Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Kiai Abu Bakar, Santri Mbah Hasyim: Jangan Biarkan Nafsu Menghambatmu Mancari Ilmu

Kiai Abu Bakar, Kiai Kampung dari desa Bandung, Kecamatan Diwek. Salah satu santri KH. Hasyim Asyari yang mendirikan madrasah setelah mondok di Tebu Ireng (Foto: Faiz)
Kiai Abu Bakar, Kiai Kampung dari desa Bandung, Kecamatan Diwek. Salah satu santri KH. Hasyim Asyari yang mendirikan madrasah setelah mondok di Tebu Ireng (Foto: Faiz)

NU Jombang Online,
Di zaman ini, anak muda terlalu berorientasi pada hal-hal duniawi. Banyak terikat nafsu dengan relasi antara lawan jenis (pacaran) dibanding mempersiapkan kehidupan akhiratnya. Mereka jadi kurang berkembang, kurang gencar menghadapi perubahan zaman yang sedemikian cepat.

Hal ini disampaikan langsung KH Abu Bakar atau sering disapa akrab dengan Ki abu. Pria berusia 86 tahun ini merupakan salah satu santri dari almarhum KH Hasyim Asy'ari pada tahun 1944. Sayangnya, ia hanya dapat nyantri pada kiai yang menyebut dirinya al-Faqir Ilallahi Ta’ala ini selama 3 tahun sebelum beliau wafat.

Untuk mendapatkan ilmu dari sang Kiai, Ki Abu harus menempuh jarak yang tidak pendek. Dari kediamannya di Diwek ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Ia harus berjalan kaki. 

Saat berjalan kaki, ia bisa saja bertemu dengan pasukan kompeni Belanda atau penjajah Jepang Karena saat itu, Indonesia masih dijajah dan jadi rebutan kedua negara tersebut.Namun walaupun banyak rintangan dan tantangan, beliau tetap berjuang, bertahan dan sabar untuk belajar pada KH Hasyim Asyari.

"Sudah menempuh jarak jauh, baru sampai tempat saya bukan langsung ngaji. Tapi disuruh dulu membersihkan kamar mandi yang kotor," ujarnya sembari menerawang.

Ki Abu patuh dan taat mengerjakannya. Karena baginya, melakukan hal itu dengan sadar dan ikhlas juga melatih mental dalam berguru. Ia juga meyakini, sang kiai tengah memberikan pengajian dalam bentuk yang berbeda. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Hal itu yang ditangkapnya. 

"Kiai Hasyim itu sering melawan para penjajah yang tidak bisa di logikakan oleh para santrinya, ilmu batinnya sangat hebat ketika melakukan peperangan," ujarnya.

Menurutnya, ilmu akan lebih bermanfaat ketika diamalkan.Seperti dawuh dari kiai Hasyim disaat mengajari para santrinya "Berilmu untuk di amalkan."

Setelah nyantri, Ki Abu mendirikan sebuah madrasah yang akhirnya berkembang dinaungi yayasan. Ia melihat, begitu banyak generasi muda yang tidak memperoleh pembinaan ilmu agama. Ia ingin menjadi salah satu orang yang peduli terhadap pendidikan agama mereka.

Meski begitu, ia sempat mengalami masa dimana dirinya merasa tidak sabar untuk melanjutkan mengajar madrasahnya. Tak sedikit santri yang tiba-tiba memilih pindah ke sekolah yang lebih mewah. Ia hampir saja ingin berhenti mengajar. Namun, Kiai Hasyim tiba-tiba datang di mimpinya.

"Mbah Hasyim Asy'ari rawuh dalam mimpi saya, saya dijewer lalu beliau dawuh, lanjutkan perjuangan amalmu atas ilmu yang telah di dapat," jelasnya.

Setelah mengalami mimpi yang terasa nyata baginya itu, Ki abu bakar terus meneruskan niatnya mengajar. Menularkan ilmu pada generasi muda.

"Jangan sampai perjuangan ilmu dan amalmu terhambati oleh nafsumu terhadap hubungan (pacaran)," pesannya.

Ki Abu dikenal sebagai kiai yang sabar dan tabah dalam menghadapi apapun persoalan yang muncul. Kiai yang tinggal di desa Bandung kecamatan Diwek kabupaten Jombang ini sangat arif dalam mengajar ataupun bermasyarakat.

Kontributor : Muhammad Faiz
Editor : Fitriana