Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Berawal dari Ngopi, Berakhir ke Baca Buku dan Main Musik

Muiz, kader PMII yang juga pemilik kedai kopi
Muiz, kader PMII yang juga pemilik kedai kopi
NU Jombang Online, 
Menjadi pengusaha sukses tentu saja menjadi impian banyak orang. Berbisnis apalagi tujuannya jika bukan soal mendulang rupiah sebanyak-banyaknya? Namun, Muizzuddin Mumtaz Ahmad atau akrab dipanggil Muiz ini melangkah dalam dunia bisnis dengan hati lapang, melihat sekeliling dengan untuk melakukan survey singkat tentang apa yang disukai oleh sekelilingnya. Dari situlah dia memulai usaha.
 
Muiz kini berusia 23 tahun. Ia berdomisili di Jl Sumobito Peterongan Jombang RT 13 RW 02. Ia kini dikenal sebagai pengusaha muda yang sekaligus masih berstatus mahasiswa.
 
Sebelum memulai usahanya, Muiz hanyalah seorang mahasiswa Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) yang juga aktif sebagai aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)). Walau dulunya terkenal dengan pola pikir kritis dan sifatnya yang egois. Namun kini berubah setelah ia menjadi pengusaha kedai kopi dan memiliki peran besar sebagai kader PMII.
 
Kedai kopi ini diberi nama Ndoweh coffee. Kedainya tak besar, tapi karena tempatnya yang nyaman banyak anak muda untuk berdiskusi dan mencari inspirasi disini.
 
Tak hanya kopi yang dijual, Muiz memberikan daya tarik warung kopinya dengan beberapa buku untuk dibaca ditempat secara gratis. Jika ingin memainkan alat musik tradisional, Muiz juga menyediakan. Jadi, pengunjung tidak hanya ngopi dan nongkrong saja, melainkan juga mengasah bakatnya dalam memainkan alat musik dan bersantai membaca buku..
 
"Mulai usaha ini ketika menjadi ketua PMII rayon FBB (fakultas bisnis dan bahasa), karena di masa 2016-2017 itulah saya mendapatkan banyak inspirasi dan relasi," ujar Muiz saat bercerita pengalamannya.
 
Awalnya, dibantu kerabat yang juga sesama mahasiswa, Muiz mulai membuka sebuah kedai kopi. Tak ingin meanstream dengan kedai kopi yang ada di sekitarnya, Muiz menyediakan buku dan alat musik tradisional untuk dimainkan pengunjung kedainya. Harapannya, mereka tak hanya datang ngopi, tetapi juga mencari inspirasi sekaligus asah bakat.
 
Pemasarannya berjalan dari mulut ke mulut. Mulai dari teman kampusnya hingga menyebar keseluruh anggota PMII yang sudah lebih dulu tahu kedai miliknya. 
 
Minuman di kedai kopi milik Muiz sangatlah bervariasi. Dari kopi unyil,latte, nominal dan lain sebagainya. Ia menggunakan kopi racikan untuk rasa kopi yang nikmat. Tak ingin menggunakan kopi instan untuk penggemar kopinya, Muiz tak pernah letih belajar mengelola kedainya.
 
Menurutnya, dirinya siap dan terbuka dalam mewadahi kader PMII yang ingin belajar dan mencari inspirasi di kedainya. Ia juga membuka diri untuk sebuah pementasan seni atau bedah buku di kedai miliknya dengan senang hati. 
 
Kontributor : Muhammad Faiz
Editor : Fitriana