Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Orang Kaya Pun Tak Boleh Sombong, Ini Faktornya

Ilustrasi orang kaya tidak boleh sombong (Winnetnews)
Ilustrasi orang kaya tidak boleh sombong (Winnetnews)

NU Jombang Online,
Allah kaya secara mutlak sementara jika manusia dalam kondisi kaya, sifatnya adalah kaya secara muqayyad (terbatas). Begitu Syifaus Surur menjelaskan saat mengisi ngaji di Asrama Hasbullah Said Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) MAN 4 Jombang.

Ia menjelaskan, Allah adalah kaya secara mutlak. Secara mutlak di sini dimaksudkan bahwa Allah itu tidak mempunyai kebutuhan secara mutlak. Dan kita sebagai manusia apabila dalam kondisi kaya, artinya hanya sebatas kaya secara muqayyad (terbatas), yakni memiliki kebutuhan dengan kapasitas sedikit.

“Allah itu kaya secara mutlak. Allah tidak memiliki kebutuhan terhadap apapun atau ittifaaul hajat. Dan kita sebagai manusia jika disebut kaya maka hanya kaya secara muqayyad (terbatas). Kaya secara muqayyad yakni manusia masih memiliki kebutuhan namun sedikit,” terangnya.

Pria alumni PP. Al-Falah Ploso Kediri itu pun memberikan contoh terkait kaya secara muqayyad dan mutlak. Contoh kaya secara muqayyad bisa kita lihat pada pemilik Djarum misalnya, walaupun dia kaya dengan harta ratusan triliun dia tetap membutuhkan orang lain untuk membantunya.

“Manusia yang kaya raya masih tetap butuh pembantu rumah tangga untuk membersihkan rumah, butuh petani untuk menanam beras agar nantinya bisa dimasak sehingga menjadi nasi untuk dimakan. Sementara Allah, tidak butuh semua itu. Sebab, Allah kaya secara mutlak,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tidak ada gunanya menyombongkan diri dengan menimbun harta yang berlimpah-limpah tanpa sedekah. Sebab,  hakikatnya, kekayaan yang kita miliki itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan Allah SWT.

Kontributor: M. Ainul Irfan
Editor: Fitriana