Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Gelap Terang

Kartini. (Foto: Istimewa)
Kartini. (Foto: Istimewa)

Oleh Aang Fatihul Islam*

Sore itu langit nampak agak mendung diiringi hujan rintik-rintik dan sesekali kilat menyambar laksana cemeti raksasa yang disabetkan malaikat di angkasa diiringi suara petir menyambar. Ada seorang gadis dari pantai utara jepara bernama Kartini yang sejak kecil punya jiwa penggerak dan berani keluar dari kotak yang selama ini membelenggu hakikat kemanusiaan dan hakikat belajar hidup. Ia mencoba mensinergikan antara langit dan bumi, langit marupakan analogi dari konsep dan ritual sedangkan bumi merupakan analogi tentang realitas kehidupan di bumi Tuhan. Ia merupakan gadis yang rajin mengaji karena ia punya keinginan untuk mendalami  ilmu agama kepada guru ngajinya karena merasa haus akan hakikat dan makna terhadap apa yang selama ini di baca sebagai ritual sehari-hari. Namun karena sang guru terkotak dengan pakem ritual yang sudah menjadi kebiasaan para Kiai waktu itu ia pun hanya mengajari murid-muridnya cara membaca Al-Qur’an tanpa mengajari artinya. Suatu hari Kartini bertanya tentang makna ayat Al-Qur’an kepada guru ngajinya, akan tetapi ironisnya sang guru justru memarahinya dengan nada meninggi. Maka musnah sudah harapannya untuk mengetahui makna Al-Qur’an.

 “Wahai Guru apa makna ayat Al-Qur’an yang baru   saja say baca ini?” Tanya Kartini “Tidak usah kau bertanya makna ayat Al-Qur’an dibaca saja tiap  hari mengerti!!” sang guru memarahi Kartini. Kartini hanya terdiam seribu bahasa karena ia tidak mendapatkan jawaban apa-apa malah amarah yang dating kepadanya. Karena ulah guru ngajinya itu ia menganggap bahwa pelajaran agama hanya ritual belaka tanpa ada makna yang bisa difahami.

Kegiatan ngaji di langgar itu pun usai Kartini dan teman-temannya segera bergegas pulang karena hari nampak semakin gelap. 

Di rumah ia merenung karena nuraninya merasa berontak dengan jawaban sang guru. Ia berfikir bahwa kalau tidak bisa memahami arti Al-Qur’an lalu bagaimana Al-Qur’an bisa mejadi pedoman dan petunjuk bagi umat manusia. Terutama bagai mereka yang tidak memahami bahasa Arab. Bukannya sangat sulit untuk memamahinya. “Duh Gusti Allah berilah hamba petunjuk-Mu agar bisa mendapatkan pencerahan dari semua ini. Hari semakin larut dan Kartini pun merebahkan tubuhnya sampai akhirnyaia tertidur pulas. 

***

Fajar menyingsing, nyanyian burung pagi itu begitu riuh beruforia bersama aktifitas kehidupan manusia yang mulai merayap di bumi Allah. Langit biru dihiasi awan putih yang mengapung di bawahnya. Matahari mulai muncul ke atas bangun dari tidurnya menyapa kehidupan makhluk di dunia. Ketika Kartini sedang melamun di pagi hari tiba-tiba terdengar berita ada seorang Kiai yang memiliki agenda rutin mengisi ceramah keliling ke beberapa keluarga bangsawan di beberapa kabupaten pantai utara Jawa. Kiai itu bernama Kiai Sholeh Darat Assamarani.  

Atmosfer udara bergelayut berhembus lembut di sela-sela jendela. Hati Kartini tetap gelisah tak karuan, hinggah akhirnya ia dituntun hatinya untuk berkunjung ke rumah pamannya Pangeran Ario Hadiningrat yang merupakan bupati Demak. Tampa diduga ia tiba-tiba mendengarkan suara ceramah.

