang aktivis Muslimat NU di tahun 1960-an, perempuan yang lebih akrab disapa Mbah Amah ini terlihat masih cukup energik. Awal mula kontributor NU Online Jombang datang ke kediamannya, ia terlihat duduk dengan santai di atas kursi pojokan ruang tamu rumahnya.

Disambut cucu dan cicitnya, kami dipersilahkan untuk masuk dan Mbah Amah pun menyambut dengan ramah terbuka. 

Mbah Amah dikenal cukup berpengaruh di Muslimat NU, khususnya di kecamatan Mojowarno. Menolak tua dalam berjuang dan berdakwah melalui Muslimat NU, mungkin hal itu dapat menggambarkan Mbah Amah yang masih cukup aktif di Muslimat NU hingga saat ini. 

Lahir pada 1927 dari pasangan Sukaimi dan Asfiyah di Desa Badang Kecamatan Ngoro itu, tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang agamis. Bisa dibilang sejak kecil, lingkungannya sudah mendidiknya secara NU.

Anak kedua dari enam bersaudara ini sebelum aktif di Muslimat NU, pernah mengikuti Fatayat NU. 

Sampai akhirnya, Mbah Amah menikah dan menetap di Mojowarno. Namun, sayangnya saat itu belum terbentuk Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Mojowarno. Karenanya, Mbah Amah yang selalu ingin belajar sekaligus berjuang bersama NU akhirnya pada 1961 lebih sering mengikuti kegiatan yang diadakan Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Jombang. 

“Waktu itu masih belum ada PAC di Mojowarno. Saya ingat waktu itu terus berupaya melakukan komunikasi dengan PC Muslimat NU Kabupaten Jombang agar PAC Muslimat NU di Kecamatan Mojowarno dapat dibentuk," ujarnya seraya membuka kembali ingatannya yang masih jelas di kepala.

Mbah Amah cukup kesulitan menjalankan kegiatan Muslimat di tingkat kecamatan karena PAC belum bisa terbentuk. Setiap melakukan kegiatan, akhirnya harus bergabung dengan aktivitas bapak-bapak dalam NU.

Hingga akhirnya, gayung pun bersambut. Yang diharapkan Mbah Amah terwujud pada 1967, dimana PAC Muslimat NU Kecamatan Mojowarno dibentuk. Karena Mbah Amah aktif berkecimpung dan memperjuangkan Muslimat NU, ia pun dikukuhkan sebagai Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Mojowarno.

Tepat setelah dikukuhkan, Mbah Amah berusaha untuk mencari kader Muslimat yang siap diajak berjuang demi memasyarakatkan Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah di Kecamatan Mojowarno. 

Bertemankan Hajjah Siti Zahrotun yang merupakan istri dari KH Chotibul Umam, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Faizin Desa Catakgayam, Mbah Amah melakukan dakwah sembari melebarkan sayap dengan membentuk Pimpinan Ranting dari satu desa ke desa yang lain.

Hujan dan panas tak pernah menjadi kendala yang berarti. Dengan mengendarai becak, satu per satu ranting berhasil dibentuk.

Berkat perjuangan Mbah Amah, Muslimat NU di Mojowarno akhirnya dapat mengadakan kegiatan sendiri diikuti oleh semua Pimpinan Ranting (PR) yang ada di Kecamatan Mojowarno. 

"Kami mulai bisa membuat kegiatan secara pindah-pindah dari satu desa ke desa yang lain setiap hari Ahad Pon,” katanya.

Tidak seperti hari ini, perjuangan di zaman itu sangatlah berat dan membutuhkan kesabaran berlebih. Untungnya, sang suami dan keluarganya selalu memberikan dukungan penuh pada apa yang dilakukannya.

Minimnya fasilitas tidak mengecilkan nyala semangat Mbah Amah dalam berjuang. Untuk diketahui, Muslimat berdiri di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), yang tidak hanya berkutat dalam hal pendidikan serta kesehatan melainkan juga secara aktif bergerak dalam bidang politik terutama sejak tahun 1952.

Dan di tahun 1964 dan 1965 Muslimat bahkan membuat pernyataan sikap yang cukup tegas dalam penolakan komunis yang berkembang di Indonesia. Muslimat mengambil alih sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan dan hal itu juga berimbas hingga tingkatan bawah.

Di tahun 1968, Mbah Amah yang sudah bergerilya membangun PR dari desa ke desa akhirnya berhasil membentuk kepengurusan PAC Muslimat NU Mojowarno secara lengkap. Tidak hanya itu, berbekal semangat, ia juga membentuk panitia pembangunan Kantor PAC Muslimat NU Mojowarno yang bersebelahan dengan Yayasan Pendidikan Raden Rahmat di Desa Selorejo.

“Kami sering mengadakan pertemuan berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya, karena waktu itu kami belum punya gedung tetap. Kami jalani semuanya dengan ikhlas, hingga akhirnya mendapat bantuan sebidang tanah untuk dijadikan Gedung pertemuan," paparnya.

Keberhasilan

Semasa berjuang sebagai ketua PAC Muslimat NU Mojowarno, Mbah Amah dikenal sebagai sosok yang baik, ramah, tegas dan bersahaja. Mbah Amah berhasil membentuk 19 PR Muslimat NU di Kecamatan Mojowarno pada akhir kepengurusannya. Kepengurusan periode pertama di tahun 1967 hingga akhir periode tahun 2004, digunakannya untuk memperluas ranting-ranting.

Mengabdi di usianya yang mencapai 96 tahun, Mbah Amah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Roudhotul Athfal (RA) Muslimat di sebelah rumahnya di Desa Menganto Kecamatan Mojowarno. Di lain waktu, ia juga masih mengisi pengajian ibu-ibu di wilayah Mojowarno. Nampaknya dunia dakwah dan sosial tak pernah lepas dan terus menjadi bagian penting dari hidupnya.

Di masa pandemi Covid-19 seperti ini ia merasa sedih, karena tak bisa mengaji rutin dan melaksanakan kegiatan seperti biasanya. Ia berharap Pandemi segera usai agar dapat segera kembali beraktivitas seperti biasa.

Amalan Mbah Amah

Saat ditanya amalan apa yang diamalkan agar ingatannya kuat dan panjang umur, ia dari dulu hanya mengamalkan amalan yang diberikan oleh Nyai Khoiriyah Hasyim, putri kedua KH Hasyim Asy’ari.

“Dulu saat Bu Nyai baru pulang dari Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau memanggil saya untuk datang ke rumah. Ternyata saya disana tak hanya sekedar dipanggil namun juga diberikan ijazah amalan yang sampai saat ini masih saya amalkan setiap hari,” terangnya.

Amalannya sederhana, Amalan Mbah Amah yakni membaca Al fatihah sebanyak 41x setelah salat.

"Alfatihah pertama ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Alfatihah kedua ditujukan kepada Syekh Abdul Qadir Al Jaelani, kemudian Alfatihah ketiga ditujukan kepada Ahli kubur dan terakhir, Alfatihah keempat ditujukan untuk hajat yang diinginkan," pesannya.

Pesan Mbah Amah Kepada Generasi Muda

Ia berpesan, kepada para generasi muda untuk meniatkan semua hal yang dijalankan hanya semata karena Allah ta’ala.

“Ayo sama-sama berjuang sesuai bidangnya masing-masing di jalan Allah lewat Jemaah Nahdlatul Ulama. Dengan niat bersungguh-sungguh, insyaallah semuanya akan mendapati barokahnya masing-masing. Aamin,” pungkasnya.

 

Kontributor: Annisa Rahma Nur Listia
Editor : Fitriana

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

Warta