Home Warta Nasional Fiqih Daerah Bahtsul Masail Opini Keislaman Amaliyah NU Khutbah Humor Ekonomi Lainnya Buku/Resensi Video Nyantri MWC Ranting NU Pengurus

Ini Langkah Alternatif agar Muktamar dapat Digelar Tahun Ini menurut KH Marzuki

Ini Langkah Alternatif agar Muktamar dapat Digelar Tahun Ini menurut KH Marzuki
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar. (Foto: Malang Times)
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar. (Foto: Malang Times)

NU Online Jombang, 
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dan sejumlah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Timur mendorong agar pelaksanaan Muktamar ke-34 NU bisa dilaksanakan tahun ini. 

Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar menyampaikan, panitia pelaksana bisa mencari langkah-langkah alternatif agar forum musyawarah tertinggi NU itu tidak lagi ditunda yang kedua kalinya karena alasan Covid-19.

Langkah yang bisa dikompromikan misalnya meninjau ulang tempat pelaksanaan Muktamar. Bila tempat yang disepakati sebelumnya, yakni di Lampung kondisi sebaran Covid-19 masih tinggi, maka panitia bisa memindahkan ke daerah yang sudah dinyatakan lebih aman.

"Andai tempat pelaksanaan Muktamar yang awalnya di Lampung masih level dua atau tiga, mungkin saja NU Jawa Timur mengusulkan agar Muktamar dilaksanakan di provinsi lain yang sudah level satu seperti Jawa Timur, sehingga aman," katanya saat rapat koordinasi virtual dengan sejumlah PCNU, Sabtu malam (18/9/2021).

Prinsipnya adalah komunikasi yang baik dengan beragam pihak. Termasuk pihak Satgas Covid-19 yang selama ini dikhawatirkan tidak memberi izin melaksanakan kegiatan yang melibatkan banyak massa. Agar dapat memastikan hal itu, Kiai Marzuki menyarankan agar panitia bisa segera berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 untuk mencari jalan keluar.

"Kalau itu (izin Satgas) alasannya, monggo bareng-bareng ngenyang," ungkapnya.

Kalaupun nanti Satgas Covid-19 Nasional tetap tidak mengizinkan Muktamar NU dilaksanakan secara langsung, lanjut Kiai Marzuki, maka digelar dengan cara hybrid adalah solusi yang bisa ditempuh panitia. Selanjutnya, pihak panitia menyusun kebijakan-kebijakan yang mengatur terkait teknis peserta Muktamar.

"Kalau tidak bisa mengumpulkan banyak massa, tetap bisa dilaksanakan tahun ini meskipun hybrid, kita bisa atur bareng-bareng siapa yang harus ikut secara langsung dan siapa yang mengikuti secara daring," ujarnya.

Sistem hybrid ini menurutnya bisa diatur dengan semi-luring. Peserta Muktamar NU yang ikut secara langsung bisa mendominasi daripada yang ikut secara daring. Caranya, imbu Kiai Marzuki, panitia memastikan tempat pelaksanaan Muktamar tidak dipusatkan satu tempat. Melainkan di berbagai tempat yang masih terintegrasi.

"Kalau saya pribadi usul 90% luring 10% daring. Ini bisa dilakukan misalnya di pesantren besar seperti Lirboyo, atau kampus-kampus seperti kampus Unisma. Yang penting kalau bisa diadakan di tempat milik NU sendiri yang memiliki kapasitas ruangan yang banyak. Sehingga peserta tidak berjubel," tuturnya.

Bagi Pengasuh Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad, Gasek, Malang ini, menggelar Muktamar di tahun ini dengan cara hybrid lebih baik, daripada dipaksa semua peserta ikut secara luring, tapi menunda tahun depan, atau tahun depan lagi.

"Intinya PWNU Jawa Timur ingin memperjuangkan Muktamar dilaksanakan tahun ini," tutupnya.

Pewarta: Ahmad

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

Warta