Ternyata ada sebuah kebetulan yang terjadi, mempertemukan kegelisaan pencarian Kartini dengan pijar cahaya yang akan menuntunnya. Ia menyaksikan ternyata saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus anggota keluarga. Ia dengan seksama ikut mendengarkan pengajian bersama para raden ayu yang lain dari balik hijab. Saat Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun sehinggah seakan sepanjang pengajian ia tak sempat memalingkan mata dari sosok sang Kiai. Telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan pada ceramah. Ia serasa merasa mendapat pencerahan dan percikan ilmu karena selama ini merasa hanya bisa membaca Al-fatihah tanpa pernah  tahu makna ayat-ayat itu. Menurut panilainnya Sang Kiai mampu menerjemahkan sekaligus menafsirkan surat Al-Fatihah secara gamblang hingga mudah difahami orang awam. 

***

Hati Kartini begitu bergetar saat menyimak kata demi kata yang meletup kuat di hati sanubarinya. Menjelma menjadi kekaguman untuk terus meneguk butiran-butiran tetesan ilmu yang dipercikkan Sang Kiai. Karena kekagumannya pada sang Kiai, selepas pengajian Kartini pun meminta tolong pada pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kiai Sholeh Darat. Dalam pertemuan itu Kartinipun mengeluarkan segala isi hatinya agar bisa terpecahkan lewat keluasan ilmu sang Kiai. Dengan segala keberanian Kartini berkata: “Saya merasa perlu menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Romo Kiai. Saya bersyukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas keberanian Romo Kiai menerjemahkan surat Al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah difahami  dan dihayati oleh masyarakat awam, seperti saya. Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu, sebab kata mereka Al-Qur’an tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain atau bahasa Jawa.” 

Lalu Kartini lebih lanjut menjelaskan “Selama ini Surat Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikitpun akan maknanya, tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai pada makna yang tersirat sekali pun, karena Romo Kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya fahami.”  “Alhamdulillah syukurlah kalau begitu” Jawab Kiai Sholeh Darat.

Karena semakin merasa tercerahkan dari gelap menjadi terang akhirnya Kartini pun beberapa kali mengikuti pengajian tafsir Kiai Sholeh Darat. 
Dalam salah satu pengajian secara tersirat Kartini memohon gurunya itu agar menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Karena bagi Kartini tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahuai artinya. Permintaan tersebuut mendapat respon positif dari sang Kiai sehingga Kiai sholeh Darat pun tergerak untuk menulisakan terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. ”Mohon maaf Romo Kiai menurut pendapat saya Al-Qur’an akan lebih bermanfaat ketika maknanya bisa difahami oleh orang-orang Jawa yang ingin mendalami makna Al-Qur’an. Sehinggah Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan sebagai ritual belaka. Menurut saya Romo Kiai sangat pantas dan layak melakukan tugas mulia itu”  “Hemmm kalau dipikir-pikir pendapat kamu benar juga Kartini, Al-Qur’an harus bisa membumi agar tersampaiakn dengan baik pesan yang termaktub di dalamnya. Baiklah aku akan menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa.” Jawab Kiai Sholeh Darat. Atas permintaan Kartini akhirnya Kiai Sholeh Darat tergugah kesadarannya untuk melakukan pekerjaan besar menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa.

***

Awan nampak menghitam mengapung di bawah langit sebagai pertanda hujan akan turun. Suasana tanah air pada waktu itu sangat tidak kondusif, Penjajah Belandah secara resmi melarang orang-orang pribumi menerjemahkan Al-Qur’an. Bahkan mereka tak segan-segan membakar terjemahan Al-Qur’an baik yang ditulis dalam aksara latin maupun aksara Jawa. Atas situasi tersebut Kia Sholeh Darat menggunakan kecerdasan berfikir dan ketajaman hati untuk memikirkan strategi agar tidak terbaca oleh Belandah. Karena keluasan ilmunya Kiai Sholeh Darat tak kehabisan akal, ia mencari solusi untuk mengelabuhi penjajah Belandah yang durjana. “Aku akan menerjemahkan Al-Qur’an ini dalam bahasa Jawa akan tetapi menggunakan aksara Arab (pegon) agar terjemahan ini tidak dilacak Penjajah Belandah sebagai terjemahan akan tetapi dianggap sebagai Al-Qur;an”. Gumam hati Kiai Sholeh Darat. 

