Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Implementasi Tiga Pendekatan Berpikir Kalangan Milenial Hadapi Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi. (josay.org)
Ilustrasi. (josay.org)

Dunia saat ini memasuki gelombang revolusi 4.0. Revolusi industri 4.0 berbicara tentang implementasi teknologi automasi dan pertukaran data dalam bidang industri yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi serta internet, atau yang disebut digitalisasi. Seperti yang telah disampaikan oleh Klaus Schwab Founder dan Executive Chairman World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution bahwa revolusi industri 4.0 sebenarnya ditandai dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, dan perkembangan neuroteknologi yang lebih memungkinkan manusia untuk memaksimalkan fungsi otak. Mereka seolah menjanjikan segala kemudahan yang pasti didapatkan dengan damai.

Dalam menyambut era revolusi industri 4.0 ini presiden Joko Widodo telah merencanakan route map untuk making Indonesia 4.0. Dari adanya route map ini Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri nasional di kancah internasional, serta menjadikan Indonesia sebagai 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia di tahun 2030.

Distruptif teknologi menjadi pola baru dalam revolusi indutri 4.0. Merespons hal ini pemerintah banyak melakukan perombakan kebijakan termasuk dalam dunia pendidikan tinggi. Kebijakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi merespons era disruptif adalah dengan impor guru besar level internasional. Menurut kemenristek dikti kebijakan ini untuk mengejar target dan mendorong perguruan tinggi Indonesia masuk kelas dunia atau world class university. Dengan cara meningkatkan program doktor dan publikasi internasional, dan juga kerja sama riset antar perguruan tinggi.

Kurikulum perkuliahan pun dirombak demi revolusi industri. Untuk mewujudkan Indonesia menjadi kekuatan baru di dunia, revolusi industri 4.0 memfokuskan 4 hal kepada kebijakan perguruan tinggi. Pertama, paradigma tri darma perguruan tinggi harus diselaraskan dengan era industri 4.0. Kedua, reorientasi kurikulum untuk mencakup literasi baru seperti big data, teknologi atau coding, dan humanities. Ketiga, perguruan tinggi harus menerapkan sistem pembelajaran hybrid atau blended learning online. Keempat, hibah dan bimbingan teknis untuk reorientasi kurikulum harus berperan.

Padahal sebelum revolusi industri 4.0 ini kondisi pendidikan tinggi kita masih menyisakan banyak persoalan. Mahalnya biaya pendidikan, atas nama sinergi dunia akademik bisnis dan pemerintah (ABP) dunia pendidikan harus disesuaikan dengan dunia kerja, harus mengikuti kebutuhan pasar, sejalan dengan keinginan para pemodal. Mahasiswa ditargetkan untuk lulus cepat dan terserap dunia kerja dengan baik.

Kelelahan manajerial dan administratif pun kerap dialami para intelektual. Sibuk dalam akreditasi nasional bahkan internasional. Dalam bidang penelitian, intelektual harus berkompetisi dan meraih poin dan koin penelitian. Namun limpahan intelektual yang lulus dari perguruan tinggi tak cukup terlihat mampu mengurangi problem masyarakat yang menggunung. Sementara terealisasinya revolusi industri 4.0 diprediksi akan menimbulkan problem besar. Yaitu pengangguran besar-besaran disebabkan oleh mesin atau robot canggih yang menggantikan pekerjaan manusia. Teknologi mampu menggeser perusahaan besar sekalipun, hingga tidak jarang mereka gulung tikar. Krisis moral dan kemanusiaa, kemiskinan, dan pendidikan semakin mahal dan sulit dijangkau. Parahnya, di tengah tuntutan revolusi industri 4.0 ini presiden Joko Widodo telah menyampaikan akan membuka cabang universitas asing agar perguruan tinggi di Indonesia lebih kompetitif.

Sebenarnya problem pendidikan di negeri ini tidak bisa terlepas dari posisi Indonesia sebagai bagian dari PBB sejak tahun 1950. Akibatnya, Indonesia harus menandatangani segala perjanjian dan kesepakatan termasuk dalam masalah pendidikan tinggi. Indonesia telah meratifikasi konvensi UNESCO pada 16 Desember 1983. Dan pada tahun 2000 atas amanah UNESCO melalui konsep four pilars of educations mengharuskan Indonesia mengikuti konsep yang mendekatkan kepada kondisi masa kerja dan industri. Pemerintah Indonesia juga telah merefitalisasi perjanjian dan komitmen global pada AFTA, WTO, dan GATS, yang juga menjadikan pendidikan sebagai komoditas berorientasi pasar.

