Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Ini Amalan-amalan yang Bisa Dilakukan di Bulan Ramadhan

Ilustrasi menghidupkan bulan Ramadhan. (Foto: Merdeka.coml
Ilustrasi menghidupkan bulan Ramadhan. (Foto: Merdeka.coml

Ramadhan adalah bulan yang istimewa, sehingga amat rugi jika kita tidak memaksimalkan untuk mengambil keistimewaan-keistimewaan tersebut dengan jalan melaksanakan minimal 6 jenis ibadah yang ada di bulan Ramadhan.

Pertama, Puasa Ramadhan. Sebagaimana dalam Surat al-Baqarah: 183, puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam yang sudah baligh dan berakal sehat. Menjalankan puasa Ramadhan tidak hanya sekadar melaksanakan kewajiban semata, namun ada manfaat yang besar, sebagaimana sebuah hadis Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abi Hurairah berkata, bahwa Rasulullah SAW, bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan dilandasi keimanan kepada Allah dan mengharap pahala dari Allah, akan diampuni dosanya pada masa lampau”. (Hr. Bukhari).

Kedua, melaksanakan shalat Tarawih di malam hari. Meskipun shalat Tarawih hukumnya sunnah, namun akan menjadi paket bersama dengan puasa Ramadhan sebagai penghapus dosa kita sebagaimana kita baru dilahirkan ke dunia ini tanpa dosa. Hal ini dijelaskan dalam Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal:

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ لَقِيتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْتُ حَدِّثْنِي عَنْ شَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ أَبِيكَ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ نَعَمْ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ احْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Dari al-Nadhar bin Syaiban berkata bahwa ia bertemu dengan Aba salamah bin Abdirrahman bahwa ia mendengar dari bapaknya dari Rasulullah SAW, pada bulan Ramadhan, maka ia berkata: Ya, sungguh Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan aku (Rasululllah) menganjurkan melakukan shalat Tarawih, karena itu, siapa yang berpuasa Ramadhan dan shalat Tarawih hanya mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya seperti ketika dilahirkan ibunya.

Sedangkan di dalam Kitab Shahih Bukhari disebutkan:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةٍ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ 

Dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW, senang melakukan tarawih di bulan Ramadhan, namun bukan mewajibkannya, kemudian bersabda: siapa yang melaksanakan Tarawih karena Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya pada masa lampau. Kemudian Rasulullah meninggal dunia dan ketentuannya tetap demikian pada khalifah Abu Bakr dan Umar bin Khattab.

Ketiga, melaksanakan I'tikaf. I'tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat ibadah. Pada bulan Ramadhan, Rasulullah melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai akhir hayat beliau. Kemudian istri-istri beliau tetap melakukannya setelah wafatnya Rasulullah SAW. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Muslim:

و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Dari Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW. I'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai meninggal dunia, kemudian istri-istri beliau melakukannya setelah wafatnya Rasulullah. (Hr. Muslim)

Rasulullah SAW melakukan i'tikaf setelah shalat subuh pada bulan Ramadhan. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sunan al-Nasa'i:

أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا يَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الصُّبْحَ ثُمَّ دَخَلَ فِي الْمَكَانِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يَعْتَكِفَ فِيهِ فَأَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَأَمَرَ فَضُرِبَ لَهُ خِبَاءٌ وَأَمَرَتْ حَفْصَةُ فَضُرِبَ لَهَا خِبَاءٌ فَلَمَّا رَأَتْ زَيْنَبُ خِبَاءَهَا أَمَرَتْ فَضُرِبَ لَهَا خِبَاءٌ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آلْبِرَّ تُرِدْنَ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِي رَمَضَانَ وَاعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ 

Dari Aisyah berkata, bahwa Rasulullah jika ingin melakukan i'tikaf, shalat shubuh terlebih dahulu, kemudian menempati tempat yang akan dijadikan i'tikaf, maka hal ini biasa dilakukan pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, kemudian menyuruh membuat tenda, maka Hafsha menyuruh dibuatkan tenda, begitu juga Zainab, ketika Rasulullah melihat tenda-tenda itu bersabda: kebajikan yang engkau inginkan, jika tidak sempat i'tikaf di bulan Ramadhan, maka i'tikaflah pada sepuluh hari pada bulan Syawal. (Hr. Al-Nasa’i)

Terdapat perbedaan pendapat antara Imam Syafi'i dengan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah I'tikaf harus dalam keadaan puasa. Namun menurut Imam Syafi'ii tidak harus, karena hadist di atas menjelaskan bahwa Rasulullah memerintahkan istri-istri beliau agar i'tikaf pada 10 hari pada bulan Syawal. 

Keempat, sedekah. Rasulullah pernah ditanya tentang kapan waktu yang utama untuk bersedekah, dan beliau menjawab di bulan Ramadhan.

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Dari Anas dikatakan, “Wahai Rasulullah, Kapan shadaqah yang paling utama? Rasul menjawab, ‘sedekah di bulan Ramadhan”. (Hr. At-Tirmidzi).

Selain itu, juga terdapat kesaksian dari para sahabat Nabi Muhammad SAW bahwa Rasulullah semakin dermawan ketika berada di bulan Ramadhan. Artinya beliau memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. 

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan beliau semakin dermawan ketika bulan Ramadhan,” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Kelima, membayar zakat fitrah. Zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang menjumpai Ramadhan. Baik yang baru lahir maupun yang sudah tua renta. Zakat fitrah merupakan sarana membersihkan hati dan perkataan kotor dari orang yang berpuasa, juga sebagai sarana berbagi makan pada orang miskin. 

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمْرَقَنْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْخَوْلاَنِيُّ وَكَانَ شَيْخَ صِدْقٍ وَكَانَ ابْنُ وَهْبٍ يَرْوِي عَنْهُ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ مَحْمُودٌ الصَّدَفِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibn Abbas berkata: Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai sarana penyucian dari hati dan perkataan yang kotor bagi orang yang berpuasa, selain itu, sebagai bentuk pemberian makan orang-orang miskin. Siapa yang melaksanakannya sebelum shalat, maka akan diterima, sedang siapa yang melaksanakannya setelah shalat idul fitri, maka dianggap sebagai sedekah biasa. (Hr. Abi Daud)

Keenam, melaksanakan umrah di bulan Ramadhan. 

 حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ أُمِّ مَعْقِلٍ عَنْ أُمِّ مَعْقِلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً 

Dari Ummi Ma'qil dari Nabi SAW bersabda: Umrah di bulan Ramadhan pahalanya seperti haji. (Hr. Al-Tirmidzi)

Namun demikian, dikarenakan umrah masih belum dibuka karena adanya wabah pandemi Covid-19, maka untuk sementara tidak perlu berangkat. Jika ada uang lebih, alangkah baiknya digunakan untuk membantu fakir miskin, sedekah ke masjid, dan lainnya.

Ketujuh, membaca dan mengkaji Al-Qur'an. Banyak sekali keutamaan membaca dan mengkaji al-Qur'an, terlebih di bulan Ramadhan yang mana notabene al-Qur'an di turunkan di bulan suci ini.

Penulis: Moh Makmun, Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Jombang