Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Cara Umar Menghindarkan Anaknya dari Syubhat

Ilustrasi
Ilustrasi

​Oleh Ali Makhrus*

Umar bin Khoththob selain dikenal dengan kesederhanaan, Kholifah kedua ini juga sangat hati — hati terhadap sesuatu yang tidak jelas (syubhat). Secara umum syubhat merupakan sesuatu yang kedudukan hukumnya masih samar, halal atau haram.

Dikisahkan, suatu hari Umar ra mendapatkan minyak dalam bejana yang besar dari Syam. Minyak itu lalu dibagikan kepada rakyatnya. Putra Umar yang masih kecil ada di tempat itu. Setiap kali minyak dalam satu bejana itu habis dibagikan, putra Umar memasukkan tanganya ke dalam bejana itu. Ia lalu mengusapkan tanganya yang basah dengan minyak ke rambutnya.

Umar tidak suka melihat kebiasaan anaknya tersebut. Ia lalu berkata padanya, “Rupanya, kamu suka minyak kaum muslimin ?!”. Umar lalu menuntun anaknya menuju tukang cukur, kemudian rambut anaknya dicukur dengan rapi. Umar lalu berkata pada anaknya, “Anakku, itu lebih baik bagimu dari pada menggunakan minyak kaum muslimin untuk meminyaki rambutmu !”.

Sejalan dengan kisah di atas, dalam sebuah hadits diriwayatkan, “dari Abi Abdillah An-Numan bin Basyir ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya yang halal itu jelas da yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar — samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar — samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam wilayah samar — samar maka ia telah terjerumus ke dalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir — hampir dia terjerumus ke dalamnya.

“Ingatlah, setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Allah apa — apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah, bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati” HR. Bukhori dan Muslim)

Wallahu alamu bis showab. Semoga bermanfat.

Dioalah dari berbagai sumber:
Ariany Syurfah, 365 Kisah Teladan Islam; Sehari Satu Kisah Selama Setahun, Cet-1, Jakarta: Penebar Swadaya, 2010, hal 142)

Ibnu Daqieqiel Ied, Syarah Hadits Arbaiin Nawawi; Penjelasan 40 Hadits Inti Ajaran Islam, Cet-1, Depok: Fathan Prima Media, 2013, hal 40).

*Penulis adalah kader NU asal Madiun  Jawa Timur