Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Hukum Tanaman yang Tumbuh Berkembang ke Tanah Milik Orang Lain

Deskripsi Masalah
Sebagaimana yang diketahui pertumbuhan beberapa tanaman seperti pisang, bambu dan sejenisnya di sebagian daerah sangat subur dan sangat mudah beranak pinak. Karena mudahnya, ketika tanaman tersebut ditanam di pinggir kebun seseorang, tidak jarang anak tanaman tersebut tumbuh di lahan milik tetangga yang terkadang hal itu dianggap mengganggu.

Pertanyaan
a. Sesuai dengan deskripsi masalah milik siapakah anak tanaman yang tumbuh di lahan tetangga tersebut?
b. Bolehkah menanam tanaman sebagaimana deskripsi masalah, ketika hal itu berakibat mengganggu lahan milik tetangga.
(As’ilah dari MWC NU Kabuh)

a. Jawaban sub a
Tetap milik pemilik pohon, namun pemilik tanah boleh menuntut pemilik pohon untuk mencabut atau memindahkan tanaman tersebut. Jika pemilik pohon tidak mau mencabut atau memindahkan tanaman tersebut maka pemilik tanah berhak mencabutnya.

Referensi
الحاوي الكبير للماوردي ـ ط الفكر (7/ 304)
فَصْلٌ : وَإِذَا حَمَلَ السَّيْلُ بَذْرًا لِرَجُلٍ فَنَبَتَ فِي أَرْضِ غَيْرِهِ ، أَوْ نَوًى ، فَصَارَ غَرْسًا فَهُوَ لِمَالِكِ الْبَذْرِ ،
Terjemah: Ketika ada benih hanyut terbawa banjir kemudian tumbuh di lahan orang lain, maka tanaman tersebut milik orang yang memiliki benih.
الفتاوى الفقهية الكبرى (3/ 166)
إنْ انْتَشَرَتْ عُرُوقُ شَجَرَةِ الْغَيْرِ إلَى أَرْضِهِ جَازَ له مُطَالَبَةُ الْمَالِكِ بِتَحْوِيلِهَا أو قَطْعِهَا من مِلْكِهِ فَإِنْ امْتَنَعَ فَلَهُ تَحْوِيلُهَا فَإِنْ لم يمكن فَلَهُ قَطْعُهَا وَقَلْعُهَا بِنَفْسِهِ وَلَا يَحْتَاجُ إلَى إذْنِ الْحَاكِمِ له في ذلك
Terjemah: Apabila akar tanaman menjalar sampai ke tanah orang lain, maka pemilik tanah boleh meminta pemilik pohon untuk memindahkan atau mencabutnya.bila hal itu tidak di lakukan maka pemilik tanah berhak untuk memindahkanya atau mencabutnya.

b. Jawaban sub b
Tidak boleh.

Referensi
ابانة الاحكام ج 3 ص 157
عَنْ سَعِيْدِ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنه : اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : { مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ الْاَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقَهُ اللهُ اِيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ اَرَضِيْنَ } متفق عليه
Terjemah : diriwayatkan dari Sa’id bin Zaid RA. Bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda : “barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan cara aniaya maka kelak di hari kiamat Allah SWT akan mengalunginya dengan tanah itu sampai tujuh lapis bumi”. (HR. muttfaq ‘alaih)

فقه الحديث:
. اَنَّ الْاَرْضَ اِذَا مَلَكَهَا مَالِكٌ كَانَ لَهُ اَسْفَلُهَا اِلَى تُخُوْمِ الْاَرْضِ وَاَنَّ لَهُ مَنْعُ مَنْ اَرَادَ اَنْ يَحْفَرَ تَحْتَهَا سَرَابًا اَوْ بِئْرًا وَاَنَّ لَهُ بَيْعُ مَا تَحْتَهَا مِنْ حِجَارَةٍ اَوْ مَعْدَنٍ اَوْ نَحْوِ ذَلِكَ وَاَنْ يَحْفَرَهَا وَيَبِيْعَ مِنْهَا مَا شَاءَ مَالَمْ يَضُرَّ بِمَنْ جَاوَرَهُ فَاِنْ اَضَرَّ فَلَا يَجُوْزُ لَهُ ذَلِكَ.
Terjemah: Orang yang memiliki bumi, maka ia memiliki bagian bawah sampai pada dasarnya bumi. Baginya boleh melarang orang lain yang menggali terowongan, atau sumur. Dan orang yang memiliki permukaan bumi, maka ia boleh menjual apa yang ada di dalamnya yang berupa bebatuan atau bangunan, atau barang tambang. Dan baginya boleh menggalinya atau menjualnya sesuai keinginannnya selagi tidak menimbulkan madlorot bagi tetangganya, jika menimbulkan madlorot maka tidak diperbolehkan.

HASIL RUMUSAN AS’ILAH BAHTSUL MASA’IL KE V
LBM NU CAB. JOMBANG
Ahad, 1 Desember 2013 M / 27 Muharram 1435 H
Di MWC NU Jombang