Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Obrolan seputar Imsak seperti Lampu Kuning

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Danial: Mas, aku ndak mau makan sahur, karena sekarang sudah waktunya imsak. 

Najib: Sebenarnya ya ndak apa-apa, Dik. Imsak itu artinya menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum sahur. Namun, sebenarnya masih boleh sekedarnya, sampai sebelum masuk waktu Subuh (munculnya fajar shadiq).

Danial: Ohhh gitu ya, Mas. Berarti masih boleh makan minum ya. Tapi aku makannya sebentar saja ya, biar ndak mepet ke waktu shubuh. Aku akan berkumur juga agar tak ada sisa makanan. Oh iya, Mas. Emang kenapa sih kok ada waktu imsak, Mas? 

Najib: Itu Sunnah dari Nabi Muhammad, Dik. Ada jeda waktu. Jadi, itu semacam alarm kehati-hatian, bukan alarm larangan mutlak.

Danial: Ohhh, begitu. Kok ada alarm segala ya, Mas.

Najib: Iya, Dik. Dalam hidup sudah biasa ada peringatan dini. Imsak itu seperti lampu kuning. Nah, kalau waktu Subuh (fajar), itu lampu merah.

Najib: Kalau ditelusuri bahwa tradisi imsak adalah hadits shahih dari Rasulullah, yakni membuat tempo sekitar lima puluh ayat sebelum munculnya fajar Shadiq. 

Najib: Para sahabat menjelaskan pernah sahur bersama Nabi Muhammad kemudian shalat subuh. Kemudian ditanya, berapa jeda waktu antara adzan subuh dengan sahur. Sahabat Zaid menjawab, kira-kira rentang waktu membaca 50 ayat.

Hal ini kemudian disimpulkan oleh sejumlah ahli bahwa lima puluh ayat itu sekitar sepuluh menit. Karena itulah imsak adalah sepuluh menit sebelum Subuh.

Danial: Siap, Mas. Makasih.