Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Khutbah Jumat Harlah Ke-96 NU : Manusia yang Paling Utama

Khutbah I

إِنَّ الحَمْدلله، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَهُوَ المهْتَدُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا، إِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُم مُسْلِمُوْنَ.
أَعُوْذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Bersyukur kita kepada Allah pada Bulan Rajab yang mulia ini bulan dimana kita memperingati hari lahir jamiiyah kita NU yang ke 96, pada hari Jumat yang mulya ini, disaat yang mustajabah ini, kita semua didudukan oleh Allah di rumahNya untuk selanjutnya bersama–sama melakukan muhasabah–melakukan koreksi terhadap perjalanan kehidupan kita. Semakin bertambah usia kita semakin bertambah kenikmatan yang kita terima dari Allah. Sudahkah berbanding lurus dengan pertambahan ketaqwaan kita kepada Allah.

Kemuliaan kita di hadapan Allah tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan yang kita sandang, seberapa banyak harta yang kita punya, seberapa tampan dan kuatnya wajah dan tubuh kita. Kemuliaan kita di hadapan Allah hanya ditentukan oleh kualitas, kuantitas ketaqwaan kita kepada Allah sebagaimana dawuh Allah SWT:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقَاكُم

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kalian”

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Pada kesempatan yang mulia ini izinkan kami menceritakan kembali dialog baginda Rasulullah SAW dengan para sahabat sebagaimana yang direkam oleh Abdullah bin Amr R.A.:

قِيلَ لِرَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ ؟ قال كُلُّ مَـخْمُوْمِ القَلْبِ وَصَدُوْقِ اللِّسَانِ, قَالُوا صَدُوْقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَـخْمُوْمِ القَلْبِ؟ قال هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا اِثْمَ فِيْهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ

“Rasulullah telah ditanya, “Siapakah manusia yang paling utama”? Rasulullah bersabda, “Setiap orang yang hatinya Makhmuum dan lisannya jujur.” Rasulullah kembali ditanya, “Kami sudah tahu bagaimana lisan yang jujur. Lantas apa yang dimaksud dengan hati yang Makhmuum?” Rasulullah menjawab, “Yang dimaksud dengan hati Makhmuum adalah hati yang bertakwa dan bersih, didalamnya tidak terdapat dosa, rasa dengki, rasa iri, dan rasa hasud.” HR. Ibnu Majah.

Dari dialog singkat bisa disimpulkan bahwa yang dinamakan kelompok muslim sejati disamping bersifat jujur dalam perkataan, mereka adalah yang memiliki hati istimewa karena dipenuhi dengan rasa saling mencintai, saling menyebarkan rasa kasih sayang, saling menolong, bersikap ramah, dan tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk mengkufuri nikmat Allah. Perilaku seorang muslim sejati sesuai dengan firman Allah SWT sebagai berikut:

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِإِخْوَانِنَا سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membeiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang–orang yang beriman; Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Qs. Al-Hasyr: 10).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dalam ayat ke 10 surat Al-Hasyr ini Allah SWT menampilkan 4 (empat) karakter yang luar biasa dari umat generasi terakhir Nabi Muhammad SAW, yaitu generasi yang datang setelah Muhajirin dan Anshor antara lain:.

Karakter pertama : Mereka adalah orang-prang yang memiliki aqidah yang mantap bahwa semua yang mengatur kehidupannya adalah Rabb mereka, sehingga mereka menyerahkan semuanya urusan mereka kepada Allah. 

Karakter yang kedua : Mereka adalah orang-orang yang secara terus-menerus mengakui bahwa dirinya adalah orang yang penuh dengan kesalahan, penuh dengan dosa lalu menghibah kepada Allah untuk meminta Ampun. 

Karakter ketiga : Disamping mereka meminta ampun untuk diri mereka mereka tidak lupa untuk memohonkan ampun terhadap saudara-saudara mekereka yang telah wafat dalam keadaan iman. 

Karakter yang terakhir : Mereka memohon kepada Allah agar memiliki hati yang bersih dari prasangka buruk terhadap orang-orang yang beriman.

Hadirin Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah

Ada satu kisah yang disampaikan oleh sahabat Anas bin Malik “ suatu saat ketika Rasullulah sedang duduk duduk di masjid tiba-tiba Rasulullah dawuh “sebentar lagi akan masuk dari pintu sana dia adalah laki laki penghuni surga” Para Sahabat kemudian menatap pintu yang ditunjuk oleh Rasulullah ingin tahu siapa laki-laki tersebut. Ternyata dia adalah Seorang sahabat yang dari yang wajahnya masih basah dengan air wudhu sementara tangannya membawa sandal. Keesokan harinya Rasulullah dawuh lagi “sebentar lagi akan masuk dari pintu sebelah sana dia adalah laki-laki penghuni surga”. Ternyata yang  masuk  adalah laki-laki yang kemarin pada hari yang ketiga Rasulullah dawuh “akan masuk dari pintu dari sebelah sana dia adalah rajulun min ahli jannah”. Ternyata di hari yang ketiga itu juga yang masuk tetap laki-laki yang kemarin.