Sang Kiai akhirnya menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf arab gundul tetapi berbahasa Jawa (pegon) sehinggah terjemahan yang ditulisnya tak dicurigai Penjajah Belandah karena dianggap Al-Qur’an yang menurut pemahaman  orang-orang segala yang berbahasa Arab adalah Al-Qur’an. Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama ‘Kitab Tafsir Faid Ar-Rahman’, sebagai tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa dengan aksara Arab. Setelah selesai dicetak, Kiai Sholeh Darat memberikan hadiah kitab tafsir ini kepada Kartini dalam acara tasyakuan pernikahannya dengan R.M. Joyodinngrat, seorang Bupati Rembang.

Atas gagasan dan dorongan Kartini, Kiai Sholeh Darat semakin terbuka untuk menulis karya-karya yang lain, ia banyak menulis buku dengan menggunakan tulisan pegon. Ia hanya sekali menulis dengan menggunakan bahasa arab. Ikhtiar seperti ini adalah agar karya-karyanya bisa difahami dicerna dengan baik oleh masyarakat awam secara luas. Ia merupakan pelopor ulama yang menulis buku agama dengan menggunakan bahasa Jawa. Tak heran apabila masyarakat awam kala itu sangat terbantu dengan kehadiran buku-buku karya Kiai Sholeh Darat. Sehinggah buku-buku Kiai Sholeh Darat pun menjadi pegangan utama sebagai bahan ajar di pesantren dan langgar di Jawa. Guru idola Kartini akhirnya menjadi ulama visioner yang memiliki kontribusi luar biasa terhadap tersedianya referensi keislaman yang mudah difahami dan dekat dengan masyarakat awam.

Suasana gelap yang menyelimuti hati Kartini menjadi terang atas percikan-percikan pencerahan sang Kiai. Pengajian yang telah ia dengarkan dengan penuh kehidmatan telah merubah pakem-pakem yang membelanggu Kartini selama ini, hinggah ia bisa keluar dari kotak bagaikan burung yang bisa terbang setelah keluar dari sangkar emas, menjamah hakikat kehidupan. C*kup lama perjalanan dari gelap menuju terang yang telah ia lalui demi menemukan ketenangan hatinya dalam memperoleh keimanan dan mengerti maksud ajarannya sehingga ia menjadi seorang muslimah yang taat dalam menjalani agamanya.
Karena ketajaman hati dan kecerdasan fikirannya Kartini selalu menuliskan setiap peristiwa penting yang dialaminya kepada sahabat-sahabat penanya yang mayoritas didominasi oleh orang-orang Eropa. Bahkan nama-nama penting yang berpengaruh dalam hidupnya biasanya digoreskan dalam penanya. Ketika membaca buku ‘Door Duistenis tot Licht’ (Kumpulan Surat-surat Kartini) yang disusun oleh M.R J.H. Abendanon kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Armin Pane menjadi ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Surat-surat yang ditulis Kartini diambil dari intisari ayat Al-Qur’an. Ia mencoba menyejikan bahasa Al-Qur’an dengan bahasa bumi yang menyatu dengan perjalanan kehidupan. Ia menyajikan intisari Surat Al-Baqoroh: 157 ‘Allahu Waliyyul Ladziina Aamanuu Yukhrijuhum Minadz Dhulumaati Ilan Nur” yang artinya ‘Allah Pelindung Orang-orang yang Beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegalapan (kekafiran) menuju cahaya (iman)’.

