Akhlaq Salaf (4) : Resep Imam Syafi’i Menangani Ujub

Oleh: Ali Makhrus*
Menurut Imam Adz Dzahabi, “ujub merupakan penyakit tersembunyi yang bisa menjangkiti siapapun, meskipun dia ahli ilmu. Tidak hanya ahli ilmu, ia (ujub) juga menjangkiti jiwa orang kaya, miskin, para tentara, pemimpin, para mujahidin dan umat manusia”.

Bahkan lanjut Adz — Dzahabi, “barang siapa yang mencari ilmu untuk diamalkan, ilmunya akan tunduk kepadanya, dan menangisi dirinya sendiri. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mencari jabatan di sekolah — sekolah, agar bisa berftawa, berbangga — bangga dan bersiakp riya, maka ia akan menjadi orang pandir (bebal) dan terpedaya oleh diri sendiri, menyepelekan orang lain dan terbinasakan oleh sikap ujubnya. Hingga akhirnya dibenci oleh jiwanya sendiri. Kemudian sang Imam mengutip ayat Asy Syams : 9 -10) yang artinya, “sungguh beruntung jiwa yang Allah sucikan, dan sungguh merugi jiwa yang Allah hinakan”.

Mengenai hal itu, dalam Nahnu Min Akhlaqis Salaf, Imam Syafii berkata, “jikalau kamu mengkhawatirkan sikap ujub atas amal perbuatanmu, maka ingatlah keridhoan siapa yang menjadi tujuan amalmu ? Kenikmatan seperti apa yang kamu inginkan ? dan siksaan siapakah yang kamu takuti ? Sebab, barangsiapa yang mengingat semua itu, semua amalanya akan tampak kecil di matanya.

 

wa allahu alamu bis showab.

(Kisah diambil dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaq as — Salaf oleh Abdul Aziz Nashir Jalil dan Bahaudin Fatih Aqil; alih bahasa, Ikhwanuddin; editor, Firman Ikhwan, Solo ; Aqwam, 2014) hal, 48, 49, 52.

(Siyar Alam An-Nubala, Syamsu Ad — Dien Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adzahabi, Tahqiq: Syuaib Al — Arnauth, Muassaah Ar — Risalah, Beirut)

*Penulis adalah mantan Ketua I PC PMII Jombang 2013-2014

Categories: Artikel - Hikmah

About Author