Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Kekaguman Dubes China terhadap KH Hasyim Asy'ari dan Pesantren

NU JOMBANG ONLINE - Dubes Republik Rakyat China, Xiao Qian mengungkapkan kekagumannya kepada pesantren. Terkhusus Pesantren Tebuireng Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur karena faktor pendiri Nahdlatul Ulama yaitu KH Hasyim Asy'ari. KH Hasyim merupakan pengasuh pertama dan perintis Pesantren Tebuireng.

“Pesantren Tebuireng ini sangat terkenal sekali, karena berdirinya pesantren ini diprakarsai oleh KH Hasyim Asy’ari yang ikut berjuang memerdekakan Indonesia,” jelasnya, Jumat (15/3) saat berkunjung ke Tebuireng.

Ia juga mengakui keberadaan Pesantren Tebuireng yang telah melahirkan banyak pemimpin dan kader-kader hebat dan kini memimpin di Indonesia. Pesantren Tebuireng berperan banyak dalam mencetak pemimpin baru dan tokoh agama.

“Selama 100 tahun berdirinya Tebuireng telah melahirkan kader-kader tokoh di berbagai bidang,” tambah Xiao Qian.


Sementara itu, Pengasuh Tebuireng KH Solahudin Wahid menjelaskan tentang dualisme madrasah dan pendidikan umum di Indonesia. Ia pun memaparkan tentang sejarah pesantren. 

“Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, yakni pertama kali didirikan pada tahun 1840. Pesantren tertua terletak di Pasuruan, yaitu Pesantren Sidogiri,” ungkap Gus Sholah.

Dikatakan Gus Sholah, pada awalnya sekolah yang ada di Indonesia merupakan milik Belanda yang didirikan pertama kali pada tahun tahun 1840, berjarak 10 tahun dari berdirinya pesantren. Sekolah Belanda tersebut menjadi sekolah negeri saat Indonesia merdeka. Dan pesantren tetap menjadi dirinya sendiri.

Pesantren dalam waktu 20 tahun belakangan ini berkembang sangat pesat, sehingga masyarakat juga mengapresiasi perkembangan pesantren tersebut.

“Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknnya orang yang memilih untuk menyekolahkan anaknya di pesantren. Hal itu terjadi karena pesantren dapat mengikuti perkembangan pendidikan yang lain di Indonesia,” tambahnya.

Gus Solah juga menyampaikan kekagumannya atas perkembangan yang dicapai oleh Negara China dalam 30 tahun terakhir. Ia berharap suatu hari nantinya santri Tebuireng dapat mempelajari kemajuan negeri China. Entah langsung belajar ke negara tirai bambu tersebut, atau melalui media, film, buku, dan lain-lain.

“Kami sangat mengagumi perkembangan yang dicapai Tiongkok dalam waktu 30 tahun ini, sehingga kami berharap mungkin dapat menerima informasi itu baik dari buku maupun film, untuk mengetahuinya, sehingga santri Tebuireng dapat belajar darinya,” pungkasnya. (Syarif Abdurrahman)

Sumber: Nu Online