Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Revitalisasi Siklus Islami untuk Kurangi Dampak Psikosomatik Santri selama Pandemi

Beberapa santri sedang berada di pesantren. (Foto: Harianhaluan.com)
Beberapa santri sedang berada di pesantren. (Foto: Harianhaluan.com)

Oleh: Dewi Rohmah Alfinadziroh*

Agama kita Islam sangat memperhatikan dalam masalah kesehatan. Kesehatan merupakan unsur penunjang paling utama untuk melakukan segala aktivitas serta modal paling penting dalam mencapai segala tujuan hidup. Sehingga, menjaga kesehatan adalah hal yang sangat penting. 
 
Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia tengah diresahkan dengan adanya wabah Corona Virus Disease ( Covid-19 ). Wabah ini berdampak sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan, salah satunya dalam bidang kesehatan. Covid-19 ini, mengancam kesehatan jasmani dan rohani. Namun, masih sedikit orang yang membahas mengenai kondisi kesehatan rohani atau mental seseorang saat pandemi.

Dampak yang ditimbulkan dari wabah Covid-19 dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, salah satunya dari kalangan pelajar atau santri. Banyak kalangan santri merasakan dampak wabah ini, khususnya dalam kesehatan mentalnya. Meskipun, di semua pondok pesantren sudah menerapkan protokol kesehatan dan upaya penanggulangan Covid-19 lainnya, namun hal tersebut hanya untuk menjaga kesehatan jasmani para santri, tidak untuk kesehatan mentalnya, dikarenakan kesehatan mental berhubungan dengan psikis dan emosional pada setiap diri santri.

Kesehatan mental adalah suatu kondisi seseorang yang dapat mengendalikan emosi atau psikologis dalam hidupnya. Kesehatan mental seseorang didukung oleh keadaan batin yang tenang agar dapat menikmati kehidupannya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sangat penting bagi semua orang. Sedangkan krisis kesehatan mental merupakan gangguan yang dialami seseorang dalam masalah emosional dan psikis dimana seseorang tersebut tidak merasakan kenyamanan dalam kehidupannya. Beberapa gangguan kesehatan mental yang dirasakan para santri saat wabah Covid-19 adalah kecemasan dan stress (https://www.asramalentera.com). 

Kecemasan adalah suatu istilah yang menggambarkan gangguan psikologis yang dapat memiliki karakteristik yaitu berupa rasa takut, keprihatinan terhadap masa depan, kekhawatiran yang berkepanjangan, dan rasa gugup. Jika rasa cemas tersebut direspons secara berlebihan maka akan menimbulkan risiko yang buruk bagi tubuh, seperti sistem imunitas tubuh menurun, sehingga rentan terkena wabah Covid-19. Sedangkan stress adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri. Kedua hal tersebut apabila direspons secara berlebihan akan menyebabkan suatu gangguan pada diri seseorang yaitu gangguan psikosomatik.

Gangguan psikosomatik adalah keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukannya alasan fisik yang jelas, seperti luka atau infeksi. Gangguan kesehatan mental tersebut merupakan salah satu yang dirasakan para santri. Jika para santri mengalami gangguan psikosomatik saat terjadi wabah virus Covid-19, maka secara langsung para santri akan mengalami gejala yang seperti ditimbulkan oleh Covid-19 yaitu demam, batuk, flu, sesak nafas, dan lain-lain padahal para santri tersebut tidak terpapar wabah Covid-19.

Saat masa pandemi seperti sekarang, beberapa aktivitas dan kegiatan santri dinon-aktifkan. Salah satu contohnya, seperti kegiatan wali murid setiap dua minggu atau satu bulan sekali melakukan sambang ke anaknya yang mondok di pesantren, saat masa pandemi dinon-aktifkan karena dikhawatirkan dengan penyebaran virus Covid-19. Selain kegiatan rutin sambang dinon-aktifkan, kegiatan sekolah tatap muka atau luring digantikan dengan sekolah daring atau dilakukan secara online. Aktivitas sehari-hari para santri juga diubah tidak seperti aktivitas yang biasa dilakukan. Saat pandemi ini aktivitas sehari-hari santri lebih dibatasi dengan menerapkan protokol kesehatan. Aktivitas yang tidak biasanya dilakukan oleh santri di pondok pesantren seperti memakai masker, menjaga jarak, selalu mencuci tangan, dan beberapa kegiatan siswa yang dilakukan dengan berkumpul juga harus menerapkan protokol kesehatan. Hal-hal tersebut, menyebabkan para santri mengalami kondisi stress, kecemasan, serta kejenuhan dalam dirinya.  
 
