• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Rabu, 28 Februari 2024

Resensi

Film Bumi Manusia, Kisah Perjuangan Kaum Pribumi di Era Kolonial

Film Bumi Manusia, Kisah Perjuangan Kaum Pribumi di Era Kolonial
Source photos: Wikipedia
Source photos: Wikipedia

NU Online Jombang,
Bumi manusia adalah film yang rilis pada 15 agustus 3 tahun silam. Film yang diadaptasi dari judul buku yang sama ini merupakan karya sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer. 

 

Film ini menceritakan tentang penjajahan era kolonial yang dibungkus cukup apik, dibumbui dengan percintaan beda golongan yang kental dengan feodalisme.

 

Film yang dibintangi Iqbal Ramadhan ini mengisahkan pemuda Jawa bernama Minke yang belajar di sekolah untuk orang-orang Eropa, HBS. Orang-orang Indonesia yang boleh bersekolah di HBS hanya dari kalangan ningrat atau pejabat. Minke bisa sekolah di HBS juga karena masih merupakan keturunan Bupati.

 

Minke sebenarnya bukan nama asli. Ia mendapat julukan Minke yang merupakan plesetan dari kata monkey yang berarti monyet. Nama asli Minke sendiri adalah Tirto Adhi Soerjo.


Minke jatuh hati pada Annelies yang merupakan anak seorang gundik Belanda yang bernama Nyai Ontosoroh. Tokoh Annelies sendiri diperankan oleh Mawar De Jongh.


Namun Nyai Ontosoroh berstatus sebagai istri simpanan orang Belanda, Mellema. Kedudukan Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Inne Febriyanti tersebut dipandang rendah, bahkan kala itu disamakan dengan hewan peliharaan.


Di sisi lain, pertemuan dengan Nyai Ontosoroh justru membuka pandangan Minke tentang dunia Eropa. Nyai Ontosoroh memperlihatkan perlawanan terhadap penindasan yang membuat Minke kagum.

 

Perlawanan Nyai Ontosoroh mulai terlihat saat status pengasuhan Annelies digugat pengadilan kolonial. Hubungan Minke dan Annelies juga mendapat penolakan dari berbagai pihak. Salah satunya ayah Minke yang merupakan seorang bupati. Minke dan Annelies pun harus berhadapan dengan hukum bangsa kolonial saat memperjuangkan cinta mereka.

 

Hanung Bramantyo sebagai sutradara Bumi Manusia mengaku ingin menghidupkan nama sastrawan Pramoedya Ananta Toer di tengah generasi muda. Sebab tak banyak anak muda zaman sekarang yang membaca novel atau mengenal Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar yang bahkan diakui dunia.

 

Lewat film Bumi Manusia, penonton dapat meneladani Nyai Ontosoroh dalam memperjuangkan keadilan. Penonton juga bisa sekaligus belajar sejarah di era kolonial.

 

Mendapatkan Banyak Pro dan Kontra

Adaptasi karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer ini memikul beban berat, khususnya akibat ekspektasi dari pembaca novelnya. Bahkan pro-kontra sudah merebak sejak rencana pembuatannya diumumkan ke publik.

 

Para pembaca kawakan siap mengkritik tiap detail yang luput dalam film, termasuk pula kemungkinan pesan penulis yang gagal diterjemahkan menjadi bahasa visual. Beban besar ini muncul akibat reputasi Tetralogi Buru, empat novel termasuk Bumi Manusia yang dikenal sebagai mahakarya Pram.

 

Ada keluhan yang muncul terkait kegagalan film adaptasi ini menghadirkan semangat perlawanan dari novel Pram ke layar sinema. Adaptasi Hanung jadi terlalu terfokus pada kisah cinta, serta melupakan banyak sosok yang menginspirasi sosok Minke menjadi jurnalis pribumi yang progresif.

 

Cerita tentang bersemainya kesadaran nasionalisme dari kaum terdidik pribumi di Hindia Belanda ini melambungkan nama Pram di jagat sastra internasional. Tetralogi Buru juga semakin sakral, lantaran tekanan Orde Baru yang sempat melarang peredaran keempat novel tersebut, bersama buku-buku Pram lain hanya karena sang sastrawan sempat bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat pada dekade 60'an.

 

Kendati penuh pro kontra, film Bumi Manusia nyatanya diterima baik penonton Indonesia. Bumi Manusia berhasil masuk dalam jajaran film Indonesia yang ditonton lebih dari 1 juta penonton saat tayang di bioskop pada 2019. Kini film Bumi Manusia juga hadir di Netflix untuk bisa ditonton kembali.

 

Capaian ini mengesankan, mengingat Bumi Manusia dulunya karya yang dibaca sembunyi-sembunyi, dinistakan pemerintah, kini sudah dirayakan terbuka bahkan bisa dibaca oleh anak-anak muda.

 

Ditulis Oleh : Elsa Aulia (Siswa kelas XI MIPA 4 program unggulan MAN 3 Jombang)


Resensi Terbaru