Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Gerakan APIK, Upaya Cegah Potensi Penyebaran Penyakit Menular di Lingkungan Pesantren

Suasana santri berada di pesantren. (Foto: Republika.id)
Suasana santri berada di pesantren. (Foto: Republika.id)

Oleh: Joko Tri Rubiyanto*

Pesantren merupakan lokasi yang rentan terhadap resiko potensi penyebaran penyakit menular, hal ini karena pesantren merupakan lingkungan komunal yang selalu terjadi komunikasi di dalamnya. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dirilis pada tahun 2020¹, berdasarkan hasil inspeksi sanitasi menunjukkan lebih dari 50% pesantren di Indonesia tergolong pada kategori resiko “medium”, artinya kawasan pesantren memiliki resiko timbulnya gangguan kesehatan pada rentang 40-95%. Kondisi pesantren yang padat juga dapat memperluas penyebaran penyakit menular, seperti penyakit kulit, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), penyakit menular seksual (PMS), hepatitis, bahkan infeksi virus Covid19 yang saat ini sedang merebak di tanah air.

Dalam pencegahan potensi penyebaran penyakit menular di lingkungan pesantren yang memiliki kerapatan kontak fisik yang tinggi, perlu ada gerakan perubahan. Dalam hal ini yaitu gerakan perubahan yang dilakukan oleh subjek atau elemen perorangan dalam pesantren. Gerakan yang dapat diterapkan yaitu gerakan APIK (Akui, Pahami, Inisiasi, dan Kelola).

Akui, merupakan kegiatan mengenali dan mengidentifikasi kondisi diri. Pengakuan sangat penting untuk dilakukan oleh setiap santri untuk mengetahui lebih awal potensi penyebaran penyakit, dan mencegah adanya kasus-kasus tak terdeteksi. Kita dapat mengambil penyakit kulit, seperti “gudik” atau scabies, yang sering kali ada di lingkungan berasrama layaknya pesantren. Apabila seorang santri yang terjangkit scabies namun tidak mengakui, karena malu misalnya, maka penyakit kulit tersebut akan semakin menyebar dalam lingkungan asrama tempat ia tinggal melalui kasur hingga handuk. Berdasarkan kondisi di atas, santri harus dapat mengidentifikasi apa yang terjadi pada dirinya dengan menghiraukan rasa malu dan mengedepankan kepentingan bersama. Rasa malu atau takut dikucilkan oleh teman-temannya merupakan perasaan yang normal, sehingga perlu dilakukan tahapan selanjutnya untuk mencegah hal tersebut terjadi.

Pahami, adalah sebuah kegiatan untuk menyatukan visi diantara para santri dalam pencegahan potensi penularan penyakit menular. Kegiatan ini menuntut pemahaman secara komprehensif yang dapat dilakukan dari lini paling kecil yaitu kelompok satu ruangan asrama. Kelompok kecil ini harus memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya untuk saling terbuka diantara teman satu kamar. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan absensi kondisi teman satu kamar setiap hari, atau setiap tiga hari sekali. Santri-santri dalam satu kamar dapat melakukan diskusi kecil untuk saling terbuka tentang apa yang terjadi pada diri kita. Bukan hanya bermanfaat untuk pencegahan penyakit menular, kegiatan ini juga dapat berguna untuk memperkuat rasa empati dan rasa memiliki antar santri dalam satu asrama. Dalam forum kecil ini setiap orang dapat berbagi apa yang dia rasakan, seperti kondisi psikologis, fisik, hingga cerita kecil seperti kurang mengerti pada mata pelajaran tertentu misalnya. Setelah kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama, maka pemahaman antar santri mulai terbuka dan tidak perlu lagi ada rasa malu diantara mereka. Hal ini karena sejatinya mereka saling menjaga diri dan mencegah orang lain terjangkit penyakit yang menular. Apabila penyakit menular diketahui pada salah satu atau beberapa orang, maka tahapan selanjutnya perlu untuk dilakukan sebagai langkah kongkrit untuk memutus persebaran.