Hadirin  Jama’ah  Jumat  yang  dimuliakan  oleh  Allah,  tiga hari  berturut-turut, ternyata yang masuk adalah seorang laki-laki.

Sahabat Abdulllah bin ‘Amr bin Ash ingin melihat dari dekat seperti apa ibadah laki-laki ini, Abdullah pun menemui laki-laki tersebut. “Aku sedang berseteru dengan ayahku. Aku bersumpah tak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika diizinkan, aku ingin menginap di rumahmu selama tiga hari,” pinta Abdllah kepada lelaki itu.” “Oh ia silakan dengan senang hati, jawab sahabat tersebut. Lalu Abdullah pun bermalam di sana sampai tiga hari. Dalam pengamatannya, selama rentang waktu itu, tak ada amalan spesial dari pria yang dikatakan Rasulullah sebagai ahli surga tersebut. Ia tak menjumpai sama sekali lelaki Anshor itu melaksanakan ibadah malam yang istimewa. Hanya saja, tiap kali mebolak-balikkan badan di tempat tidurnya, lelaki tersebut selalu membaca dzikir dan takbir sampai ia bangun untuk shalat subuh. Secara kasat mata, amalan lelaki Anshor ini tidak ada apa-apanya dibanding amalan sebagian sahabat lain yang begitu giat beribadah sepanjang waktu. Ada yang sholat malam dengan mengkhatam Al-Qur'an, ada yang bermunajat semalaman hingga fajar dan lain sebagainya.

Hampir saja Abdullah meremehkan amal laki-laki tersebut, singkat cerita saat Abddullah pamit pulang dan menjelaskan bahwa tujuan bermalam selama tiga hari hanya karena ingin melihat dan meniru amal ibadah lelaki tersebut yang ternyata tidak ia temukan dalam pengamatannya.

“Bapak mohon maaf Jujur saja, saya bermalam selama tiga malam di sini hanya ingin tahu kehebatan ibadah bapak, karena bapak disebut oleh Rasulullah sebagai rajulun min ahlil jannah sampai tiga hari berturut-turut, namun jujur saya melihat bapak biasa-biasa saja.

Dan jujur saya tidak melihat kau melakukan amal ibadah yang banyak. Lantas, amalanmu mana yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata demikian?” Tanya Abdullah. “Tidak ada yang lain kecuali seperti yang kau saksikan,” jawabnya.

Abdullah berpaling hendak pergi namun langkahnya tertahan setelah lelaki Anshor itu memanggilnya. “Tak ada amalan kecuali sebagaimana yang engkau lihat. Hanya saja, dalam diriku tidak pernah terbersit keinginan untuk menipu orang, dan tidak pula aku pernah iri dengki kepada siapa pun atas nikmat yang Allah berikan kepadanya, saya tidak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain.”

Lalu Abdullah bertakbir dan bertasbih sambil berkata “Ternyata amalan inilah menyebabkan kau memperoleh keististimewaan itu, amalan yang tak mampu kami lakukan,” simpul Abdullah bin Amr bin Ash.

Semoga Allah SWT memperkuat rasa persaudaraan kita, kita ini diikat dalam ikatan persaudaraan sesama nahdliyin, sesama muslim dan sesama anak bangsa Indonesia.

Kita haus memiliki komitmen yang kuat dan kokoh bahwa tidak ada tempat bagi ymereka yang ingin memecah belah persatuan bangsa kita, juga tidak bagi mereka yang inging menghancurkan bangunan NKRI kita.

Kita akan berada di garis terdepan bila ada yang mencoba mengubah dasar-dasar negara kita.

Akhirnya selamat ber-Harlah NU yang ke-96 Allah akan sealalu merapatkan shof kita dan memberikan pertolongan kepada kita sebagaimana pertolongan pang diberikan kepada para pendiri NU dan para pendiri negeri tercinta ini karena pertolongan bersama dengan jamaah.

Sebagai penutup khutbah singkat ini, mari kita merenungkan dawuh baginda Rasulullah SAW.:

(إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلكِنْ فِي التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ (رواه مسلم

“Sesungguhnya syaitan merasa putus asa kalau orang-orang di Jazirah Arab akan menyembahnya, namun syaitan tidak pernah putus asa untuk mengadu domba mereka.”

Semoga bermanfaat

إنَّ أَحْسَنَ الكَلَامِ وَأَبْيَنَ النِّظَامِ كَلَامُ اللّٰهِ المَلِكِ العَلَّامِ، وَاللّٰهُ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ  يَهْتَدِ المُهْتَدُوْنَ، مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا، وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تَعَالٰى هُوَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرَّاءٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Dilanjutkan Khutbah II

 

Penulis Khubah :  Wakil Rais Syuriah PCNU Jombang, Dr. KH. Abd. Kholiq Hasan, M.HI.