Kebiasaan para santri yang dilakukan di saat waktu luang seperti berzikir, membaca al-Qur’an, mendengarkan murotal al-Qur’an, atau murojaah hafalan al-Qur’an dapat menjaga kesehatan psikis atau mentalnya, kebiasaan seperti itu bisa juga menjadi waktu dimana para santri bisa memanjakan diri sendiri. Dengan memberikan waktu untuk memanjakan diri, membuat pikiran para santri lebih tenang, otak lebih rileks, serta pikiran akan lebih jernih, sehingga para santri dapat meningkatkan konsentrasi, bahkan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan selama pandemi. 

Selain itu, para santri juga bisa mengisi waktu luang untuk mengembangkan potensi dari dalam dirinya atau mencoba hal-hal baru yang menarik. Sehingga, para santri tidak merasakan kejenuhan. Mencoba hal-hal yang baru bisa memberikan dampak positif pada kesehatan mental, seperti dapat menghindarkan diri dari rasa cemas, stress, jenuh yang berkepanjangan, serta dapat meningkatkan inovasi dan kreativitas para santri. 

Santri yang tinggal di pondok pesantren berpotensi dengan penyebaran Covid-19 yang cepat, hal ini karena para santri hidup berdampingan dalam satu lingkungan, jika salah satu santri terkena virus Covid-19, maka besar kemungkinan ada beberapa santri yang terkena virus tersebut. Klaster penyebaran Covid-19 di pondok pesantren, menjadi salah satu tekanan psikis dan emosianal para santri. Sehingga, para santri akan mengalami stress, rasa cemas yang berlebihan dan mengakibatkan para santri bisa terkena gangguan psikosomatik. 

Mencoba hal-hal baru yang menarik bisa dilakukan dengan mengadakan kegiatan vokasi di pondok pesantren. Pelatihan vokasi merupakan suatu pelatihan yang dapat menunjang pada penguasaan keahlian tertentu. Pelatihan vokasi yang dapat dilakukan bisa dalam bidang multimedia dan tata busana. Dalam bidang multimedia, santri dapat menambah keahliannya dalam bidang teknologi dan komunikasi. Pelatihan vokasi ini dapat diarahkan pada desain grafis, youtube edukasi, dan video grafi. Dari keterampilan inilah, santri dapat menghasilkan karya-karya yang inspiratif sekaligus dapat menjadi sarana dakwah baru yang mudah diterima masyarakat. Sedangkan dalam bidang tata busana santriwati diajarkan untuk menghasilkan gamis muslimah kekinian yang tentunya tetap islami dan sopan. Dengan keterampilan tata busana inilah, santriwati tidak hanya pandai secara agama tetapi juga dapat menciptakan lahan usaha baru.

Kegiatan vokasi tersebut, dapat mengatasi kejenuhan para santri dan memperkecil kemungkinan terkenanya gangguan psikosomatik dalam diri santri. Dengan ditambahkan kegiatan vokasi tersebut dapat meningkatkan inovasi, kreatif dan produktif pada setiap santri.

Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak psikosomatik para santri saat pandemi, bisa dilakukan dengan merevitalisasi atau merubah siklus kebiasaan santri seperti bedzikir, membaca al-Qur’an dan lain sebagainya dengan ditambahkannya kegiatan vokasi agar para santri tidak mengalami stress, cemas, ataupun kejenuhan yang dapat memungkinkan para santri terkena gangguan psikosomatik.

*Penulis adalah siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 7 Jombang, pemenang lomba Esai Hari Santri 2020 di Kabupaten Jombang nomor urut III