Inisiasi, yaitu kegiatan langkah nyata yang mulai dilakukan sebagai respon adanya potensi penyebaran penyakit menular. Bukan hanya sebagai langkah dari sebuah kasus, kegiatan ini juga dapat dilakukan untuk mencegah semakin luasnya persebaran penyakit. Pada tahapan ini, salah satu contoh kegiatan yang dilakukan yaitu membuat dan menyediakan kotak obat yang disiapkan untuk penghuni satu kamar. Misalnya, pada kasus di atas yaitu scabies, maka dalam kotak obat harus menyediakan krim khusus scabies. Setiap orang juga harus melakukan pengobatan bukan hanya satu orang yang telah terjangkit penyakit kulit tersebut². Hal ini karena dimungkinkan penyebaran telur kutu yang berukuran mikroskopis telah terjadi. Sehingga, setiap orang harus melakukan perawatan diri dengan krim scabies, melakukan pembersihan area kamar asrama meliputi pencucian bed cover, pembersihan dan penjemuran kasur, dan mencegah penggunaan barang secara bersamaan atau satu orang, satu handuk misalnya. Hal tersebut juga berlaku jika salah seorang santri mengalami gejala Covid19, seperti demam dan kehilangan indera perasa, maka hal yang perlu dilakukan yaitu isolasi dan melakukan tracking aktivitas penderita untuk mengetahui subjek lain yang mungkin tertular. Dalam mewujudkan kegiatan pencegahan yang berkelanjutan, maka perlu dilakukan pengelolaan sistem pergerakan dengan baik.

Kelola atau pengaturan, merupakan tahapan yang bersifat sistem, karena kegiatan ini akan menyelaraskan gerakan pencegahan untuk menjadikan gerakan ini menjadi gerakan yang terus diterapkan di lingkungan pesantren. Setiap pesantren harusnya memiliki Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) sesuai yang termuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2013 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren³. Poskestren merupakan binaan dari Puskesmas terdekat dari lokasi pesantren. Adanya Poskestren dapat menjadi angin segar bagi pesantren dalam menjaga kesehatan warga lingkungan. Namun, pihak pimpinan pesantren perlu mengintegrasikan keberadaan Poskestren dengan santri-santri melalui kegiatan sosialisasi dan pembentukan kader kesehatan hingga lini paling bawah, dalam hal ini yaitu kader kesehatan pada setiap kamar asrama. Adanya kader akan menjadi duta kesehatan yang akan memimpin kegiatan pencegahan penyebaran penyakit menular dari lini yang paling kecil. Seorang kader kesehatan tiap kamar juga wajib melaporkan hasil kondisi kesehatan di lingkungannya Poskestren secara langsung sebagai data kesehatan santri. Dengan adanya kader kesehatan hingga lini terkecil, maka kondisi kesehatan setiap santri akan dapat dimonitor. Selain pencegahan potensi penularan penyakit menular, kegiatan ini juga dapat mengasah santri dalam memimpin teman-temannya dan kemampuan berorganisasi di lingkungan  pesantren. 

Pencegahan potensi penularan penyakit menular di lingkungan pesantren sangat penting untuk dilakukan agar santri dapat belajar dengan baik dalam mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan yang cerdas dan sehat. Adanya pencegahan juga dapat digunakan sebagai senjata untuk mematikan stereotip buruk yang ada di masyarakat mengenai kondisi pesantren, sehingga semakin banyak anak berminat untuk belajar di pesantren. Pada akhirnya, adanya pencegahan potensi penyebaran penyakit menular di area pesantren, maka pembelajaran di pesantren akan lebih intensif, sehat, dan semakin bermanfaat untuk mewujudkan pemuda/i Indonesia yang cerdas dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) juga suci dalam iman dan taqwa (Imtaq) dalam menyongsong Indonesia Hebat. 

¹. Kemenkes Launching Program Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan di Pesantren.2020.https://www.kemkes.go.id/article/view/20042400001/kemenkes-launching-program-peningkatan-kualitas-kesehatan-lingkungan-di-pesantren.html

².  Jangan lagi ada Mitos Kudis di antara Santri.2020.https://www.kemkes.go.id/article/view/19032800001/no-more-myth-of-scabies-among-santri.html

³.  Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2013 Tentang Pedoman  Penyelenggaraan Dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren

*Penulis adalah pemenang lomba Esai Hari Santri 2020 di Kabupaten nomor urut I

Catatan: Judul awal esai ini 'Sakitku, Cukup Untukku: Gerakan APIK (Akui, Pahami, Inisiasi, dan Kelola) dalam Pencegahan Potensi Penyebaran Penyakit Menular di Lingkungan Pesantren demi Mewujudkan Santri Sehat, Indonesia Hebat', tim redaksi menyuntingnya dengan kalimat yang lebih ringkas tanpa menghilangkan substansi judul.