Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Surat Yasin Untuk Memenuhi Hajat

Membaca Surat Yasin dengan niat memperoleh kebaikan duniawi dan ukhrawi, atau membaca semua al-Qur’an untuk tujuan seperti yang sama tidaklah berdosa dan tidak pula tercegah. Sebagian orang ada yang mengklaim bahwa hal itu haram, tercegah, bid’ah sayyiah, dan berujung ke dalam klaim-klaim dan propaganda yang populer, yaitu vonis mutlak yang dalam setiap hal baru, tanpa syarat, pengecualian dan batasan.

Inilah kejelasan ungkapan mereka:
“Ritual tradisi membaca surat Yasin 3 kali yang dilakukan oleh masyarakat awam, pertama dengan niat panjang umur serta mendapat taufik untuk menjalankan ketaatan, kedua niat menjaga diri dari mara bahaya, penyakit-penyakit dan niat melapangkan rezki, ketiga untuk meraih kekayaan hati dan khusnul khatimah, serta sholat yang mereka lakukan di sela-sela doa, sholat dengan niat memenuhi hajat tertentu, semuanya itu batil dan tidak ada asalnya.

Sholat itu tidak sah kecuali dengan niat yang murni karena Alloh Ta’ala, bukan karena suatu tujuan dari berbagai tujuan. Alloh Ta’ala telah berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.” [QS. al-Bayyinat: 5]

Demikian ini kata orang-orang yang mengingkari. Sedangkan saya berpendapat, bahwa klaim-klaim inilah yang sebenarnya batil. Sebab klaim mereka berdasarkan pada pendapat yang tidak ada dalilnya. Di dalamnya terdapat vonis hukum dan pengekangan atas karunia dan rahmat Alloh Swt.

Yang benar adalah selamanya tidak ada dalil yang melarang menggunakan al-Qur’an, dzikir dan doa untuk meraih kepentingan duniawi, kepentingan pribadi, hajat, cita-cita dan berbagai tujuan setelah memurnikan niat karena Alloh dalam hal tersebut. Yang menjadi syarat adalah keikhlasan niat dalam beramal karena Alloh Ta’ala. Keikhlasan ini diperintahkan dalam menjalankan setiap sholat, zakat, haji, jihad, berdoa dan membaca al-Qur’an. Dalam keabsahan suatu amal harus terdapat keikhlasan niat karena Alloh Ta’ala. Itulah yang diperintahkan dan tidak diperselisihkan lagi. Bahkan suatu amal bila tidak murni karena Alloh Ta’ala maka amal tersebut tertolak. Alloh Ta’ala berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.” [QS. al-Bayyinat: 5]

Meski begitu, tidak ada dalil yang mencegah seseorang menambahkan permintaan, hajat agama dan hajat duniawi, yang kasat mata maupun yang tidak, yang lahir maupun yang batin, pada amal serta keikhlasannya. Seseorang yang membaca surat Yasin atau selainnya dari al-Qur’an karena Alloh Ta’ala dalam rangka mencari keberkahan umur, keberkahan harta, keberkahan kesehatan, maka tidak ada dosa baginya. (Justru) ia telah menempuh jalan kebaikan (dengan syarat tidak menyakini disyariatkannya hal tersebut secara khusus).

Maka hendaklah ia membaca surat Yasin 3, 30, atau 300 kali, bahkan hendaklah ia baca semua al-Qur’an karena Alloh Ta’ala secara ikhlas untukNya disertai memohon dipenuhi hajat-hajatnya, diluluskan permintaan-permintaannya, diberikan solusi atas keprihatinan nya, dibebaskan dari kesusahannya, disembuhkan sakitnya, dan dilunasi hutangnya.

Maka, dosa apa yang ada dalam hal seperti itu? Alloh sendiri mencintai permintaan hambaNya kepadaNya pada segala sesuatu, sehingga permintaan garam makanan dan menyambung tali sandalnya yang putus, dan sebelumnya hamba tersebut terlebih dahulu membaca surat Yasin, atau bershalawat bagi Nabi Saw. Tidaklah hal itu kecuali termasuk tawassul dengan amal saleh dan al-Qur’an, serta disepakati masyru’iyyah (legalitas) nya.

Dalam kitab al-Mafahim kami telah berkata:
“Tidak ada satu ulama pun yang tidak menyetujui tentang masyru’iyyah tawassul kepada Alloh Swt dengan amal saleh. Sebab itu, bila ada seseorang yang berpuasa, sholat, membaca al-Qur’an atau bersedekah, pada hakikatnya dia melakukan tawasul dengan puasa, sholat, bacaan al-Qur’an dan sedekahnya.Bahkan tawasul tersebut paling diharapkan diterima dan paling manjur untuk memperoleh tujuan yang tidak lagi diperselisihkan.

Dalil atas hal ini adalah hadits tiga orang yang terjebak dalam goa. Orang pertama bertawassul kepada Alloh dengan kebaktiannya kepada kedua orang tua, yang kedua bertawassul dengan dirinya menghindari zina setelah sebenarnya mampu melakukannya, dan yang ketiga bertawassul dengan amanah dan penjagaannya pada harta orang lain serta mengembalikan semuanya kepada si pemilik. Lalu Alloh pun membebaskan mereka dari gua tersebut.”

Tawasssul semacam inilah yang telah diperinci, diterangkan dalil-dalilnya, diperdalam berbagai masalahnya oleh Syaikh Ibn Taimiyah -rahimahullah- dalam berbagai kitabnya, khususnya dalam risalah beliau yang berjudul Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wa al-Wasilah [Kaidah Agung tentang Tawassul dan Wasilah].

Dari: Menyingkap Keistimewaan Bulan Sya’ban
Oleh: KH Abd Nashir Fattah (Rais Syuriah PCNU Jombang)