• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Minggu, 14 Agustus 2022

Fiqih

Jimak saat Istri Diduga Masih Haid. Bagaimana Hukumnya?

Jimak saat Istri Diduga Masih Haid. Bagaimana Hukumnya?
Ilustrasi
Ilustrasi

Deskripsi Masalah
Fulan menyangka bahwa istrinya sedang haid. Karena desakan syahwat, fulan tidak dapat menahan nafsu biologisnya untuk mengumpuli sang istri, walaupun fulan mengetahui bahwa mengumpuli istri di saat istri sedang haid adalah harom hukumnya. Diluar dugaan fulan, ternyata sang istri telah suci sehingga fulan kebingungan bagaimana hukum jima’ yang telah ia lakukan.

Pertanyaan
Bagaimanakah hukum jima’ yang dilakukan fulan?

( As’ilah dari MWC NU Perak )

Jawaban
Jima’ tersebut haram dari sisi Qoshdunya (niatnya)

Referensi

لواقح الأنوار القدسية في العهود المحمدية (ص: 135)

وَإِذَا كَانَ خَاطِرُ الْإِنْسَانِ طَيِّبًا مُنْشَرِحًا لِمَا يَأْخُذُهُ اللُّصُّ فَلَا تَحْرِيْمَ عَلَى الُّلصِّ إِلَّا مِنْ حَيْثُ الْقَصْدُ لِلْحَرَامِ لَا مِنْ حَيْثُ أَكْلُهُ الطَّعَامُ مثلا لأن تحريم الأكل عليه إنما كان لأجل الأذى وعدم طيب النفس بدليل قرائن أدلة الشريعة

Terjemah; “ Ketika ada kerelaan hati pada apa yang di ambil oleh pencuri maka tidak ada keharaman bagi pencuri tersebut kecuali dari sisi niatan menerjang perkara haram.

HASIL RUMUSAN AS’ILAH BAHTSUL MASA’IL KE V
LBM NU CAB. JOMBANG
Ahad, 1 Desember 2013 M / 27 Muharram 1435 H
Di MWC NU Jombang


Editor:

Fiqih Terbaru