• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Selasa, 27 Februari 2024

Daerah

Membuka Sejarah RSIA Muslimat NU (Mendaki Gunung Lewati Lembah demi Membesarkan BKIA Muslimat — Bagian 3)

Membuka Sejarah RSIA Muslimat NU (Mendaki Gunung Lewati Lembah demi Membesarkan BKIA Muslimat — Bagian 3)
Bidan, Perawat dan Segenap Pengurus Muslimat NU termasuk Bu Nyai Hajjah Muktamaroh (Foto: Dok RSIA Muslimat NU)
Bidan, Perawat dan Segenap Pengurus Muslimat NU termasuk Bu Nyai Hajjah Muktamaroh (Foto: Dok RSIA Muslimat NU)

NU Jombang Online,
Abu Bakar As-Shiddiq pernah mengatakan, barang siapa melibatkan diri dalam pekerjaan Allah SWT, maka Allah SWT akan terlibat dalam pekerjaannya. Maka hal itu yang dikerjakan oleh Bu Nyai Hajjah Muktamaroh bersama dengan seluruh pekerja BKIA Muslimat. Selain berusaha untuk mencukupi materi yang dibutuhkan dalam pembangunan, seluruh pegawai maupun tenaga medis yang bertugas di RSIA Muslimat absen untuk sholat dhuha atau puasa Senin dan Kamis.

 

Bu Nyai selalu berpesan, sholat dhuha dan puasa Senin-Kamisnya jangan pernah dilupakan. Hal itu merupakan ikhtiar agar dalam mendirikan BKIA Muslimat diberikan jalan yang lancar dan dibantu oleh Allah SWT.

 

“Berkat doa bersama rumah sakit ini bisa berdiri seperti sekarang. Prosesnya tidak pernah mudah. Usaha harus selalu disertai dengan doa yang khusyuk dan istikamah. Insyaallah akan berkah,” ujarnya.

 

Ketika ditanya apa hal paling sulit yang pernah dijalani ketika proses pendirian BKIA dilakukan, Bu Nyai Hajjah kemudian terkenang dengan perjalanan awalnya bersama bu Nyai Hajjah Annisa Sukur, Ibunda istri dari KH Abdurrahman Wachid yang saat itu juga aktif sebagai pengurus Muslimat Cabang Jombang. 

 

“Kami waktu itu mendapat tekanan dari rumah sakit yang sudah lebih dulu berdiri. Bahkan ada ancaman kalau sampai berobat ke BKIA nanti jabatan PNS (Pegawai Negeri Sipil. Red) akan dicopot. Ada juga yang menjelek-jelekan perawatan kami yang memang waktu itu masih serba minimalis. Tapi kami tetap melakukan penyuluhan ke desa-desa, memberikan edukasi kesehatan supaya mereka percaya dengan BKIA. Saya bahkan minta ke Bu Nyai-Bu Nyai kalau melahirkan harus di BKIA terus saya minta mereka tanda tangan. Biar mereka percaya bahwa kami pun berobat dan melahirkan di sana,” jelasnya.

 

Perjalanan BKIA Muslimat tidaklah mudah. Selain menerima banyak tentangan dari rumah sakit atau poliklinik yang sudah lebih dulu ada, BKIA Muslimat juga terus menerus dipukul mundur. Seakan, tidak dikehendaki berdiri. Meski begitu perjuangan Bu Nyai Hajjah Muktamaroh beserta dengan pengurus Muslimat yang lain terus bergerilya ke ranting-ranting. Sampai akhirnya munculkan kebijakan keluarga berencana (KB) pada pemerintahan orde baru.

 

Baca juga: Membuka Sejarah RSIA Muslimat (Saya Terima Amanah Itu Bagian — 1)

 

Pada 17 Oktober 1968, setelah pengkajian di bawah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Idham Chalid dan atas restu Presiden RI saat itu, Soeharto, Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang semi-pemerintah pun didirikan. Pemerintah Orde Baru sangat mendukung. LKBN akhirnya menjadi Lembaga pemerintah non-departemen dengan nama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 1970, berdasarkan Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1970 dengan dr. Suwardjo Suryaningrat sebagai kepalanya. Pada tahun 1972, lembaga ini resmi menjadi lembaga pemerintah non-departemen yang berkedudukan langsung di bawah presiden.

 

Pemerintah pusat bahkan menggalakkan program KB hingga pelosok desa. Selama masa itu, promosi program KB berhasil menggugah seluruh masyarakat hingga ke pelosok-pelosok Indonesia. Pada tahun 1970 hingga 1980, penyelenggaraan program KB Nasional dikenal dengan sebutan Management for the People. Pada periode ini, pemerintah lebih banyak berinisiatif karena partisipasi masyarakat sangat rendah.

 

Baca juga: Membuka Sejarah RSIA Muslimat (Gadaikan Sertifikat Rumah hingga Perhiasan Demi Membesarkan RSIA — Bagian 2)

 

Bu Nyai Hajjah Muktamaroh dan Bu Nyai Hajjah Anisa Sukur pada periode ini sangat berperan aktif dalam menyukseskan program KB. Mereka bahkan harus menempuh jarak berkilo-kilo untuk menyosialisasikan program KB dengan menggunakan sarana ojek motor. 

