Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Perang Jombang (3): Perempuan di Balik Kretarto

Mau tidak mau Kretarto lebih sering meninggalkan istrinya.
Mau tidak mau Kretarto lebih sering meninggalkan istrinya.

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Sebagaimana biasa ketika sedang di Surabaya, Kretarto mencoba sebisa mungkin sarapan di rumah, karena hanya pagi seperti ini waktu yang memungkinkan untuk bisa bercengkerama dengan sang istri. Setelah keluar rumah, tidak tahu pasti kapan kembali. Terlebih sejak dua bulan lalu, ketika turun kepadanya perintah membentuk BKR di Jombang.

Mau tidak mau Kretarto lebih sering meninggalkan istrinya. Pasti tidak mudah menjalani rumah tangga ketika suami-istri saling berjauhan. Apalagi status mereka masih pengantin baru. Menikah sekitar setahun lalu, dan belum dikasih momongan. 

Hanya karena situasi negara yang membutuhkan perhatian lebih yang menyebabkan mereka bisa menerima dan saling memahami. Belum sempat menikmati bulan madu dengan pergi berdua ke tempat yang indah-indah, selayaknya pengantin baru pada umumnya. 

Jangankan berbulan madu, bersama ngobrol bareng, saling mencurahkan isi hati pun tidak sempat. Dulu ketika masih belum ditugaskan di Jombang, berangkat pagi, pulang-pulang istri sudah tertidur pulas. Hanya ketika sarapan mereka bisa bertemu dan ngobrol-ngobrol. Itu pun masih mending, setiap hari bisa pulang. Sekarang pulang seminggu sekali sudah untung.

“Masak apa pagi ini sayang?”

“Saya tadi ke pasar tidak dapat apa-apa. Tidak ada sayuran, tidak ada tempe-tahu, hanya ada ikan laut saja.”

“Tidak apa-apa, yang ada saja yang kita makan, situasi masih belum memungkinkan atuh, di pasar belum banyak orang dagang seperti biasa, Neng. Kita bisa makan nasi begini saja mah sudah untung, orang lain makan gaplek.”

“Iya A’, segala sesuatunya harus kita syukuri.” Berkata demikian Roemini sambil menyodorkan sambal terasi pada suaminya yang sudah siap dengan sepiring nasinya.

“Apalagi yang masak istri tercinta, pasti makan pakai lauk sambal begini sudah nikmatnya minta ampunnnn.” Lalu dicubitnya pipi istrinya. Sang istri pun tersipu malu.

“Aaaa, Aa’ ini bisa aja kalau nggombal.”

“Aa’ tidak ngegombal sayang..., ini mah tulus dari hati.” 

“Oh ya Neng, ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama Eneng.” 

“Apa itu, A’?”

“Satu-dua minggu ini Eneng  di Surabaya dulu ya, Aa’ sedang usahakan mencari tempat tinggal di Jombang, kalau sudah dapat nanti Aa’ boyong Eneng ke sana.”

“Minggu kemarin Aa’ juga ngomong begitu” Roekmini terpancing kengambekannya. Bibirnya maju setengah meter. Tubuhnya yang tadinya merapat ke meja, kini disandarkan kursi.

“Iya..., iya maaf. Ini karena....”

“Alahhhh...., ngomong aja kalau Aa’ nggak perduli sama aku.” Monyong bibirnya nambah setengah meter lagi.

“Bukan begitu Neng. Dari kemarin-kemarin Aa’ sudah berusaha mencari  rumah di Jombang, tapi posisi saat ini banyak rumah peninggalan Belanda yang masih ditempati interniran Belanda, dan orang-orang Jepang.”

“Aku nggak minta rumah gedung kok, gedek  juga gak papa”

“Itu lebih susah lagi, tidak ada rumah milik penduduk yang kosong. Mereka punya rumah untuk dirinya sendiri saja sudah untung.  Situasi penjajahan akhir-akhir ini menyebabkan rakyat hanya fokus memenuhi kebutuhan perut saja. Pakaian mereka banyak yang mengenakan karung goni.”

“Gubuk tengah sawah kek...,”

“Hahaha..., segitunya Neng”

“Aa’ ini nggak paham-paham ya, bagaimana jadi perempuan seorang diri di rumah. Tetangga kanan kiri sudah mulai banyak yang mengungsi entah kemana. Sementara sirine tanda bahaya semakin sering bunyi tengah malam. A’ aku ini perempuan biasa, bukan prajurit yang bisa melawan musuh atau menghindar secepat kilat. Jantungan yang iya, kalau lama-lama begini.” 

Surabaya diakhir Oktober 1945 memang semakin memanas. Kehadiran Sekutu seakan sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Pemenang perang dunia II ini dengan segala kegagahan alat perangnya, dan kepercayaan diri di atas angin, tak lama lagi akan menjejakkan kaki di bumi Surabaya.

Bekas wilayah Hindia Belanda ini akan kembali mereka tundukkan, lewat kepanjangan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Belanda. Dengan prestasi gemilang memenangi perang dunia II, di Surabaya tidak ada yang mereka takuti. Karena tidak ada pasukan perang yang patut diperhitungkan. 

Pasukan perang yang ada sebagian didikan Belanda; masak gurunya kalah dengan didikannya? Sebagian lagi hasil didikan Jepang, yang mendapat pelatihan perang secara terbatas. Wong Jepangnya saja kalah, apalagi didikan Jepang, yang cuma diajari kepanduan, baris-berbaris, dan sedikit tentang senjata.

“Baik, Neng. Dua-tiga hari lagi kamu akan Aa’ jemput.” Kretarto seakan tak mampu melawan kata-kata istrinya yang sepertinya sudah lama terpendam dalam hati, sehingga keras bagaikan baja cor. Terlebih ditambah dengan kilatan mata yang berkobar-kobar. Bisa apa laki-laki menghadapi perempuan yang sudah seperti ini.

“Janji ya??” nadanya masih tegas dan keras.

“Iya Aa’ janji.”

“Awas kalau mbleset. Aku  akan pulang ke Probolinggo.”

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang 

Catatan: Tulisan ini merupakan penggalan dari sebuah Novel Perang Jombang karya penulis sendiri