Pada tingkat regional ASEAN pemerintah Indonesia telah menyepakati MRA (Mutual Recognition Agreement). MRA adalah kualifikasi bidang profesi SDM yang dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyaratkan pendidikan tinggi harus memiliki akreditasi. Akhirnya KKNI disusun sebagai respond dari ratifikasi ini. Ini semua adalah dampak dari sistem pendidikan Indonesia yang menjadi bagian tak terpisahkan dari desain kapitalisme global yang sekuler, liberal, dan materialistis atau pragmatis yang berorientasi profit. Lalu bagaimanakah nasib intelektual dalam dunia pendidikan tinggi di era revolusi industri 4.0 ini? 

Permasalah di dunia pendidikan kian kompleks akibat berbagai kemajuan teknologi. Dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 ini perguruan tinggi membutuhkan sebuah pendekatan yang lebih integratif dan terstruktur untuk menguraikan permasalahan yang masih mengendap saat ini. Menurut penulis, ada tiga pendekatan yang dapat diimplementasikan untuk merekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi yang responsif terhadap tantangan revolusi industri, yaitu: pendekatan system thinking (berpikir sistem), creative thinking (brrpikir kreatif), dan future thinking (berpikir masa depan). Penulis akan menguraikannya sebagai berikut:

Pertama, pendekatan system thinking (berpikir sistem), yaitu pendekatan holistik untuk analisis yang terfokus pada cara menyusun bagian-bagian suatu sistem yang saling berkaitan dan bagaimana sistem bekerja dari waktu ke waktu. Pendekatan berpikir sistem berbeda dengan analisis tradisional yang mempelajari sistem dengan memecahnya menjadi elemen-elemen yang terpisah (Margaret, 2008). 

Menurut Hidayatno dalam artikelnya yang berjudul “Berpikir Sistem, Pola Berpikir Untuk Pemahaman Masalah yang Lebih Baik”, berpikir sistem dapat memberikan alternatif bagi mahasiswa untuk menganalisa permasalahan kompleks yang fokusnya tidak hanya pada satu komponen saja, namun pada konektivitas antar komponen. Mahasiswa dituntut untuk mampu melihat permasalahan tidak hanya pada permukaannya saja tapi sampai pada akar permasalahan. Pola ini harus selalu diterapkan untuk membiasakan mahasiswa di zaman milenial ini dapat berpikir kritis dan logis.

Sebagai akademisi, mahasiswa seharusnya terampil dalam melakukan riset, baik itu sebagai beban akademik yang harus ditempuh maupun sebagai kebutuhan pribadi. Dengan begitu mahasiswa terbiasa memahami aspek humanitis, komunikasi, desain, dan kreatifitas untuk menemukan solusi. Beberapa aspek tersebut juga tidak terlepas dari kebutuhan literasi yang harus selalu dipenuhi. Sehingga perguruan tinggi harus mampu menciptakan atmosfer kampus yang  ideal sehingga aspek-aspek tersebut dapat bersinergi.

Kedua, pendekatan creative thinking (berpikir kreatif). Menurut Steve Jobs, orang kreatif adalah mereka yang mampu menghasilkan ide-ide baru dengan mengombinasikan, merubah, atau menerapkan kembali ide-ide yang telah ada. Oleh sebab itu, soft skill menjadi potensi utama yang harus selalu diasah. Kemampuan berpikir kreatif selain murni ada pada diri seseorang, juga dapat dibentuk lewat lingkungan. Perguruan tinggi disamping sebagai pencetak pakar keilmuan, juga menjadi tempat lahirnya para kreator unggul.

Peran industri kreatif saat ini menjadi jawaban atas sebagian permasalahan negeri. Industri kreatif mampu mengentas kemiskinan karena membuka peluang kerja sangat besar untuk masyarakat. Gaya hidup digital saat ini diprediksi akan semakin meningkat, sehingga bonus demografi yang menyebabkan banyaknya populasi usia kerja membuat tenaga kerja industri kreatif juga akan meningkat. Persaingan di dunia industri kreatif tentunya menjadi tantangan bagi para milenial untuk selalu berinovasi.  