 

“Dulu kan program KB itu diinstruksikan melalui perangkat desa. Jadi ya lurah, ya camat itu meminta seluruh ibu-ibu untuk menggunakan KB. Hanya saja waktu itu kan masih tabu ya dilakukan. Salah satunya karena keraguan halal dan tidaknya KB, kemudian aman atau tidaknya memasang alat KB untuk mengatur jumlah kelahiran. Jadi waktu itu kami turun ke bawah, ke seluruh pelosok desa di Jombang. Karena nggak ada kendaraan umum, jadi kami naik ojek dari Kudu ke Ploso buat sosialisasi KB. Saya ingat waktu itu saya sedang hamil anak saya yang nomer 9. Tapi semua saya lakukan dengan senang hati,” ujar Bu Nyai Hajjah Muktamaroh seraya terkenang awal perjuangan itu.

 

Berkatnya, Jombang bahkan menjadi kota percontohan yang berhasil melakukan program KB dengan sukses di tahun 1973-1974. Bu Nyai Hajjah Muktamaroh bahkan menerima penghargaan dari pemerintah provinsi sebagai motor penggerak KB. Ia bahkan diundang di kota-kota besar untuk menjadi pembicara. Rahasianya tentu saja pada kecerdikan Bu Nyai dalam menyosialisasikan program tersebut dengan mengajak ulama untuk bekerja sama dan tentu saja karena tenaga medis di BKIA sangat mumpuni melakukan pemasangan alat KB dibandingkan dengan tenaga medis yang disediakan oleh pemerintah kabupaten sendiri.

 

“Saya minta saran ke Mbah Kyai delan (KH Adlan Aly) soal pelaksanaan KB ini, apakah dibolehkan secara syariat, lalu mbah Kyai bilang selama niatnya KB itu untuk mengatur jarak kelahiran dan bukan untuk pembatasan kelahiran, hal itu diperbolehkan dalam islam. Berbekal itu lah, saya membawa fatwa mbah kyai itu ke pelosok-pelosok. Sehingga mereka pun patuh untuk melakukan KB,” papar bu Nyai sembari tersenyum.

 

Jadi dulu, menurutnya, BKIA Muslimat menjadi yang terbanyak menerima pasien KB. Dari target 70 sampai 100 pasien yang diberikan, BKIA Muslimat bahkan dipenuhi ibu-ibu muda dalam waktu singkat hingga 300 lebih pasien untuk memasang alat KB. Hal ini kemudian membuat BKIA Muslimat dilirik oleh Bupati Jombang ketika itu, HR Soedirman Mertoadikoesoemo.

 

Pak Dirman, begitu bu Nyai menyebutnya, datang ke rumah pribadi Bu Nyai untuk memberikan mandat dalam menyukseskan program KB. Ia melihat BKIA Muslimat tidak setengah-setengah dalam menjalankannya. Dokter, bidan, dan tenaga medis yang berperan juga tidak lepas tanggung jawab ketika selesai melakukan pemasangan KB. Setelah selesai memasang alat KB, pasien diberikan waktu kontrol untuk meyakinkan bahwa pemasangan alat KB berhasil.

 

“Pak Dirman ketika itu sangat terkesan dengan cara kerja kami. Berbeda dengan tenaga medis di desa-desa, mereka tidak bertanggung jawab ketika ada tangan yang bengkak setelah memasang KB Implan. Setelah memasang alat, sudah. Tidak ada keberlanjutan. Kalau di BKIA tidak begitu, kami memberikan garansi. Jadi ibu-ibu muda itu semakin percaya dengan keberadaan BKIA Muslimat. Dan Pak Dirman melihat itu sehingga beliau memberi kami target lebih besar lagi dan kami berhasil melakukan target itu. Setelahnya, beliau memberikan bantuan ruang bidan beserta dapurnya,” ujarnya.

 

Dari situ, BKIA Muslimat makin diakui publik dengan tempat dengan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Tidak tanggung-tanggung, untuk membantu umat, kartu anggota Muslimat ketika itu bahkan berlaku sebagai kartu diskon dalam berobat atau melahirkan. Ada potongan 25 persen untuk pemegang kartu Muslimat.

 

“BKIA Muslimat ini berasal dari umat dan tentu juga harus bermanfaat untuk umat. Banyak yang bilang, oh rumah sakit Muslimat itu punya Bu Nyai Hajjah Muktamaroh. Padahal ya bukan. RSIA Muslimat ini ya punyanya Muslimat, sertifikatnya juga atas nama yayasan Muslimat. RSIA bahkan mendanai sebagian besar kegiatan Muslimat. Termasuk juga membiayai anak yatim di rumah yatimnya Muslimat, memberikan pengobatan gratis yang rutin dilakukan setiap hari lahir rumah sakit dan masih banyak lagi lainnya. Saya ini kan cuma menjalankan amanah yang diberikan sejak pertama kali tanah wakaf ini diserahkan pada Muslimat NU,” jelas Bu Nyai.

 

(Bersambung ke Bagian 4: Era Transisi BKIA ke RSIA Muslimat NU)

 

*Catatan: Data tentang KB diambil dari berbagai sumber

 

Pewarta: Nur Fitriana


Editor:

Daerah Terbaru