Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Kisah Nuzula, Santriwati yang Raup Jutaan Rupiah dari Kerajinan Makrame

Nuzula, pengrajin Makrame yang meraup jutaan rupiah dari jualan online (Foto: Rohmadi)
Nuzula, pengrajin Makrame yang meraup jutaan rupiah dari jualan online (Foto: Rohmadi)

NU Jombang Online,
Namanya Jannatul Firdausi Nuzula. Ia salah satu santri Pondok Pesantren Al Amanah, Tambak Beras, Jombang. Lewat kreativitas tangannya, Nuzula mengubah benang menjadi hiasan rumah yang unik dan menarik hingga menghasilkan uang hingga jutaan rupiah.

Hiasan dari benang itu biasa disebut dengan Makrame. Sebuah seni menyatukan simpul yang terdiri atas satu, dua, tiga, bahkan lebih tali atau benang untuk membuat sebuah karya tangan. Untuk membuat makrame dibutuhkan keterampilan tangan saat menjalin tali-temali.

Konon, kerajinan tangan yang dibuat gadis yang akrab disapa Nuzula ini berasal dari Arab di awal abad pertengahan. Para penenun pada abad ini merajut benang dan rami dengan simpul dan ikat menjadi dekorasi yang menarik. Makrame berasal dari kata mikramah yang berarti hiasan tangan atau anyaman.

Gadis yang masih berusia 19 tahun ini menyulap tali temali menjadi hiasan cermin, gantungan bunga dan tas yang indah. Tentunya, keindahan ini membuatnya meraup untung hingga jutaan rupiah.

Awalnya, Nuzula hanya coba-coba. Iseng melihat salah satu media sosial (youtube.Red) lalu belajar mempraktikannya karena memang makrame membutuhkan keterampilan tangan saat menjalin tali-temali.

Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih belum berakhir membuat proses belajar mengajar di sekolah maupun pondok pesantren Jombang belum dimulai kembali. Hal itu disebabkan ketentuan pondok yang harus lockdown sejak Juni 2020 kemarin. Waktu luang inilah yang dimanfaatkan Nuzula untuk melakukan hal positif yang akhirnya membuatnya menjadi pengusaha mandiri.

Lewat keuletan dan ketelatenan dari tangannya, satu-persatu tali-tali benang itu di anyamnya. Matanya sedikit mengernyit ketika memadukan jalinan tali itu. Hingga akhirnya, dalam hitungan menit ia mampu membuat suatu karya kerajinan makrame.

"Untuk membuatnya susah-susah gambang tergantung motifnya. Yang penting orangnya sabar ulet dan telaten, saya rasa semua biasa membuatnya. Saya juga awalnya belajar otodidak dari youtube," jelasnya.

Siapa sangka jika kerajinan yang ia geluti sejak juni lalu kini menjadi tren dan dicari oleh banyak orang. Gadis kelahiran Februari 2001 ini kini bisa meraup untung mencapai 2 juta rupiah setiap bulannya.

"Saya menjualnya lewat media online seperti media sosial dan toko online. Karena saya jualnya online, pembelinya malah bukan dari Jombang melainkan dari luar Jombang, seperti Surabaya, Bekasi, Jakarta hingga Padang, Kalimantan dan juga Bali," ujar santriwati Al-amin, Tambakberas ini.

Hasil kerajinan Makramenya dijual mulai dari harga 20 ribu hingga 150 ribu rupiah tergantung tingkat kesulitan dan besarnya makrame.

"Untuk gantungan bunga harganya 20 ribu, sedangkan untuk yang lain. Harganya bervariasi. Mulai dari harga 100 hingga 150 ribu tergantung tingkat kesulitannya," bebernya.

Meski masih belia, Nuzula tak patah arang di masa pandemi ini. Dimana hampir semua orang terkena imbas perekonomian yang sulit. Ia berharap langkah positifnya ini bisa menjadi inspirasi banyak orang.

"Pandemi ini belum tahu kapan akan berakhir. Saya harap semua bisa mengambil hikmahnya dan bisa memanfaatkan waktu dengan baik untuk hal yang positif. Mari sama-sama menjaga kesehatan dan selalu mematuhi protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Semoga pandemi ini segera usai," harapnya tulus.

Pewarta: Rohmadi
Editor : Fitriana