• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Minggu, 4 Desember 2022

Mitra

UPZISNU Ajak Donasi Bantu Dimas, Anak Yatim dengan Gangguan Pendengaran

UPZISNU Ajak Donasi Bantu Dimas, Anak Yatim dengan Gangguan Pendengaran
UPZISNU bantu Dimas, anak yatim dengan gangguan pendengaran (Foto : Dok. UPZISNU)
UPZISNU bantu Dimas, anak yatim dengan gangguan pendengaran (Foto : Dok. UPZISNU)

NU Online Jombang,

Adalah Muhammad Adnan Dimas Sanjaya, balita yang masih berusia 4 tahun ini harus mengalami derita karena gangguan pendengaran yang dialaminya. Gangguan pendengaran yang dialaminya mencapai 100 dB HL (decibel hearing level). Padahal, tingkat pendengaran yang normal harusnya berkisar diantara 25-60 dB HL. 

 

Balita yang akrab dipanggil Dimas ini juga seorang yatim yang berasal dari Dusun Jombatan 3 RT/RW: 01/01 Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Berkat gangguan pendengaran yang ia alami, Dimas juga tidak bisa berbicara lancar layaknya anak seusianya.

 

"Dimas bicaranya masih ah uh. Namun saat dilakukan pemeriksaan, pita suaranya tidak ada kendala atau dalam keadaan baik. Dia tidak bisa bicara karena sejak kecil tidak bisa mendengar suara apapun sehingga tidak bisa mengekspresikan diri melalui pembicaraan," jelas Nuruddin Suryanulloh, ketua Ranting Unit Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Jombatan.

 

Pria yang akrab disapa Surya ini mengatakan, anak bungsu dari Siti Masri’ah (30) mengalami gangguan tersebut setelah diperiksakan ke Dokter Spesialis THT (telinga, hidung dan tenggorokan) yang berada di Kecamatan Taman, Sidoarjo.

 

Surya menambahkan, dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter spesialis THT tersebut memberikan surat rujukan agar Dimas meneruskan pengobatannya di RSAL dr Ramelan Surabaya pada pertengahan September kemarin. 

 

Setelah diperiksa, alih-alih melakukan operasi, rupanya dokter mengharuskan Dimas memakai alat bantu dengar untuk memperkuat pendengaran. Alat bantu dengar itu akan membantu Dimas untuk dapat mendengar suara-suara di sekitarnya. Karena prosedur operasi tidak bisa dilakukan, pemakaian alat itu berlakunya untuk seumur hidup.

 

Namun, tentu saja, harga alat tersebut tidaklah murah. Untuk satu alat dengar, harganya sebesar Rp 8.500.000. Maka, jika sepasang untuk telinga kanan dan kiri harganya mencapai Rp 17.000.000. 

 

"Bu I'ah tidak bisa menjelaskan secara detail kenapa tindakan operasi tidak bisa dilakukan, Kecuali kalau operasi tanam chip atau alat bantu dengar. Untuk membeli alatnya, bu I'ah (panggilan ibu Dimas) dapat menggunakan uang jasa raharja almarhum suaminya," ungkap Surya.

 

Awalnya, Dimas tidak mau memakai alat bantu dengar. Namun, setelah mencoba untuk menjalani 2 kali terapi, Dimas akhirnya sudah terbiasa memakai alatnya.

 

"Terapi tersebut dapat membantu Dimas mengenalkan suara (bunyi) satu persatu, contohnya dia mulai bisa mengenal suara hewan, suara kendaraan, suara angin dan lain sebagainya," kata Surya.

 

Karena belum menggunakan alat bantu dengar secara permanen, Dimas diharuskan menjalankan terapi dengar satu bulan sekali di 2 tempat. Yang pertama, di Nobel Ngagel Surabaya dan yang kedua, RSAL dr Ramelan Surabaya. 

 

Terapi yang seharusnya dilakukan seminggu sekali, akhirnya hanya dilakukan sebulan sekali karena terkendala biaya. Dimas baru melakukan terapi di bulan November dan Desember dengan biaya mandiri yang dibantu oleh pihak keluarga. 

 

"Biasanya bu I'ah menghabiskan biaya sekitar satu juta rupiah untuk keperluan terapinya saja. Di Nobel dengan biaya Rp 560.000/terapi. Sedangkan, di RSAL biayanya sekitar Rp 350.000/terapi. Itu belum termasuk biaya akomodasi dan biaya perawatan alatnya seperti mengganti batere dan spare part lainnya. Kalau ada kerusakan pada alat dengarnya dan tidak bisa diperbaiki maka harus membeli alat dengar baru," paparnya.

 

I'ah sudah mengajukan pembuatan KIS (Kartu Indonesia Sehat) di kantor Dinas Sosial Jombang sejak pertengahan September lalu namun hingga saat ini belum ada kabar.

 

"Pengajuan KIS ke dinsos belum ada kabar sejak mengajukan pertengahan September kemarin," imbuhnya.

 

Maka dari itu, UPZISNU Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, mengajak untuk membantu meringankan biaya berobat Dimas dengan memberikan donasi terbaik. Dengan donasi yang terkumpul, ananda Dimas akan segera memperoleh alat bantu dengar sehingga bisa segera bicara dan mendengar keadaan di sekitarnya seperti anak normal pada umumnya. 

 

Transfer Donasi :

- Rek. BMT NU Jombang 

03.21.001.409.01

a.n Lazisnu Jombatan

 

- Rek. BRI 

624601025013533

a.n Siti Nur Q

(Harap Konfirmasi setelah transfer)

 

Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi 085708639100

 

Kontributor : Siti Ratna Sari

Editor : Fitriana


Mitra Terbaru