Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Santri dan Diplomasi Kotoran Kucing

Ilustrasi santri. (Foto: Ala Santri)
Ilustrasi santri. (Foto: Ala Santri)

Ini sebuah cerita nyata tentang kenakalan pikiran santri yang solutif. Sebut saja Kang Sudrun, seorang santri senior di salah satu pesantren tua di Kota Jombang, yang terkadang cara berpikirnya out of the box.

Pada suatu ketika saat ada monitoring dan evaluasi (munev) program pertanian di pesantren tersebut dari Inspektorat Jenderal, beberapa petugas dari Jakarta datang ke pesantren untuk melakukan inspeksi secara langsung tentang program pertanian yang dijalankan di pesantren tersebut.

Sebagaimana lazimnya monitoring dan evaluasi yang dilakukan, ditanyailah para pengurus pondok tentang perkembangan program, laporan keuangan, pembukuan, dan administrasinya. Semua lancar lancar saja, karena memang di pesantren tersebut program pertanian menjadi unggulan. Di samping sebagai sarana pembelajaran para santri tentang diversifikasi pertanian juga sebagai sarana mengembangkan potensi santri di sektor pertanian, maklum rata-rata santri adalah anak para petani di daerah asalnya.

Hingga tibalah saatnya para petugas dari Jakarta yang gagah-gagah, rapi, dan berbau wangi itu menanyakan bukti bukti fisik pembelanjaan barang. Awal berjalan lancar, dengan menanyakan barang-barang atau sisa barang yang telah digunakan, hingga sampai pertanyaan yang tidak pernah diduga sebelumnya. 

"Mana label obat hama ini?" tanya petugas dari Jakarta. 

Para pengurus yang menangani program tersebut menjawab dengan polos dan jujur. 

"Kardusnya sebagain sudah terbuang Bapak, sebagian lagi ada di gudang," kata seorang santri.

"Ini tidak boleh, kalau beli barang kardusnya harus disimpan sebagai bukti," tukas petugas.

Lama akhirnya para petugas tersebut menanyakan lagi-lagi soal label kardus pembungkus barang yang dibeli, dan lagi-lagi para pengurus sibuk menjawab dengan jujur dan polos. Akhirnya para pengurus memanggil salah satu santri yang bertugas di lapangan merawat pertanian pondok untuk mencari kardus pembungkus dari barang yang telah terbeli. Setelah beberapa menit santri yang ditugasi tersebut datang dengan membawa beberapa kardus pembungkus yang sudah lecek-lecek tidak karuan karena sangking lamanya tersimpan di gudang.

"Kardus obat ini mana?" tanya petugas dari Jakarta. "Ini Pak" jawab santri tersebut. Semua pertanyaan dijawab dengan menunjukkan bukti kardusnya. 

"Ini bulan kapan belanjanya?" tanya petugas lagi. 

"Tujuh bulan yang lalu Pak," sahut santri.

Sampai akhinya ada beberapa barang yang tidak bisa ditunjukkan kardus label pembungkusnya karena sudah lamanya belanja. Mulailah para petugas agak emosional karena pengurus program tidak bisa menunjukkan semua kardus pembungkus barang yang telah terbeli.

Di saat para pengurus sudah panik dan bingung harus bagaimana, datanglah Kang Sudrun, santri senior yang tinggal di kandang sapi karena tugasnya adalah merawat sapi sapi milik pesantren. 

"Kamu siapa," tanya petugas dari Jakarta

 "Saya Sudrun," jawab Kang Sudrun santai. 

"Apa tugasmu?" tanya lagi petugas.

"Merawat sapi Pak," tegas Kang Sudrun menjawab.

Karena Kang Sudrun tidak juga bergeser dari tempatnya, mulailah dia mencium tanda-tanda kemarahan para petugas kepada para pengurus pondok. Akhirnya Kang Sudrun pamit.

"Maaf Pak permisi sebentar nanti saya ke sini lagi," katanya.

Terdorong rasa kasihan Kang Sudrun terhadap para pengurus, muncullah pikiran Kang Sudrun untuk menolong, tapi bagaimana caranya?

"Ah, hanya hal kecil soal beberapa kardus saja kok bertele-tele," pikir Kang Sudrun sambil melintas di tumpukan pasir pembangunan asrama pondok. 

Tiba-tiba langkah Kang Sudrun terhenti karena hidungnya mencium aroma bau khas di sekitar pasir tersebut, iya khas. Karena itu bau kotoran kucing. Sambil senyum-senyum Kang Sudrun langsung mencari sumber tersebut, dan setelah mendapatinya, sandal jepit butut yang dipakainya segera dioles-oleskan alasnya ke kotoran kucing tersebut.

Dan setelahnya, anda tahu apa yang dilakukan Kang Sudrun? 

Sambil senyum-senyum Kang Sudrun kembali ke tempat di mana pengurus masih menghadapi para petugas dari Jakarta itu, dengan memabwa nampan dan minum suguhan, tak pelak semua menjadi nyungir-nyungir hidungnya karena terserang polusi telek (kotoran) kucing yang dibawa Kang Sudrun.

Tiidak menunggu lama, para petugas dari Jakarta langsung menyudahi kegiatan monevnya dan berpesan. "Kalau belanja lagi, barang kardusnya disimpan," ucap petugas. 

Ia bergegas pergi. Bahkan minuman suguhan pun tidak disentuh. Apalagi diminum.

Kang Sudrun idenya ekstrem, tapi menjadi solusi menolong temannya, para santri.

Para pelaku sekarang rerata sudah sama boyong. 

Semoga diampuni Allah SWT.

Tulisan ini adalah cerita ringan dari kejadian nyata. Semoga ada hikmahnya.

 

Kiai Amirul Arifin, Wakil Ketua PCNU Jombang.