Pengalaman spiritual Kartini sejak terinspirasi dari Kai Sholeh Darat yang merupakan Maha Guru Ulama Besar Nusantara yang atas dorongannya telah menerjemahkan Al-Qur’an yang pertama kali di Nusantara dengan bahasa pegon. Maka ia tak mau ketinggalan dengan jejak literasi sang Kiai. Ia berliterasi dengan cara mensinergikan bahasa Al-Qur’an yang disajikan dengan bahasa surat yang mudah diterima oleh masyarakat. 
“Meski dibaliknya banyak kepedihan dan kegagalan. Tapi bukankan kegelapan ini justru membuat cahaya itu tampak terang.

“Tetapi sekarang kami berpegang teguh pada tangan-Nya. Kepada Dia tiada putus-putusnya kami arahkan pandangan kami. Dia akan mengemudikan kami, mempertimbangkan  dengan penu kasih sayang. Dan disitulah gelap menjadi terang, angin rebut menjadi angin sepoi-sepoi.”

“Kasihan hati yang tersikasa itu, yang selalu menjerit dan teramat sedih dan gentar: “Apakah kuwajiban saya?” tidak ada jawaban atas pertanyaan itu, karena yang member jawaban masih meraba-raba dalam gelap gulita, terangilah, terangilah! Tuhanku! Dan bantulah kami! Kami tidak tahu bagaimana dan kemana jadinya ini semua nanti.”

“Sekarang tidak lagi hati sanubari kami, perasaan damai yang hening dan tenang telah turun ke dalamnya. Dalam gelap dank abut itu terlihatlah suatu baying-bayang yang bersinar-sinar denga indahnya dan melambai-lambai dengan ramahya. Itulah cita-cita kami!”

“Dan dengan sangat sungguh-sungguh terdengarlah suaranya mengatakan; “Berpuasalah satu hari satu malam dan janganlah tidur selama itu, juga harus mengasingkan diri di tempat yang sepi.”

“Habis malam datanglah cahaya, 
Habis topan datanglah reda
Habis juang datanglah mulia
Habis duka datanglah suka.”

“Berdasau-desaulah dalam telinga saya sebagai rekuiem.
Itulah maksud dan buah pikiran yang terdapat dalam kata-kata berikut; “Dengan berkekurangan, menderita dan tafakur akan diperoleh nur cahaya! Tidak ada cahaya, yang tidak didahului oleh gelap. Bagus bukan! Menahan nafsu adalah kemenagan rohani atas jasmani. Dalam menyepi orang dapat belajar berfikir.”

“Tidak mungkin ada cahaya yang terang tanpa didahului dengan gelap gulita itu pelajaran yang diperoleh dari hari ke hari, dari malm ke malam. Pelajaran siang dan malam!”

“Cahaya Tuhan ada dalam diri manusia, dalam apa saja, bahkan juga dalam sesuatu yang nampaknya paling buruk.”

Gelap menjadi terang, bagaikan pijaran cahaya yang selalu menuntun manusia ke jalan-Nya. Kartini menebarkan pijaran-pijaran cahaya lewat surat-suratnya. Ia bermetamorfosis bersama fenomena kehidupan yang merayap dalam panggung-panggung sandiwara, dalam panggung-panggung fatamurgana, dalam panggung-panggung kegelapan. Membawanya menuju lorong-lorong cahaya yang menuntun manusia-manusia lain menuju jalan-Nya yang terang.Ia menjadi inspirasi banyak orang karena sepak terjangnya, dokumentasikan letupan-letupan kegelisahannya dalam meneropong hakikat kehidupan lewat tulisan-tulisan yang dikenang sepanjang masa.

 

*Penulis adalah Ketua Lingkar Studi Santri (LISSAN), Ketua PC LDNU Jombang dan Dosen STKIP PGRI Jombang 

Cerpen ini juga dimuat dalam buku Lorong Purnama.