Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Gigi Santri Sehat Dukung Terwujudnya Indonesia Bebas Karies 2030

Ilustrasi santri yang memeriksakan gigi ke tenaga kesahatan (JPNN)
Ilustrasi santri yang memeriksakan gigi ke tenaga kesahatan (JPNN)

Oleh: Drg. Wanda Karisma Diansari, Sp.KGA

Kesehatan gigi seringkali diabaikan oleh masyarakat Indonesia. Padahal kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral  dari kesehatan tubuh. Permasalahan gigi dan mulut merupakan salah satu dari 10 besar masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh masyarakat Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa terdapat 57,6% orang Indonesia yang memiliki masalah gigi dan mulut. Salah satu masalah kesehatan gigi diantaranya adalah karies gigi, terutama santri usia sekolah. Namun, sayang sebagian orang tua, pengasuh maupun pendidik menganggap karies gigi itu hal biasa.

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dengan sistem sekolah asrama, dimana santri tinggal dalam lingkungan yang sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tim Peneliti Universitas Airlangga di suatu pondok pesantren terdapat 90% santri yang memiliki status kesehatan gigi buruk. Artinya sebagian besar santri memiliki karies gigi (gigi berlubang).

Karies gigi disebabkan oleh sisa-sisa makanan dan gula pada permukaan gigi yang kemudian diubah menjadi asam oleh bakteri. Jika asam yang terbentuk semakin banyak dan lingkungan rongga mulut menjadi asam, maka asam inilah yang akan merusak gigi dan menyebabkan karies gigi (gigi berlubang).

Banyak santri yang datang berkunjung ke dokter gigi untuk mengobati giginya saat kondisi giginya sudah berlubang parah. Santri tersebut baru memeriksakan giginya karena terasa sakit dan mengganggu aktivitas sehari-hari atau karena baru diperhatikan orang tua saat pulang ke rumah.

Gigi yang rusak parah tentu berbeda perawatannya dibanding gigi yang rusaknya ringan. Gigi yang rusak parah memerlukan beberapa kali kunjungan hingga giginya sembuh padahal santri memiliki waktu yang terbatas untuk berada diluar pondok pesantren. Akhirnya karena perawatan giginya tidak selesai dan terabaikan, giginya harus dicabut.

Pencabutan gigi bukanlah akhir dari permasalahan gigi yang rusak karena gigi yang hilang harus diganti dengan gigi tiruan untuk menjaga gigi yang lain tetap sehat. Beberapa faktor penyebab karies gigi selain makanan manis dan bakteri, adalah bagaimana perilaku individu saat menyikat gigi.

Diperoleh data dari penelitian sebelumnya, terdapat kebiasaan saling bertukar sikat gigi antar santri padahal sikat gigi bisa menjadi media penularan karies gigi. Bakteri yang menempel pada sikat gigi dapat berpindah dari rongga mulut santri yang satu ke santri lainnya, sehingga jika ada satu santri yang memiliki karies gigi maka akan dengan mudah menularkan karies gigi ke santri yang lain.

Kurangnya pengetahuan terhadap kesehatan gigi dan mulut juga mempengaruhi sikap santri dalam memelihara kesehatan gigi dan mulutnya. Hal ini bisa disebabkan keterbatasan media informasi di dalam pesantren seperti televisi, dan alat komunikasi seperti gadget pribadi yang dibatasi penggunaannya.

Padahal, dalam islam, telah ditunjukkan adanya perintah ataupun anjuran Nabi Muhammad Saw yang berhubungan dengan kesehatan dan kebersihan gigi yang berbunyi:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

Artinya adalah, sekiranya arahanku tidak memberatkan umat mukmin, niscaya aku akan memperintahkan mereka untuk menggosok gigi/bersiwak setiap kali mereka akan mendirikan sholat (HR Bukhari dan Muslim).

Perintah ini menunjukkan bahwa Nabi sangat memperhatikan kebersihan (gigi khususnya) sewaktu akan berkomunukasi dengan Allah SWT. Shalat adalah ibadah wajib yang dilakukan 5 kali dalam sehari, dengan demikian kebersihan gigi akan terjaga sepanjang hari dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit gigi. Hadits tersebut telah menunjukkan bahwa Rasullullah adalah tauladan bagi umat islam yang mengajarkan manusia untuk memelihara kesehatan gigi.

Dalam kasus pada santri, orang tua sebenarnya memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut putra-putrinya.  Namun, karena para mereka tinggal di pondok pesantren maka peran orang tua digantikan oleh peran pendidik dalam membentuk sikap menjaga kesehatan gigi dan mulut. Seharusnya para pendidik di lingkungan pondok pesantren dibekali dengan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang baik agar dapat membimbing santri dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya.

Untuk mencapai gigi santri yang sehat dan mewujudkan Indonesia bebas karies 2030 maka diperlukan dukungan dari orang tua, pendidik dan lingkungan pesantren yang memadai. Perlu diadakan penyuluhan gigi secara berkala di setiap pondok pesantren kepada ustadz dan ustadzah sehingga mereka juga bisa menjadi kepanjangan tangan dari petugas kesehatan untuk selalu memberikan motivasi pada santri dalam berperilaku bersih dan sehat.

Selain itu, ustadz dan ustadzah juga dapat menjelaskan sunnah/hadits atau ayat-ayat dalam Alqur’an yang ada hubungannya dengan kebersihan dan kesehatan sekaligus dapat menjelaskan tentang akibat yang terjadi apabila mengabaikannya. Hal ini bisa ditunjukkan dalam bentuk memberikan kebijakan kepada santri yang selaras antara ajaran islam dan praktik kebersihan gigi, yaitu dengan aturan menggosok gigi sebelum menjalankan sholat dan membaca Alquran.

Dengan hal itu, diharapkan santri Indonesia bebas karies gigi dan memiliki kebiasaan menjaga kesehatan gigi dengan baik.

* Penulis adalah spesialis dokter gigi anak yang saat ini concern terhadap kesehatan gigi santri