• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Warta

Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal? Ini Penjelasannya!

Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal? Ini Penjelasannya!
KH M. Za'imuddin As'ad (Foto : Tangkapan Layar YouTube PPDU)
KH M. Za'imuddin As'ad (Foto : Tangkapan Layar YouTube PPDU)

NU Online Jombang,

Menjelang Hari Natal besok, 25 Desember 2021, banyak pendapat yang bermunculan mengenai boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani. Pasalnya, sebagian ulama menentang hal tersebut, namun ada pula yang memperbolehkan.

 

Menurut KH M Za'imuddin As'ad, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, mengucapkan selamat natal atas dasar ukhuwah basyariyah itu diperbolehkan.

 

"Itu seperti hukum bank. Ulama memiliki pendapat yang berbeda. Kalau saya, atas dasar ukhuwah basyariyah, saya mengucapkan selamat," ungkapnya.

 

Dilansir dari NU Online, ukhuwah basyariyah yang disampaikan KH M Za'imuddin As'ad tersebut, termasuk di dalam Trilogi Ukhuwah yang awalnya dikenalkan oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Shiddiq (1926-1991). 

 

Konsep trilogi ukhuwah ini menyatukan antara ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

 

Berdasarkan hal tersebut, KH Ahmad Shiddiq ingin menyatukan antara Ukhuwah Islamiyah, nasionalisme dan pluralisme. Pemikiran briliant ini dikemukakan menjelang Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta pada tahun 1989. Dasar pemikirannya tidak lain adalah rangka menjaga hubungan baik antara masyarakat, agama dan negara.

 

Sementara itu, pria yang akrab disapa Gus Zuem ini mengatakan, hadits yang mengatur secara langsung hukum mengucap selamat natal memang tidak ada. Namun, terdapat hadits yang bersifat umum, yakni menghargai orang berkeyakinan lain yang tidak memusuhi kita.

 

"Seperti Nabi ketika duduk lalu tiba-tiba berdiri saat ada jenazah lewat. Kemudian ada sahabat yg mengingatkan: Ya Rasulullah, jenazah itu jenazahnya orang Yahudi, mengapa anda memberi penghormatan? Lalu Rasulullah menjawab : bukankah dia juga manusia," papar Kiai yang merupakan putra pertama pendiri Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Almaghfurlah Kiai Haji As'ad Umar ini.

 

Gus Zu'em juga menyebutkan bahwa dalam Al-Qur'an Surat Al Mumtahanah ayat 8 yang berbunyi,

 

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."

 

Menurutnya, mendebatkan hal tersebut sudah seharusnya tidak dilakukan, karena tidak akan pernah selesai. Sebab, semua pendapat sifatnya penafsiran, sesuai prespektifnya masing-masing ulama.

 

Sementara itu, untuk menyambut datangnya tahun baru 2022. Ia menyarankan untuk melaksanakan kegiatan yang bersifat positif, seperti Istighotsah.

 

"Kalau diisi dengan acara istighotsah ya silakan. Diniati dakwah untuk menghindarkan masyarakat dari acara-acara yang bernuansa maksiat," imbuhnya.

 

Gus Zu'em menegaskan, bagi saudara sebangsa dan setanah air yang merayakan natal dan tahun baru, selamat merayakannya.

 

"Mari kita bergandeng tangan merawat harmoni dan kedamaian negeri kita, Indonesia," pungkasnya.

 

Kontributor : Siti Ratna Sari

Editor : Fitriana


Warta Terbaru