• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Daerah

Ketika Non-Santri Ekspresikan Kehidupan Pesantren Lewat Mading 3 Dimensi

Ketika Non-Santri Ekspresikan Kehidupan Pesantren Lewat Mading 3 Dimensi
Salah satu karya peserta lomba Mading 3 dimensi dalam rangka memperingati Hari Santri 2019. (Foto: NU Jombang Online/Syamsul Arifin)
Salah satu karya peserta lomba Mading 3 dimensi dalam rangka memperingati Hari Santri 2019. (Foto: NU Jombang Online/Syamsul Arifin)

NU Jombang Online, 
Rangkaian kegiatan Hari Santri 2019 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur masih terus digelar. Hari Selasa (15/10) kemarin, lomba Mading 3 dimensi dilaksanakan di Aula Kampus Universitas KH Abdul Wahab Chasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang. Ini merupakan kegiatan keempat dari berbagai acara yang disusun panitia.

Ketua Panitia Hari Santri 2019, H AR Jauharuddin Alfatih mengungkapkan, ada yang nenarik dari lomba Mading 3 dimensi ini. Yaitu peserta yang mayoritas siswa-siswi yang bukan kalangan santri dituntut untuk mengekspresikan atau menggambarkan kehidupan santri dan pesantren. Hal ini menurutnya juga sebagai filosufi diselenggarakannya lomba.

"Filosufi Mading 3 dimensi sebagai wadah ekspresi santri, siswa dan siswi
kita sengaja ngambil dari luar, dari SMA, SMU, SMK dengan tema kesantrian, barangkali mereka belum berkesempatan berekspresi tentang pesantren, kemudian bisa diekspresikan lewat Mading 3 dimensi ini," katanya.

Panitia Hari Santri foto bersama dengan peserta lomba Mading 3 dimensi

Hasil imajinasi atau ekspresi dari masing-masing peserta tentu akan cenderung subjektif sesuai pengetahuan mereka. Namun justru dari aspek subjektif ini akan lebih menarik dan memiliki nilai yang unik. 

"Ada apa di kehidupan pesantren bagi mereka?, mereka bisa mengekspresikan lewat Mading 3 dimensi ini," imbuh Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Rabithah Ma'ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jombang itu. 

Mading 3 dimensi layak diperlombakan seiring dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini. Masyarakat tentu akan lebih kaya imajinasi, dan hasilnya pun akan lebih menarik.

"Kalau dulu Mading cukup dengan kertas lalu ditempelkan di dinding, kalau hari ini tidak cukup, maka harus diekspresikan lewat 3 dimensi. Ini juga wujud mewujudkan kreasi yang unik," jelasnya.

Ketua Pelaksana Hari Santri 2019 Jombang, H AR Jauharuddin Alfatih saat diwawancarai awak media

Nilai keunikan pesantren dari Mading 3 dimensi karya anak bangsa itu layak menyentuh pasar industri dengan mulai mempromosikan di depan khalayak umum. Sehingga pengetahuan serta daya tarik masyarakat terhadap pesantren kian tinggi.

"Mading 3 dimensi ini adalah lomba paling pantas dibawa ke ruang publik, hasil lomba adalah semacam karya artistik setara dengan lukisan, ini layak tampil di ruang publik yang berkelas, katakanlah di mall, atau di tempat lain yang masyarakat tidak mengetahui kehidupan pesantren, dan lewat mading ini bisa mengetahuinya," ucapnya.

Kiai muda Pengasuh Pesantren Al-Ghazali Bahrul Ulum Tambakberas ini menegaskan, bahwa ada pesan moral dalam lomba Mading 3 dimensi. Tentu adalah sejumlah karakter yang hanya dimiliki pesantren tak akan lepas dari karya peserta lomba. Seperti keunikan, kemandirian dan seterusnya. Karakter itu nantinya dituangkan melalui kekayaan inovasi mereka, sehingga mempunyai daya seni yang tinggi.

"Pesan moral dari Mading 3 dimensi ini adalah keunikan, berkarakter, dan punya pranata sosial dan psikologis yang spesifik yang mungkin tidak ada di kehidupan di luar pesantren, maka lewat mading ini, keunikan tersebut bisa diekspresikan," pungkas Gus Rudin, sapaan akrabnya. (Syamsul Arifin) 


Editor:

Daerah Terbaru