Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Kisah Mula Menjadi Santri Kiai Bisri Syansuri

KH Bisri Syansuri
KH Bisri Syansuri

Adalah Sanuri, pria asal Plosokandang Kedungwaru, Tulungagung bercerita tentang awal mula nyantri di Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, dan kisah namanya yang diganti secara langsung oleh Mbah Kiai Bisri Syansuri, pendiri Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar pada 1917.

Awal kali di tahun 1958 itu, Sanuri pergi ke Jombang memang berniat ingin mondok. Ia ketika itu mau menyusul dua temannya yang sudah nyantri di Pesantren Tebuireng, yang ketika itu di bawah kepemimpinan putera keenam Kiai Hasyim Asy'ari bernama, Kiai Abdul Kholik, dengan dibantu Kiai Idris Kamali, asal Cirebon, yang menikah dengan putri keempat Kiai Hasyim Asy'ari yang bernama Ning Izzah. 

Singkat kata, Sanuri kemudian disowankan kepada Kiai Idris Kamali, dan justru didawuhi, "Sampean iki santri Denanyar." Tentu saja Sanuri kaget dan heran kenapa Kiai Idris menyebutnya sebagai santri Denanyar, bahkan diperintahkan untuk segera sowan kepada Kiai Bisri Syansuri di Denanyar. 

Akhirnya, Sanuri pun bergegas pamitan dari Pesantren Tebuireng dan berniat sowan kepada Kiai Bisri Syansuri. Ketika tiba di Denanyar, ternyata ia bertemu dengan dua santri baru seperti dirinya yang ketika itu juga hendak sowan. Temannya itu yang dari Pontianak, namanya Nasruddin. Sedangkan yang asal Palembang namanya Saifuddin. 

Kiai Bisri menyebut nama Sanuri dengan Gus. Dawuh Mbah Bisri, "Gus, sebenarnya nama Sanuri itu sudah bagus, tapi saya ganti dengan nama Nuruddin ya."

Santri kelahiran 1935 ini ketika itu merespon titah Kiai Bisri dengan, "Kulo nggih monggo mawon (Saya ya menyilahkan titah Panjenengan saja, Kiai)."

Jadilah tiga santri ini namanya sama-sama berakhiran Udin, yaitu Nasruddin, Saifuddin, dan Nuruddin.

Barangkali, sebagai santri baru, Nuruddin merasa perlu pertimbangan lain untuk Memantapkan pilihan. Sepekan kemudian, ia sowan kepada Kiai Romly Tamim Pengasuh Pesantren Rejoso Peterongan. Yang mengagetkan, sama seperti Kiai Idris Tebuireng, Kiai Romly dawuh kepada Sanuri, "Sampean ini ya santri Denanyar."

Nuruddin menjadi semakin mantab untuk mondok di Pesantren Denanyar, karena dua kiai terkemuka tersebut menyebutnya sebagai santri Denanyar.

Nuruddin dan kedua temannya kemudian ditempatkan di asrama Fatahillah bagian atas, yang berlokasi di depan ndalem kasepuhan, menghadap utara. Sanuri menjadi santri Denanyar dari tahun 1958 hingga 1965.

Di masanya itu, Kiai Bisri Syansuri mengajar kitab yang besar-besar atau tingkat atas, misalnya Fathul Mu'in. Sementara putra dan menantu beliau mengajar kitab yang lebih kecil dan mendasar, misalnya Taqrib. Santri Denanyar pada tahun-tahun itu kisaran 200-an. Adapun yang ngaji langsung ke Kiai Bisri Syansuri tak sampai sepuluh orang. 

Sebagai sosok santri langsung Mbah Bisri, sosok ulama ahli fikih dan pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Nuruddin merasa perlu mengingati dawuh beliau, antara lain sebagai santri agar senantiasa sabar dan temen (bersungguh-sungguh). Juga nasehat Kiai Bisri, "Umat Islam ojo ninggalne kesucian (umat Islam jangan meninggalkan kesucian). Yang suci, InsyaAllah hajatnya dipenuhi." 

Di antara wirid yang biasa dibaca Mbah Bisri Syansuri ketika ada hajat besar atau untuk menolak bahaya, adalah:

1. Membaca istighfar 3000 kali
2. Membaca Al-fatihah 4000 kali
 3. Membaca surat al Ikhlas (Qulhu) 40 kali
3. Membaca surat Al-Falak 40 kali
 4. Membaca Asyhadu an La ilaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah tanpa nafas, 11 kali
 5. Membaca Lailaha illallah 4000 kali

*Ustadz Yusuf Suharto, alumni Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Kabupaten Jombang.