Ketiga, pendekatan future thinking (berpikir masa depan). Hasil survei kitabisa.com menyebutkan bahwa pada tahun 2017 terdapat 2.500 orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Mahasiswa Indonesia juga menempati urutan pertama di Asia Tenggara dengan mahasiswa terbanyak yang kuliah di luar negeri, jumlah ini terus bertambah tiap tahunnya. Tetapi, di sisi lain, masih banyak siswa di Indonesia yang putus sekolah. Indonesia memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam dunia pendidikan tiap tahunnya. Namun, pada tahun 2018 ada 200.000 anak yang putus sekolah. Ketidak seimbangan ini yang kemudian menjadi ketimpangan sosial-ekonomi.

Sebagai bentuk kontribusi milenial dalam menanggulangi ketimpangan tersebut adalah banyak terbentuknya bisnis start up yang saat ini ditemukan dan dikembangkan oleh para milenial. Mereka para pemilik  bisnis start up rata-rata adalah lulusan perguran tinggi terbaik, baik di dalam maupun di luar negeri. Menurut penulis karena mereka terbiasa berpikir mendalam dan melihat permasalahan dengan detail kemudian mereka mencari solusi yang tepat untuk memecahkannya. Mereka terbiasa berpikir sistem, kemudian mereka berpikir kreatif, sehingga terbentuklah pemikiran masa depan. Banyak bisnis strart up yang mereka bangun adalah untuk tujuan sosial. Karena bisnis yang dibangun oleh para milenial saat ini sangat jauh berbeda dari bisnis masa lalu. Mereka tidak hanya mencoba memaksimalkan keuntungan ketika mereka membangun bisnis, tapi yang menjadi tujuan utamanya adalah bagaimana cara membuat bisnis itu memiliki nilai sosial dan dapat memecahkan masalah terbesar dunia. Pemilik bisnis tidak hanya merekrut pegawainya melalui keahliannya saja, tetapi juga pada seberapa besar jiwa sosial yang dimiliki. Banyak orang yang mengundurkan diri dari beberapa unicorn besar di Indonesia, karena mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan tidak lagi memiliki kontribusi besar kepada perusahaan.

Banyak cara yang dilakukan untuk mempersiapkan generasi milenial dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 ini, terutama pada sektor pendidikan. Pendidikan mampu mengubah peradaban suatu bangsa. Sistem pendidikan akan membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Dalam hal ini, perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencetak generasi milenial yang mampu bersaing di kancah global. Karena di tangan mahasiswalah masa depan bangsa disandarkan. Di usia milenial ini, mahasiswa tidak hanya dipenuhi kebutuhan kognitifnya saja, tetapi kebutuhan soft skillnya juga harus diprioritaskan.

Kesadaran mahasiswa mengenai produktivitas riset harus dibangun. Dibiasakan untuk mahir dalam membuat penelitian, sehingga budaya meneliti benar-benar melekat pada diri seorang intelektual. Jadi, meneliti bukan lagi sebuah momok menakutkan bagi seorang mahasiswa, namun menjadi sebuah kebutuhan.

Milenial diharapkan hadir sebagai pionir dalam mengentas segala ketimpangan yang ada di masyarakat. Untuk mewujudkan harapan tersebut para milenial lulusan perguruan tinggi perlu kiranya membuka akses pendidikan secara digital. Aplikasi Ruang Guru menjadi salah satu bukti kontribusi milenial dalam membangun semangat belajar sebagian generasi muda Indonesia. Akan tetapi sebagian yang lain masih perlu diperhatikan, terlebih di beberapa daerah yang belum tersentuh aliran listrik apalagi jaringan internet.  

Rekomendasi tiga pendekatan berpikir di atas kiranya dapat menjadikan mahasiswa di umur milenial ini dapat menjawab persoalan bangsa. Dengan fondasi pendidikan yang kuat, milenial akan siap menghadapi perubahan dunia dan membentuk masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya teknologi akan memberdayakan manusia, bukan menggantikannya. Dengan begitu, kita semakin optimis bahwa masa depan dunia ada di tangan milenial.

 

Penulis: Aulia Rahmah, mahasiswi pasca sarjana Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang