Menguak Rahasia Silaturrahim

الخطبة الأولى

 الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ نَفْسِ وَاحِدَةٍ، وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِتَكُوْنَ عَيْشُهَا مُطْمَئِنَّةً. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

     أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِى كُلِّ وَقْتٍ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

Ma’asyiral Muslimin Rakhimakumullah ! …..

Bulan demi bulan dalam tahun Hijriah ini, tak terasa telah kita lewati. Kini tibalah kita di bulan Rabi’ul Akhir atau disebut juga Rabi’uts Tsani atau dalam bahasa kita menyebutnya sebagai Ba’da Mulud. Pada bulan Rabius Tsani ini, marilah kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintahNya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, juga meninggalkan larangan-laranganNya dengan sabar dan tawakkal kepadanya.

Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah !

Sebagai umat muslim yang baik dan berilmu, sangat patut kiranya jika ucapan syukur senantiasa kita panjatkan setiap saat. Mengapa?…..karena dalam agama yang kita anut ini (Islam), terkandung nilai dan norma-norma yang sangat tinggi nilainya. Dan jika seluruh nilai dan norma yang merupakan jalan hidup (way of life) tersebut dijalankan secara menyeluruh, niscaya baik kita sadari walaupun tidak hal tersebut akan mendatangkan kemaslahatan baginya, baik di dunia kita sekarang ini maupun di kehidupan yang mendatang.

Salah satu dari tuntunan hidup Islam tersebut adalah silaturrahmi. Bahkan lebih dari itu, silaturrahmi merupakan salah satu ajaran akhlaq yang paling asasi di dalam Islam. Dalam konteks keseharian kita masyarakat Indonesia yang notabe nenya sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, pelaksanaan praktek silaturahmi dapat dengan mudah kita jumpai.

Bersilaturahmi hendaknya dilaksanakan dan dijalankan secara menyeluruh, luar dan dalam, secara lahiriyah dan bathiniyah. Nuansa persaudaraan ini haruslah terjalin dari hati ke hati, hal itu berarti bahwa ibadah yang hukumnya wajib ini haruslah disertai rasa tulus dan ikhlas. Layaknya ibadah wajib lainnya dalam syari’at Islam, silaturahmi bisa membawa implikasi langsung dan tidak langsung terhadap jalannya roda kehidupan seorang muslim. Hal ini juga membawa dampak sebab-akibat, baik ketika silaturahmi itu kita laksanakan atau ketika kita meninggalkannya. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda :

“Barangsiapa yang ingin banyak rezeki dan panjang usia, sambungkanlah tali silaturahmi”. (HR. Bukhari)

Hadits di atas hanya merupakan salah satu contoh dari sekian banyak keutamaan silaturahmi. Dengan silaturahmi kita akan mendapat limpahan kasih sayang dari orang-orang terdekat kita, sebagaimana Allah akan lebih menyayangi kita. Lebih dari itu, silaturahmi dapat membawa kita menuju pintu surga di akhirat kelak, Insya Allah…….. Sebaliknya manakala kita meninggalkan silaturahmi, kita akan mendapatkan imbalan yang telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya :

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ (محمد: 23)

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka” (QS. Muhammad : 23).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Abi Awfa, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

إن َّ الرَّحْمَةَ لَا تَنْزِلُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

”Rahmat (Allah) tidak akan turun kepada suatu kaum/ummat yang di dalamnya terdapat orang yang memutus tali silaturrahmi”. (HR. Bukhari).

Pada hakikatnya bentuk pengejewantahan dari silaturrahmi tidaklah hanya sebatas aksi saling mengunjungi antar sesama. Banyak hal yang bisa kita laksanakan, termasuk dalam kategori pelaksanaan silaturahmi. Ibnu ‘Abidin al-Hanafy berkata : ”Silaturahmi itu wajib hukumnya walaupun hanya dengan mengucapkan salam, memberi selamat, dengan memberi hadiah, dengan menolong sesama, atau dengan mujalasah, bersikap lembut, berbuat ihsan”.

Ahli Jum’ah yang dimuliakan Allah ! ……. .

Alangkah indahnya dunia ini jika penduduknya saling cinta mencinta, saling sayang menyayangi dengan menyambung silaturrahmi. Rasulullah SAW bersabda : ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling cinta-mencintai dan sayang menyayangi di antara mereka bagaikan satu tubuh. Jika sebagian dari tubuh itu mengadu, seluruh tubuh menghendaki pemeliharaan dan pengawasan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Apa yang disabdakan Rasulullah tadi, sungguh benar. Karena beliau memprak-tekannya sendiri dalam dakwahnya. Salah satu sifat mendasar yang dilakukan beliau dalam mendukung gerakan dakwahnya adalah memperbanyak silaturrahmi. Bahkan terhadap lawan politik dan dakwahnya sekalipun, beliau tak segan untuk datang, bila mereka mengundangnya. Dalam catatan para ahli sejarah, ketika bangSAWan kafir Quraisy yang dipelopori oleh Al-Munghirah dan Abu Sufyan yang memusuhi Nabi SAW, mengundang beliau ke rumah Al-Munghirah untuk bermudzakarah. Nabi datang dengan antusias sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas undangan tersebut sekaligus memperlihatkan akhlaknya yang mulia dan agung. Saat dialog berlangsung Ibn Ummi Maktum -seorang shahabat Nabi- datang dengan pakaian compang-camping serta buta. Secara spontan Nabi menyambutnya dengan riang dan bangga. Karena memang begitulah sifat beliau. Tetapi Al-Munghirah dan kawan-kawannya merasa sangat tersinggung dan terhina sehingga raut mukanya tampak begitu masam.

