• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Jumat, 27 Mei 2022

Daerah

Selain Kota Santri, Jombang Layak Jadi Kota Pluralisme

Selain Kota Santri, Jombang Layak Jadi Kota Pluralisme
Katib PCNU Ahmad Samsul Rijal saat hadir di acara Haul Gus Dur, Minggu (23/01/2022)
Katib PCNU Ahmad Samsul Rijal saat hadir di acara Haul Gus Dur, Minggu (23/01/2022)

NU Online Jombang,
Komitmen Jombang sebagai kota yang mengusung spirit pluralisme kembali digaungkan komunitas lintas agama Jombang. Kali ini dengan mengambil momentum Haul Gus Dur ke-12. 

 

Menurut Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Ahmad Samsul Rijal, masyarakat Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri dan Pondok Pesantren, memiliki masyarakat yang tingkat toleransinya tinggi terhadap sesama dengan segala perbedaannya. 

 

"Maka, layak jika Jombang selalu dijadikan contoh dan teladan dalam toleransi beragama serta pembauran masyarakat yang majemuk," terangnya.

 

Ia menambahkan, Indonesia secara umum telah dikenal sebagai bangsa dan negara yang pluralis dengan kemajemukan masyarakat, suku bangsa, agama, ras, dan adat istiadatnya. Hampir semua daerah kabupaten/kota di Indonesia demikian.

 

Fakta ini difasilitasi perkembangan dan penguatannya oleh pemerintah dengan pembentukan Forum Koordinasi Umat Beragama (FKUB) dan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) disetiap Kabupaten dan Kota. Bahkan, pemerintah membantu pembiayaan kegiatan-kegiatan FKUB dan FPK demi terselenggaranya koordinasi serta pembauran sesama anak bangsa yang berbeda-beda.

 

"Apalagi KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai Bapak Bangsa yang pluralis serta menjadi teladan toleransi yang mendunia. Beliau menjadi ikon Pluralisme, Toleransi dan Peacemaker yang mewarisi keteladan Kakeknya, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim bin Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama," paparnya.

 

Sementara itu, wakil Bupati Jombang, Sumrambah yang hadir di acara tersebut mengatakan, Jombang harus diyakini sebagai rumah bersama bagi setiap entitas yang ada di dalamnya, dengan berbagai latar belakang yang berbeda. 

 

Menurutnya, setiap orang perlu selalu memahami ada kekuatan yang tidak ingin perbedaan bersatu. Kekuatan ini bermotif kapital, yang selalu mencari cara mengadu domba satu dengan yang lain, termasuk menggunakan sentimen ras maupun agama. 

 

"Setiap agama dan kepercayaan selalu mengajarkan satu hal utama, yakni cinta kasih. Jadi jangan sampai diadu domba," tegasnya.

 

Hal senada juga disampaikan KH Munif Khusnan, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jombang. Ia mengajak seluruh komponen untuk bersatu menaga kerukunan dan kondusifitas yang telah terjaga sejak lama. 

 

"Kita perlu meningkatkan kualitas relasi satu dengan lainnya," tandas pria yang juga merupakan Wakil Ketua PCNU Kabupaten Jombang ini.

 

Kuatnya relasi merupakan kata kunci menangkal gerakan intoleransi, juga ditandaskan Yordan Bataragoa. Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur ini mengingatkan, tengah terjadi pandemi intoleransi di Jawa Timur. 

 

"Masih banyak praktek intoleransi di sekitar kita, terutama terkait pendirian rumah ibadah. Di Ngimbang, Blitar, Surabaya, dan masih banyak lagi," ujarnya.

 

Dalam acara tersebut, beberapa tokoh juga ikut memberikan refleksinya seputar kiprah Gus Dur dan pluralisme, diantaranya, pendeta Diah dari Gusdurian, Gus Anto Zulfikar, Ketua GP Ansor, Ustadz Iskandar dari Tebuireng dan Maulana Edi Zulkarnain dari Ahmadiyah.

 

"Kami sungguh bersyukur, spirit pluralisme Gus Dur benar-benar terjadi di ruangan ini," kata Pendeta Agus Victor Sidauruk, pendeta senior HKBP Ressort Surabaya Selatan yang juga membawahi HKBP Jombang.

 

Menurutnya, kedekatan Gus Dur dengan Ephorus SAE Nababan, tokoh HKBP, tidak perlu diragukan lagi. Kedua tokoh ini semasa hidup bahu-membahu menjaga kebhinekaan dan Pancasila. Sudah sepatutnya spirit dari dua tokoh ini, terus kita rawat di Jombang.

 

Acara yang dihadiri sekitar seratus orang tersebut juga disemarakkan pembacaan puisi oleh Zihan Umami, ketua komisariat PMII Universitas Darul Ulum. Ia membacakan salah satu puisi karya Gus Mus berjudul "Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana."

 

Pewarta: Nur Fitriana


Editor:

Daerah Terbaru