Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Humor: Sengaja Tidak Menulis Nama Orang Tua

Ilustrasi NU Online
Ilustrasi NU Online

Setelah sekian lama sekolah-sekolah diliburkan karena wabah Covid-19, akhirnya tahun ini pemerintah mengambil kebijakan untuk kembali mengaktifkan pembelajaran tatap muka, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan dengan peralatan pencegahan Covid-19 yang memadai.

Nurdin adalah seorang siswa di salah satu Taman Kanak-kanak (TK) yang tampak paling bersemangat di antara siswa yang lainnya karena akhirnya bisa bertemu dengan teman-temannya sekaligus guru-gurunya.

"Selamat pagi anak-anak," kata salah seorang guru, Siti Badriyah saat menyapa anak didiknya dan hendak memulai pelajaran.

"Pagi bu," jawab semua siswa dengan jumlah 20 anak dengan serentak.

"Alhamdulillah ya, akhirnya kita bisa belajar langsung di sekolah. Ibu senang bertemu dengan kalian semua," ujarnya.

Guru perempuan yang masih tergolong masih muda itu tidak terlalu membahas materi ajar. Karena masih pertemuan pertama, ia lebih mengisi kelas dengan santai. Para siswa disuruh menceritakan pengalaman yang paling disukai saat mereka banyak menghabiskan waktu di rumahnya bersama keluarga.

Teeeeeeeeetttt... Bel berbunyi tanda habis waktu pelajaran. Namun, sebelum ibu guru mengakhiri pertemuannya, ia memberikan tugas kepada anak didiknya, yakni menghafal nama-nama keluarga dengan tepat sekaligus menuliskannya di papan tulis. Dan besok masing-masing siswa harus sudah di luar kepala.

"Ingat ya anak-anak, besok ibu suruh kalian berdiri di depan dan menyebutkan nama-nama keluarga dan menuliskannya dengan tepat, misalnya nama orang tua, adik, kakak, dan seterusnya," ujarnya mengingatkan.

"Siap bu," jawab siswa.

Nurdin adalah siswa yang tekun dan cekatan. Sesampainya di rumah, ia langsung memanggil Ibunya dan menanyakan nama-nama lengkap anggota keluarganya. Maklum saja, setiap hari ia hanya tahu nama panggilannya.

Ibunda pun menyebutkan nama-nama yang ditanyakan oleh Nurdin. "Insyaallah sudah hafal bu. Gampang diingat ternyata nama-nama lengkap keluarga kita," ucap Nurdin.

Keesokan harinya, Nurdin berangkat ke sekolah. Namun, hari ini raut mukanya terlihat kurang ceria, tidak seperti biasanya. Terkait tugas yang diberikan gurunya, ia pun pasrah.

"Selamat pagi anak-anakku. Seperti yang kemarin sudah ibu sampaikan bahwa hari ini ada tugas menghafal nama-nama keluarga kalian dengan lengkap," kata Ibu Siti, panggilan akrabnya.

"Nurdin, silakan maju ke depan dan sebutkan anggota keluarga kamu," timpalnya.

Nurdin pun bergegas ke depan. Lalu menyebutkan anggota keluarganya dengan lantang.

"Nama adik saya Muhammad Alvin (sembari ditulis di papan tulis), kakak (mbak) saya Maimunah Halimah, ibu namanya Fitri Ilmis Sa'adah, dan nama bapak saya...... Maaf bu, saya tidak mau nyebutin dan menulis nama ayah," kata Nurdin.

"Lho kenapa? Lupa atau gimana kamu Nurdin?" tanya Siti.

"Bukan bu, saya tahu nama ayah, tapi tadi ayah tidak memberi uang jajan saat mau berangkat, saya masih jengkel," jawab Nurdin.

"hahahahahaha," semua siswa tertawa mendengar jawaban Nurdin.

"Oalah. Iya, iya," Ibu Siti pun tersenyum sembari geleng-geleng kepala.

 

Ahmad, Redaktur NU Jombang Online