Kemudian, ketika Bilal bin Rabah seorang budak belian dari Habasya diperlakukan secara tidak manusiawi karena dianggap bukan bangsa manusia, disiksa dengan kejam, dicaci maki dengan kebengisan, Nabi datang menyapa dan memeluknya dengan penuh kasih dan cinta. Akhlak Nabi yang begitu agung telah membuka kesadaran dan sugesti kuat yang mendorongnya menerima Agama Islam. Sedemikian kuatnya, sehingga pengaruh silaturrahmi sebagai metode dakwah memberikan daya pikat pada berbagai kalangan untuk bergabung kedalam kafilah rohani yang dipimpinnya. Nabi menunjukan akhlak mulia dan agung secara simpatik di tengah-tengah amuk massa yang menolak dakwahnya, dan itu membuktikan kebenaran jaminan Allah di dalam Kitab suci Al-Quran, sebagaimana Firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم: 4)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah !

Di kisahkan, bahwa Amirul Mukminin Mahdi ra, telah memasukkan Musa bin Ja’far kedalam penjara karena dikhawatirkan ia akan melakukan pemberontakan. Pada suatu malam, Amirul Mukminin Mahdi mengerjakan shalat tahajjud. Di dalam shalatnya, ia membaca surat Muhammad. Ketika bacaannya sampai ke ayat:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ (محمد: 22)

“Maka apakah jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”. (Qs. Muhammad : 22).

Ia menangis dan membaca ayat ini berulang-ulang. Setelah selesai salam, ia berkata kepada Rabi’ : ”Panggilah Musa kemari!”. Rabi’ pun pergi memanggil Musa. Ketika Rabi’ kembali bersama Musa, Amirul Mukminin Mahdi masih membaca ayat tersebut dan menangis. Ketika Musa telah sampai di hadapannya, Mahdi berkata : ”Ketika membaca ayat ini, aku takut kalau-kalau aku memutuskan tali silaturrahmi. Jika kamu berjanji tidak akan memberontak keturunanku, aku akan melepaskanmu !”. Musa berkata : ”Sekali-kali aku tidak akan memberontak. Aku tidak layak untuk memberontak, lagi pula aku tidak berpikiran untuk melakukannya !”.

Mahdi berkata kepada Rabi’ : ”Sekarang juga berikan kepadanya uang sebesar tiga ribu dinar, kemudian lepaskan ia malam ini juga!. Aku takut kalau-kalau pikiranku berubah!”. (Ittihaf).

Dari peristiwa di atas paling tidak ada dua pelajaran penting yang dapat kita petik.

Pertama; Untuk menciptakan hubungan yang harmonis yang dapat tumbuh di atas prinsip saling percaya dan menghormati antara sesama adalah dengan melakukan silaturrahmi dan komunikasi internal dari hati ke hati serta menumbuhkan kelapangan dada dalam menerima kekurangan masing-masing pihak. Membiasakan keterbukaan, menumbuhkan kepercayaan, saling menghormati dan biasa menempatkan sesuatu pada tempatnya menjadi target utama dalam setiap silaturrahmi. Kebiasaan ini akan melahirkan rasa kasih sayang dan hubu ngan saling mencintai dan menghormati.

Kedua; Dalam silaturrahmi, membedakan kelas, status sosial, pangkat, jabatan dll. adalah hal-hal yang harus dijauhkan dari ruang silaturrahmi. Menumbuhkan empati, saling membanggakan satu dengan yang lainnya tanpa meninggalkan tata krama dan etika pergaulan dapat meratakan jalan untuk mencairkan kebekuan dan ganjalan-ganjalan hati.

Sedemikian pentingnya penyatuan hati ini sehingga Agama Islam menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak menciptakan ruangan silaturrahmi, bahkan Rasulullah SAW menjanjikan dengan pahala berlipat ganda. Langkah-langkah yang perlu disiapkan untuk sampai pada tingkat penyatuan hati ini, sedikitnya ada empat (4) tahapan, di antaranya :

1.    Ta’aruf, adalah proses awal perkenalan dengan menenal nama dan wajah.

2.    Tafahum, adalah tahapan memperdalam perkenalan dengan berusaha mengenal perwatakan masing-masing pihak yang dapat menumbuhkan permakluman dan empati.

3.    Tawasul, adalah tahapan dimana tumbuh rasa saling memiliki dengan kesa daran untuk saling membimbing kepada kebaikan dan kesabaran.

4.    Ta’awun, adalah tahapan dimana masing-masing pihak menyadari pentingnya hubungan persaudaraan mereka yang begitu intens sampai pada tingkat diri-diri mereka bagaikan satu kesatuan yang utuh (kaljasad al-wajid) ketika yang satu merasakan sakit maka yang lain ikut merasakannya. Mereka sampai pada kesepakatan untuk saling menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran.

Ahli Jum’ah yang berbahagia !

Demikianlah, bahwa pancaran cinta dan kasih sayang yang tercermin dari hu bungan yang dibangun secara intensif melalui silaturrahmi akan membawa setiap orang merasakan ketentraman hidup, kebahagiaan, kedamaian, dan merasakan keutuhan dirinya sebagai manusia. Para pemimpin Islam menjadikan silaturrahmi sebagai alat pendekatan dakwah yang paling ampuh. Karenanya Islam dengan teliti memandang segala aspek kehidupan sosial dengan menempatkan unsur cinta dan keharmonisan sebagai sarana pertemuan hati. Oleh karena itu, Islam secara tegas mengutuk segala hal yang dapat menciptakan permusuhan di antara kaum muslimin dan dapat menggoncang-kan pondasi persatuan mereka.

Hanya orang-orang yang memiliki sifat mulia dan moralitas yang dapat memenuhi syarat bagi tersemainya cinta dan persahabatan. Rasulullah SAW bersabda : ”Bila kamu bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia, kamu akan merasakan suatu kekuatan yang tak terkalahkan memanggil jiwa dan akhlakmu kepada kemuliaan dan keagungan. Persahabatan dengan orang-orang yang memiliki akal yang kuat, sifat yang mulia, dan lebih berpenga laman adalah suatu hal yang sangat bernilai karena hubungan seperti ini memberikan suatu kesempatan untuk mencapai rohani yang tinggi, mengajarkan kita cara yang baik untuk berperilaku yang layak, dan mengarahkan pandangan kita ten tang orang lain kepada jalan yang benar”.

Akan tetapi ahli Jum’ah yang mulia,…… hendaknya, kasih sayang itu, ja nganlah hanya diberikan kepada sesama manusia semata. Berikan segenap cinta kasih sayang kita juga kepada makhluk Allah yang lain, semacam binatang. Apalagi binatang peliharaan. Karena yang demikian itu akan menambah lengkapnya kemuliaan akhlak kita. Karena bisa jadi kasih sayang pada makhluk Allah yang lain itulah yang menjadi jalan kita meraih rindlaNya.

Dikisahkan, di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada Allah, tetapi Allah malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa?. Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga ia tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat Allah tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan Allah menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang dikalbunya.

Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekoranjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Di bukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan izin Allah, terampunilah dosa wanita ini.

Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, Insya Allah keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.

Bagi orang yang tidak menghidupkan kasih sayang di kalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan karena disangkanya hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.

Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan memba yangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan Allah dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.

Hadirin, Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…………

Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturrahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.

Kedudukan silaturahim dalam Agama Islam sangat penting karena memiliki makna aspek mental dan ketulusan hati. Makna silaturahim yaitu shilat atau washl yang berarti menyambungkan atau menghimpun dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda :

لَيْسَ الوَاصِلُ أَنْ تَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ، وَلَكِنَّ الوَاصِلَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ

“Yang disebut bersilaturrahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan, melainkan bersilaturrahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus”. (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, silaturahim harus melibatkan aspek hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati, setiap umat manusia mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu daripada yang dilakukan orang lain pada kita. Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang kuat.

Dalam hidup, Belajarlah untuk terus melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, Insya Allah hati kita akan lunak dan melembut karena senantiasa mendapatkan cahaya pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang akan dunia ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْءَانِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

الخطبة الثانية:

الْحَمْدُ ِللهِ الْبَرِّ الرَّؤُوْفِ الْجَوَّادِ الَّذِى جَلَّتْ نِعَمَهُ عَنْ اْلإِحْصَاءِ بِاْلأَعْدَادِ الْمَانِّ بِاللُّطْفِ وَاْلإِرْشَادِ الْهَادِى إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْغَفَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُخْتَارُ وَأُصَلِّى وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدِنِ الْمُنَوَّرِ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَطْهَارِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ وَحَذَرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ يَوْمَ الْمَحْشَرِ. اللّٰهُمَّ ارْضَ عَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُصُوْصًا لِسَيِّدِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِىٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ أَمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ اجْعَلْ فِى قُلُوْبِهُمُ اْلإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَأَوْزِعُهُمْ أَنْ يُوْفُوْا عَلَى عَهْدِكَ الَّذِى عَاهَدْتَ إِلَيْهِمْ، وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

     بَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Categories: Khutbah

About Author

Write a Comment

Only registered users can comment.