• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Daerah

HET Ditetapkan, Kini Giliran Minyak Goreng Curah Raib di Pasaran

HET Ditetapkan, Kini Giliran Minyak Goreng Curah Raib di Pasaran
Foto : Ja'far penjual minyak goreng curah di pasar pon Jombang sa'at melayani pembeli (NU Online Jombang/Ema)
Foto : Ja'far penjual minyak goreng curah di pasar pon Jombang sa'at melayani pembeli (NU Online Jombang/Ema)

NU Online Jombang,

Pedagang minyak goreng curah di Pasar Pon Jombang mulai mengeluh lantaran seretnya pasokan minyak goreng curah. Bahkan setiap hari stok minyak goreng curah ludes terjual.

 

"Semenjak HET (harga eceran tertinggi) minyak goreng kemasan dicabut, minyak goreng curah itu langsung laris dan ludes terjual, namun pasokan tidak lancar. Di pasar terkadang kosong semua," ujar Ja'far (36), salah satu pedagang minyak goreng curah, saat ditemui di Pasar Pon Jombang, Minggu (27/3/2022).

 

Biasanya, lanjut Ja'far, dirinya selalu mendapat kiriman minyak goreng curah hingga 3 kali dalam satu minggu. Namun saat ini, pedagang harus mencari sendiri stok minyak goreng curah ketika sedang kosong.

 

"Dari distributornya sudah tidak pernah kirim, padahal sebelumnya sampai 3 kali dalam seminggu. Sekarang kalau mau jual harus mencari sendiri," ungkapnya pada NU Online Jombang. 

 

Sewaktu stok masih ada, lanjut Ja'far, minyak goreng curah tersebut dijual bukan per liter, melainkan per kilogram. Harganya berkisar antara Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram.

 

"Kalau di sana-sana minyak curah dijual per liter, tetapi kalau di sini masih per kilogram. Harganya antara Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram," jelasnya.

 

Ja'far melanjutkan, untuk minyak goreng kemasan, stoknya juga terbatas. Pasalnya, harga beli sudah tinggi, sehingga dikhawatirkan tidak mampu menjual ke konsumen.

 

"Untuk yang kemasan itu harga kulaknya sudah Rp 49 ribu lebih. Itu bagaimana nanti jualnya? Kalau sudah punya langganan, baru berani memenuhi stok, karena berapapun harganya pasti dibeli," terangnya.

 

Sementara itu, Fita, bendahara Fatayat Pengurus Ranting (PR) Jogoroto yang berjualan gorengan di halaman rumahnya juga mengatakan hal serupa. Ia mengaku sudah keliling pasar namun jarang mendapatkan minyak goreng curah.

 

"Saya sudah keliling pasar, tetapi tidak menemukan (minyak goreng curah), mungkin karena yang murah ini sehingga banyak yang memburunya. Saya ke pasar juga waktunya sudah terlalu siang jadi sudah ludes," ujarnya.

 

Saat ini, ia terpaksa berburu minyak goreng curah ke toko-toko yang menjual minyak goreng curah. Namun tentu saja harganya lebih tinggi dari harga pasar. Meski begitu, tidak ada jalan lain agar ia tetap bisa berjualan setiap hari. Sebab, kebutuhan minyak goreng Fita mencapai 10 hingga 15 liter per hari.

 

"Sekarang kalau kita tidak kebagian minyak ya ke toko-toko. Meski harganya berbeda dengan pasar tetap dibeli. Karena kalau tidak ada, mau jualan pakai apa? Kebutuhan minyak saya setiap harinya sekitar 10 hingga 15 liter," imbuhnya.


Daerah Terbaru