Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Perang Jombang (8): Semangat Melawan Penjajah

Rumah asisten residen Jombang diambil pada tahun 1932. (Foto: Istimewa)
Rumah asisten residen Jombang diambil pada tahun 1932. (Foto: Istimewa)

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Dalam sekenario perang dunia II, setelah kalah, Jepang harus menyerahkan wilayah jajahannya pada Sekutu. Jadi jelasnya Indonesia saat ini sudah lagi bukan miliknya Jepang, tapi milik Sekutu. Posisi Jepang selanjutnya adalah penjaga status quo, sampai Sekutu datang. 

Ya..., jadi Sekutu memang dipastikan akan datang. Begitulah kesepakatan di tingkat globalnya.

Adapun bahwa di masa status quo, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya adalah soal yang tak terduga. Dan tidak masuk dalam agenda sekenario global. Oleh karenannya Jepang masih tetap menjalankan tugasnya menjaga status quo.

Dalam konteks seperti itu maka orang-orang Jepang, baik militer maupun sipilnya masih bercokol di Indonesia. Termasuk orang-orang Belanda yang ditahan Jepang ketika Jepang mengalahkan Belanda tahun 1942. Mereka tinggal dan menguasai beberapa bangunan penting peninggalan Belanda. 

Bahkan bendera hinomaru masih berkibar di kantor-kantor pemerintahan. Di beberapa tempat di Jawa Timur, para pemuda Jawa Timur terlibat bentrok dengan militer Jepang. Para pemuda itu beranggapan bahwa karena Indonesia sudah merdeka maka bendera yang berkibar harus merah putih. Sedangkan menurut Jepang, sebelum Sekutu datang berarti Indonesia tanggung jawab mereka, sehingga hinomaru masih harus berkibar.

Karena terdesak melatih pasukan, TKR membutuhkan sebagian bangunan-bangunan yang dikuasai Jepang tersebut. Untungnya proses pengambilalihan tidak berlangsung alot. Sehingga tempat pendaftaran dan pelatihan segera bisa ditentukan.

“Kok bisa dengan mudah gedung-gedung itu diambil-alih.” Tanya Moenawar Pada Kretarto. Moenawar tidak ikut karena dia mempersiapkan materi pelatihan bersama tim pelatih. Yang berangkat Kretarto, Manan, dan beberapa perwira lainnya.

“Aku ancam mereka. Aku katakan: kami bukannya tidak ingat kekejaman Jepang kepada bangsa kami. Melalui romusha, dan tanam paksa. Petani menanam padi, tapi mereka hanya bisa makan jagung dan singkong. Setiap hari orang mati dipinggir jalan karena tenaganya dikuras, tapi tidak dikasih makan. Berkali-kali orang dipancung di depan umum hanya karena kesalahan sepele. Banyak gadis-gadis merana karena direnggut kesuciannya.”  

“Lalu?”

“Saya katakan: kami bisa melakukan hal yang sama saat ini juga, tidak usah menunggu besok. Kecuali kalau kalian mau bekerjasama. Serahkan gedung-gedung pada kami.”

Akhirnya diputuskan, bahwa tempat pendaftaran TKR berada di sebuah gedung di tengah kota dengan halaman luas, sedangkan tempat untuk melatih berada di gedung bekas rumah asisten residen Belanda, di utara alun-alun , kalau masih kurang ada alternatif di utara PG Djombang baru, bekas rumah adm pabrik. Sementara itu Hisbulloh dan Pesindo yang disebut di atas juga sudah memiliki gedung sendiri . Artinya mereka juga mengambilnya ‘dengan paksa’ dari orang-orang asing yang menempati gedung-gedung itu sebelumnya.

Sementara itu Kretarto juga melakukan koordinasi dengan Bupati Jombang. Apalagi kini TKR dapat tempat pelatihan di dekat pendopo kabupaten. Komunikasi dengan bupati Jombang bukan suatu yang sulit bagi Kretarto, karena sebagaimana disebutkan sebelumnya, mereka adalah sama-sama keturunan ningrat. Selain itu anak bupati juga mantan anggota PETA.

“Maaf Kanjeng Bupati, kami nanti akan melatih anak-anak muda di gedung bekas rumah asisten residen, yang terlihat dari sini itu.” Kretarto menunjuk gedung yang dimaksud.

“Bukannya kemarin masih ada orang Jepang di situ?”

“Itu mah beres dengan kita Kanjeng Bupati.”

“Bagus..., bagus.”

“Setelah mereka pergi, kita akan lebih leluasa menggunakan gedung-gedung peninggalan Belanda itu.”

“Saya mohon izin barangkali nanti aktifitas pelatihan mengganggu suasana di pendopo.”

“O.., nggak papa. Saya malah senang, bisa langsung memantau perkembangan TKR. Yang resah dengan perkembangan TKR mestinya orang Jepang. Orang Indonesia kok sudah buat tentara sendiri, jangan-jangan mau memberontak.”

“Syukurlah kalau begitu kanjeng Bupati, saya lebih tenang.”

