Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Gerak Sistemik NU jelang Sumpah Pemuda 1928

Ilustrasi bendera NU. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi bendera NU. (Foto: Istimewa)

Oleh: Ahmad Samsul Rijal*

Deklarasi janji bersama para pemuda Nusantara dari seluruh entitas agama, suku, bangsa, budaya, dan adat istiadat dengan keteguhan untuk “bertumpah darah, bertanah air, dan berbahasa satu; Indonesia”, menggelora pada 28 Oktober 1928.

Kompleksitas pemikiran, kebatinan dan kesadaran pemuda pergerakan ternyata bisa disatukan dalam satu cita-cita dan tujuan bersama. Perbedaan prinsipil, kepentingan hingga keinginan tidak menghalangi dorongan kuat untuk melawan dan mengubah keadaan; Sumpah Pemuda.

Para pelaku sejarah, pencatat hingga saksi “Janji Setia” itu menyadari, ada situasi batin yang mendorong dan menyatukannya. Ada kesadaran baru yang membentuk dorongan “perlawanan”. Ada mentalitas dan semangat baru untuk segera menyuarakan ; “merdeka!” dari kolonialisme.

Ya, dalam sejarah. kolonialisme dalam berbagai bentuk perwujudan dan praktiknya telah mendesak ulama, kiai, dan santri berbasis pesantren dan komunitas untuk segera bersikap dan bertindak. Situasi ini pula yang melatarbelakangi salah satu alasan terbentuknya jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Satu tahun setelah terbentuk, jam’iyyah Nahdlatul Ulama mendeklarasikan “Perang Kebudayaan” terhadap kolonialisme. Kongres Nahdlatul Ulama ke-2; 9 Oktober 1927 ulama, kiai, dan santri berbasis pesantren dan komunitas (untuk menegaskan akar dan asal dorongan serta semangat) menabuh genderang perang melawan kolonialisme dengan melarang meniru, menggunakan, dan memakai berbagai bentuk/produk budaya kolonialisme, melalui keputusan-keputusan Kongres.

Pelarangan ini untuk mempertegas posisi ‘perhadapan’ antara kedaulatan dan penindasan, antara kebaikan dan kebatilan serta antara mencegah kerusakan dan kewajaran terpaksa. Dalam situasi itu, NU berpegang pada prinsip “man tasyabbaha bi qoumin, fa-huwa min-hum (siapa meniru suatu kaum, maka dia menjadi bagian dari mereka)”. Dan genderang perang kebudayaan itu secepatnya disyiar-sebarkan, dikampanyekan, didakwahkan hingga ke pelosok pribumi Nusantara, bahkan menjadi dorongan baru kaum pergerakan untuk memboikot dan mendelegitimasi segala sesuatu berbau kolonialisme. Keputusan Kongres NU itupun diartikan sebagai legitimasi terhadap kolonial untuk diperangi dan ditundukkan.

Sukses membangun perlawanan, pada 9 September 1928; sebulan sebelum deklarasi Sumpah Pemuda atau tepatnya 51 hari sebelumnya, jam’iyyah Nahdlatul Ulama meningkatkan dimensi dan spektrum perlawanan. Kongres ke-3 NU pada tanggal itu ulama kiai, dan santri memutuskan gelombang tambahan baru “Perang Kebudayaan”, yakni : Perang Ekonomi (mata uang) sekaligus Perang Politik. 2 langkah strategis perlawanan untuk membendung legitimasi ekonomi dan politik (berbau) kolonialisme. Pemikiran dan sikap progresif NU itu tentu bersumber dari ideologi keagamaan ala Aswaja An-Nahdliyyah.
Kampanye perlawanan NU itu disebar-dakwahkan secara intensif hingga membentuk kesadaran baru pergerakan. Maka, 28 Oktober 1928, ketika para pemuda se-Nusantara berkumpul menyatukan pemikiran, kesadaran dan semangat persatuan, bersemboyan “satu tumpah darah, satu tanah air dan satu bahasa; Indonesia”, semua bersatu padu ‘janji setia’ yang digelorakan sebagai “Sumpah Pemuda".

Bersumpah untuk memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan hidup dengan tumpah darah agar merdeka!. Bersumpah pula untuk saling gotong royong, bahu membahu dan satu perasaan sebagai sebuah Bangsa yang terikat tanah dan air untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran!. Bersumpah dengan saling mengikat rasa persaudaraan, kesamaan batin, dan semangat para pribumi untuk bersatu suara dalam bahasa keadilan!

Tema besar Sumpah Pemuda “Semua untuk Satu" dalam persatuan yang utuh dan membangkitkan semangat, diterima oleh masyarakat sebagai babak perjuangan anak bangsa. Diakui atau tidak, Jam’iyyah Nahdlatul Ulama; berisikan ulama, kiai, dan santri telah memberikan landasan kuat bagi tertentuknya kesadaran membangkitkan nasionalisme untuk melawan kolonialisme.

Sejarah 92 tahun lalu ; deklarasi “Sumpah Pemuda” itu masih terngiang dan hidup dalam kesadaran hingga sekarang, bahkan akan terus bangkit dimasa mendatang sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dalam berbagai wujud dan manifestasinya. Pemuda adalah Santri. Santri perwujudan jiwa muda.

Dirgahayu Sumpah Pemuda 2020

Santri adalah Jiwa muda dengan semangat nasionalisme.

Santri adalah ruh pemuda penggerak kebangkitan bangsa.

Bersumpah untuk menjaga kedaulatan bangsa, berjiwa Pancasila untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.
“inhadluu ya ahlal wathon!"

*Penulis adalah Katib Syuriyah PCNU Jombang