“Saya yang mulai tidak tenang. Di Mojoagung, dan di Peterongan, saya dapat laporan sudah mulai berdatangan pengungsi dari Surabaya. Penjara yang digunakan menampung interniran Belanda berkali-kali terjadi keributan dengan para sipir. Rupanya para interniran pun sudah dengar kalau bolo-bolo mereka akan datang.”

“Begitulah keadaan sekarang Kanjeng Bupati, perang sudah di depan mata.” Kretarto menegaskan. Ternyata Bupati sudah banyak memahami situasi.

“Itu lah yang membuat pikiran saya tidak tenang. Sekutu akan datang ke Surabaya. Dimana-mana sudah terjadi aksi penolakan. Jalan diplomasi yang digagas para pimpinan negeri ini sepertinya tidak membuahkan hasil. Saya sudah mencium bau darah.”

“Biar kami-kami TKR dan para pemuda yang menghadapi Sekutu, Kanjeng Bupati. Memang itu tujuannya TKR dibentuk, menjadi benteng hidup bagi rakyat Indonesia. Kami akan berusaha sekeras mungkin.”

“Maaf Mas Kret sebelumnya..., menurut sampeyan, apa mungkin kekuatan Sekutu yang begitu agung dihadapi TKR yang baru belajar nembak? Sedangkan mereka telah berhasil menang perang. Bukan tembre-tembre, perang dunia. Perang yang melibatkan banyak negara.”

Kretarto menarik nafas panjang. Dia mencoba mencerna pertanyaan Bupati. Meragukan kemampuan TKR menghadapi Sekutu, atau ada maksud lain? Kalau itu bentuk keraguan, berarti Bupati tidak pas dijadikan tempat bertukar pikiran. Cukup di sini saja. Dalam kondisi kritis seperti saat ini, mestinya seorang Bupati minimal bisa memberikan dukungan moral, bukan malah menggembosi.

“Saya sulit menjawabnya, Kanjeng.” Kretarto mencoba berdiplomasi dengan memberi jawaban yang abu-abu. Percakapan sejenak terhenti.

“Yang jelas semangat membela negara tampak menggejala. Pendaftaran TKR baru saja dibuka, ternyata yang daftar sudah mulai antri. Padahal saya sendiri juga ragu sebelumnya. Jangan-jangan tidak ada yang mau mendaftar. Nah ketika semangat membela negeri membuncah, kemampuan teknis berperang bukan menjadi hal utama.” Kretarto merasa sayang kalau pembicaraan terputus. Dia perlu memaparkan situasi, untuk melihat bagaimana sikap Bupati secara lebih utuh.

“Begitu ya? Saya hanya ingin memastikan saja apa yang harus saya lakukan. Kalau memang semangat rakyat Jombang tinggi untuk membela negara, maka saya juga harus bertanggung jawab.”

“Sangat tinggi Kanjeng, yang saya ceritakan hanya di TKR, belum yang mendaftar prajurit di kelasykaran, seperti Hisbulloh atau yang lainnya.”

“Baiklah. Sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa hal terkait kemungkinan terjadinya perang. Tapi saya butuh memastikan saja bagaimana pengaruhnya terhadap rakyat Jombang, dari informasi yang dapat dipercaya. Kalau begitu Mas Kret, untuk urusan makan, mulai dari masa latihan, sampai nanti kalau terjadi perang, biar saya bantu, entah bagaimana caranya. Biar sampeyan fokus melatih anak-anak. Tapi tentang senjata mohon maaf saya tidak bisa bantu.”

“Terima kasih banyak Kanjeng Bupati. Urusan senjata biar saya pikir sama teman-teman.”

“Anak-anak Jombang yang ikut perang dan terluka, kalau memungkinkan dibawa ke Jombang, bawa saja. Balai pengobatan siap menampung.”

“Siap Kanjeng, terima kasih atas perhatiannya, saya malah belum kepikiran sampai situ.”

“Dan...., kalau ya..., kalau. Mudah-mudahan selamat semua. Tapi kalau ada yang gugur, bawa anak-anak Jombang itu kembali. Itu merupakan kehormatan bagi rakyat Jombang. Saya sudah siapkan makam pahlawan, di dekat makam kanjeng Bupati sepuh. Mereka layak mendapat penghormatan tertinggi, agar nanti generasi selanjutnya tahu bahwa sesepuhnya rela mengorbankan nyawa, demi anak turunnya agar mendapat kehidupan yang lebih baik.”

“Terima kasih Kanjeng Bupati.” Kretarto berdiri hormat demi mendapatkan jawaban Bupati yang di luar perkiraannya itu. 

Menyesal dia telah berperasangka yang tidak-tidak. Bahkan dia tidak lagi bisa berkata-kata. Satu lagi kenyataan didapati Kretarto, bahwa tidak hanya anak-anak muda yang semangat menghalau penjajah datang kembali, bahkan Bupatinya juga tidak kalah semangatnya, dengan caranya sendiri.

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang

Catatan: Tulisan ini adalah bagian dari isi sebuah novel berjudul Perang Jombang karya penulis sendiri. Beberapa kisah berseri dimuat NU Jombang Online atas izin penulis